Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

UB Perkuat Relasi Lintas Generasi Lewat Workshop Shibori dan Pameran Instalasi Batik Inklusif Bambang Saraseno

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 20 November 2025 | 19:47 WIB
Photo
Photo

MALANG, JP Radar Kediri - Workshop Shibori–Scarf Batik Ikat menjadi pusat perhatian dalam rangkaian Pameran Instalasi Batik oleh Bambang Saraseno yang digelar Universitas Brawijaya(UB) pada Minggu (16/11/2025), di Gedung Auditorium Lantai 1 UB. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan Dies Natalis UB ke-63 dengan mengusung tema TITIRASI 2025: Rasi, Relasi, dan Saudara Lama yang Terlupa, menghadirkan peserta dari berbagai kalangan seperti anak-anak ABK, Duta Kebudayaan Kota dan Kabupaten Malang 2025, Duta Kebudayaan Cilik Malang 2025, serta Putra Putri Kebudayaan Jawa Timur 2025.

“Saya tumbuh dengan banyak keterbatasan, tetapi melalui kegiatan-kegiatan yang saya jalani sejak kecil, saya belajar untuk berani tampil,” kata Bambang Saraseno. 

Sambutan tersebut memberikan nuansa reflektif bagi peserta sekaligus menekankan bahwa seni dapat diakses oleh siapa pun.

Rangkaian pembuka dilanjutkan dengan penampilan kreatif dari Little Star, kelompok vokal anak-anak Kakang dan Mbakyu Kota Malang. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan maestro lagu klasik oleh “Galejo” yang sekaligus menjadi penghibur bagi anak-anak dengan sesi permainan tebak lagu daerah di Indonesia.

Penampilan ini memberikan suasana hangat dan atraktif sebelum peserta memasuki sesi utama yang dinantikan, yaitu workshop dan praktik membatik bersama.

Memasuki agenda utama, Workshop Shibori–Scarf Batik Ikat, dipandu oleh Amalita Saputri S.Ars., Mds yang merupakan dosen dari Fakultas Vokasi UB sekaligus merupakan owner dari usaha fashion batik jumputan bernama “Serasi”. Amalita memulai materi dengan memperkenalkan sejarah dan teknik batik jumputan yang awalnya populer di Jawa dan Sumatra. 

“Di Jawa, teknik pengikatan biasanya menggunakan karet, dan ikatannya harus benar-benar kuat agar warna tidak merembes,” jelasnya. 

Dia juga memaparkan perkembangan batik yang kini bertransformasi dari kebutuhan upacara adat menjadi tren fashion kontemporer dengan berbagai modifikasi motif.

Selain aspek teknis, Amalita menyampaikan strategi pengembangan bisnis batik agar dapat bersaing di pasar modern. 

“Diferensiasi motif, kolaborasi dengan desainer, pemasaran digital, serta menjaga kualitas bahan menjadi elemen penting dalam industri batik saat ini,” paparnya. 

Dia menjelaskan perbedaan antara batik jumputan dan shibori, di mana shibori berasal dari Jepang dengan motif lebih kompleks dan eksperimental, sementara jumputan menonjolkan kesederhanaan tanpa penggunaan lilin yang merupakan asli hasil kebudayaan Indonesia.

Setelah sesi materi, acara berlanjut ke praktik langsung membuat karya batik, yang menjadi bagian paling interaktif dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa Vokasi UB mendampingi peserta dalam proses pengikatan kain, pencelupan warna, hingga pembentukan motif. Antusiasme peserta terlihat dari bagaimana mereka mencoba berbagai pola dan mengamati perubahan warna pada kain yang mereka kerjakan.

Di waktu yang sama, panitia menghadirkan talkshow sharing session bersama para duta kebudayaan. Dalam sesi ini, para duta berbagi pengalaman mengenai peran mereka dalam pelestarian budaya dan pentingnya memperkenalkan batik kepada generasi muda.

Kombinasi antara praktik membatik dan sesi berbagi pengalaman tersebut menciptakan suasana kolaboratif yang mencerminkan tema TITIRASI 2025, yaitu bagaimana relasi antar individu dan antar generasi dapat terbentuk melalui kegiatan seni.

Melalui kegiatan ini, Universitas Brawijaya tidak hanya menampilkan karya instalasi batik, tetapi juga menghadirkan ruang edukasi, apresiasi, dan interaksi yang relevan bagi masyarakat luas. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan apresiasi kepada seluruh peserta, sekaligus menegaskan komitmen UB dalam melestarikan budaya melalui pendekatan kreatif dan inklusif.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#malang #kebudayaan #kampus ub #Dies Natalis #ub