MALANG, JP Radar Kediri - Universitas Brawijaya (UB) menghidupkan kembali semangat budaya lokal melalui kegiatan bertajuk “Nguri-uri Budoyo Pawon: Revitalisasi Pawon di Kampung Lingkar Kampus (KLK)” dalam rangka Dies Natalis ke-63. Acara yang berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis (5–6/11/2025), di Jalan Kerto Pamuji, Kelurahan Ketawanggede, Lowokwaru, Kota Malang menampilkan perpaduan budaya, kuliner, dan edukasi masyarakat.
Dekorasi acara mengusung nuansa tradisional Jawa yang kental, dengan ornamen pawon (dapur tradisional) lengkap dengan tungku tanah liat, wajan besi, dan alat masak berbahan kayu bakar. Suasana ini menghadirkan kesan nostalgia yang kuat, seolah membawa pengunjung kembali ke akar budaya masyarakat agraris Jawa, di mana dapur bukan hanya tempat memasak, melainkan juga pusat kehidupan keluarga.
Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan Nguri-uri Budoyo Pawon tidak sekadar bernuansa budaya, tetapi juga memiliki pesan penting tentang ketahanan pangan dan gizi masyarakat.
“Pawon adalah tempat meramu kebutuhan konsumsi sekaligus ruang interaksi sosial.
Dari ruang paling privat dalam rumah tangga inilah nilai-nilai kebaikan dapat dimulai. Jika dapur kita baik, maka budaya yang lahir dari sana juga akan baik,” ujarnya
Lebih lanjut, Tri Wahyu menjelaskan bahwa pawon mencerminkan keseharian masyarakat, sekaligus menjadi ruang belajar tentang budaya dan nilai hidup.
“Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin memastikan bahwa asupan gizi masyarakat, termasuk mahasiswa, benar-benar terjamin, sekaligus menanamkan kesadaran budaya yang tumbuh dari hal-hal sederhana,” tambahnya. Kegiatan semakin istimewa dengan kehadiran Trie Utami, vokalis legendaris grup musik Krakatau, yang tampil sebagai pembicara inspiratif sekaligus bintang tamu.
Dalam sesi reflektifnya, Trie menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif UB dan IKA UB dalam menghidupkan kembali makna dapur. “Dapur adalah cermin keberdayaan keluarga urban. Dari dapur, kita belajar banyak hal: nilai kebersamaan, doa, bahkan ketahanan pangan. Dapur bukan sekadar ruang fungsional, tapi ruang spiritual dan sosial,” ungkapnya.
Ia menambahkan, di tengah kehidupan modern, keberadaan dapur tradisional justru semakin relevan untuk dihidupkan kembali. “Jika diadaptasi dengan nilai-nilai keberlanjutan dan kesadaran lingkungan, pawon bisa menjadi ruang penting dalam membangun gaya hidup sehat dan berkelanjutan,” tuturnya.
Selain membawa perspektif budaya dan spiritual, acara Nguri-uri Budoyo Pawon juga menonjolkan aspek edukatif. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya, melalui narasumber Yuli Ekowati, mengisi sesi penyuluhan bertajuk “Keamanan Pangan untuk Keluarga: Waspadai Bahaya di Sekitar Kita.” Dalam pemaparannya, Yuli mengingatkan pentingnya kesadaran keluarga terhadap bahan pangan yang aman dan bebas dari pengawet berlebih.
“Kesehatan keluarga dimulai dari dapur. Karena itu, kita harus cerdas dalam memilih dan mengolah bahan makanan,” ujarnya. Sementara itu, Prof. Dr. Sucipto, STP., MP., IPU., dari Lembaga Pemeriksa Halal UB, membawakan materi bertema “Konteks Halal dan Spirit Dapur dalam Pemilihan Makanan Saji.” Ia menekankan bahwa dapur bukan hanya tempat pengolahan makanan, tetapi juga memiliki makna spiritual.
“Dapur merupakan tempat awal keberkahan makanan. Prinsip halalan thayyiban adalah bentuk kearifan budaya sekaligus keimanan yang harus dijaga dalam setiap rumah tangga,” terangnya.
Dari sisi kebudayaan, Redy Eko Prastyo, perwakilan Kompartemen Kebudayaan IKA UB sekaligus penggagas kegiatan, menjelaskan bahwa inisiatif Nguri-uri Budoyo Pawon lahir dari keprihatinan terhadap makin berkurangnya peran dapur dalam kehidupan modern.
“Makna dapur sering kali tereduksi menjadi sekadar tempat memasak. Padahal, dapur adalah episentrum kehidupan ruang di mana nilai, kisah, dan tradisi diwariskan lintas generasi,” katanya.
Redy menilai bahwa revitalisasi pawon merupakan bentuk nyata kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam mengembalikan fungsi sosial dan kultural ruang domestik. “Melalui pawon, kita belajar gotong royong, solidaritas, dan kreativitas kuliner. Dari dapur pula lahir ketahanan budaya yang sesungguhnya,” tambahnya.
Kegiatan tersebut juga mendapat apresiasi dari Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Endah Budi Heryani, S.S., M.M., yang menilai bahwa konsep Nguri-uri Budoyo Pawon sejalan dengan program pemerintah dalam pelestarian budaya berbasis komunitas. “Pawon bukan sekadar warisan benda, tapi warisan nilai. Revitalisasi pawon berarti menghidupkan kembali semangat kebersamaan dan keberlanjutan budaya di tengah masyarakat modern,” ujarnya.
Selain pameran dan penyuluhan, kegiatan juga diisi dengan nonton bareng tiga film karya sineas muda Indonesia yang diproduksi oleh Indonesiana TV, termasuk film karya sutradara asal Malang. Film-film tersebut mengangkat tema budaya dan kehidupan masyarakat urban, menjadi penutup acara yang reflektif dan sarat makna. Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari akademisi, pelaku UMKM, komunitas budaya, hingga masyarakat sekitar kampus, menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan secara inklusif dan partisipatif.
Dengan semangat kolaborasi lintas lembaga dan komunitas, Nguri-uri Budoyo Pawon diharapkan menjadi langkah awal gerakan pelestarian budaya berkelanjutan yang bermula dari ruang paling sederhana: dapur keluarga. Dari pawon, nilai kebersamaan, kemandirian, dan kearifan lokal terus dihidupkan untuk memperkuat jati diri bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.
Editor : Anwar Bahar Basalamah