Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (12): Pasar Setonobetek Penyangga Ekonomi di Era Mataram

rekian • Jumat, 6 Juni 2025 | 01:44 WIB

IKONIK: Pasar Setonobetek jadi pasar besar di era Kesultanan Mataram.
IKONIK: Pasar Setonobetek jadi pasar besar di era Kesultanan Mataram.
KEDIRI, JP Radar Kediri- Wilayah Kediri disebut-sebut sebagai pusat dari tradisi budaya Jawa. Banyak sekali peninggalan pada masa lalu yang kini masih dilestarikan sebagai budaya Jawa. Di antaranya adalah penataan kota dengan metode Macapat. 

Diawali dari kebiasaan masyarakat Jawa yang percaya jika ibu kota sudah jatuh di tangan lawan maka nilai magisnya akan hilang. Itu sebabnya pergeseran ibu kota pemerintahan kerap berganti menyesuaikan zamannya. 

Seperti pada masa Kesultanan Mataram, keberadaan Pasar Setonobetek diyakini sebagai hinterland bagi daerah di sekitarnya. Posisinya berada di tengah sebagai posisi penyangga.

Daerah di sekitar Pasar Setono Betek itu ada Kelurahan Kemasan. Menurut Rektor Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Zainal Afandi, kawasan itu dulunya adalah pusat kerajinan emas. “Sama halnya kelurahan lain, sesuai dengan toponiminya,” ujar Zainal. 

 Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (10): Singonegaran Pernah Jadi Ibu Kota Kediri

Selain Kelurahan Kemasan, yang berada di sekitar Pasar Setonobetek itu juga ada Kelurahan Jagalan.  Dulunya adalah tempat penyembelihan hewan ternak. Lalu ada Kelurahan Pakunden. Artinya, di tempat itu dulu banyak masyarakat yang bekerja sebagai perajin gerabah dari tanah liat. Kemudian adalah Kelurahan Pakelan. Di sana dulunya dijadikan sebagai tempat pergudangan. 

Lalu pada era 1677-1678, Kediri sempat dikuasai Trunojoyo. Yang dipercaya juga telah membangun benteng besar. Kini namanya adalah Kelurahan Trunojoyo. Jika diambil dari toponiminya bermakna benteng maka tempat tersebut bisa jadi dulunya adalah markas tentara.  

Benteng itu yang dibangun pada masa Trunojoyo seluas 8,5 kilometer. Lalu tinggi temboknya adalah 6 meter. Dan tebal tembok bentengnya mencapai 2 meter. Pada masa era kolonial Belanda, Kediri pun ikut menjadi perhatian pada masa itu. 

Kediri dianggap mempunyai potensi ekonomi yang luar biasa. Lewat UU Agraria dan Undang- Undang Gula, kolonial Belanda lalu memisahkan kawasan Kediri menjadi dua tempat.

Belanda menempati kawasan barat sungai, itu bisa dilihat dari banyaknya bangunan lama pada masa kolonial. Di antaranya adalah keberadaan Gereja Merah. “Termasuk SMAN 1 Negeri Kota Kediri dan adanya kantor PM,” lanjut Zainal. Penataan itu tidak lepas dari siapa yang saat itu berkuasa.(bersambung)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#kediri #mataram #indonesia #lintas negara #indonesia-malaysia #unp kediri #warisan #malaysia #simposium internasional #pasar setonobetek #penyangga ekonomi