Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Budaya Lintas Negara Indonesia-Malaysia (18): Rumah Jawa Kuno Selalu Berpegang pada Estetika

rekian • Kamis, 31 Juli 2025 | 05:05 WIB

KLASIK: Rumah Tradisional Jawa di Ngronggot, Nganjuk.
KLASIK: Rumah Tradisional Jawa di Ngronggot, Nganjuk.
KEDIRI, JP Radar Kediri- Konsep utama arsitek rumah Jawa adalah kesederhanaan. Tidak berlebihan. Estetikanya terwujud dalam bentuk harmoni serta keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. 

Wikan Sasmita, dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri menjelaskan, estetika itu berlandaskan pada filosofi yang tidak hanya mengedepankan kesederhanaan tetapi juga simetri dan keindahan. Selain itu, estetika arsitektur Jawa tidak menampakkan sifat individualistik seperti seni modern. Melainkan bersifat kolektif, ritualistik, dan spiritual. 

 Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (17): Gelar Upacara Munggah Molo saat Mendirikan Rumah

“Mewakili harmoni dan mikrokosmos,” ungkapnya. Bahkan setiap elemennya memiliki arti dan makna yang mendalam. Baik dari strukturnya, bahan yang digunakan, hingga ornamen-ornamennya. Semuanya bagian dari bentuk ekspresi kepercayaan dan pandangan hidup. 

Misalnya, ada motif kawung yakni lingkaran bunga teratai yang menjadi ornamen rumahnya. Hal itu menjadi lambang kehidupan, kesuburan serta keberanian. Setiap motif bukan hanya sekadar hiasan tetapi menyimpan nilai spiritual dan menghubungkan dengan alam semesta.      

Adapun bahan bangunan yang kerap dipakai seperti kayu jati, batu alam, dan tanah liat digunakan karena awet. Selain itu nilai simbolik yang terkandung di dalamnya seperti kayu jati adalah melambangkan keteguhan dan keabadian. Kemudian batu alam seringkali diasosiasikan dengan kestabilan dan ketahanan terhadap godaan duniawi.

Karena itu simbolisme di rumah tradisional Jawa itu menjadi representasi interaksi manusia dengan dunia spiritual. Sebab, setiap elemen bangunan tidak hanya berfungsi secara fisik tetapi juga sebagai medium untuk berhubungan dengan alam gaib.

Penggunaan bahan-bahan bangunan pada arsitek rumah Jawa Kuno harus tampak selaras dan simetri. Hal ini berkaitan dengan estetika. Desain rumah yang simetris ini harus tampak ideal pada struktur dan elemen hiasannya. Simetri ini mencerminkan prinsip keseimbangan antara berbagai kekuatan kosmik yang ada. 

Selanjutnya, arsitek Jawa Kuno selalu menghindari kemewahan berlebihan. Maksudnya adalah desain yang sederhana memiliki nilai nrimo yang berarti menerima apa adanya. Dan eling yakni kesadaran diri. Nrimo dan eling menjadi inti dari proses menjalani hidup.

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (14): Bangunan Rumah Jawa Kuno, Manifestasi Budaya
Terakhir adalah keterhubungan dengan alam. Penggunaan bahan alami seperti kayu, batu dan rumah tanah liat memiliki simbol yang tak hanya kekuatan tetapi juga dianggap sebagai simbol keabadian dan keharmonisan antara manusia dengan alam.  “Estetika Jawa adalah cara untuk menjaga harmoni dengan alam dan menyatakan rasa syukur kepada Tuhan atas segala karunia yang ada,” tutup Wikan.

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#estetika #kediri #jawa kuno #lintas negara #indonesia-malaysia #warisan #simposium internasional #rumah Jawa kuno