Pria ini tergolong sosok yang serba bisa. Beragam keahlian dia miliki, mulai musisi, penyiar radio, pengamat sosial, kolumnis, hingga dosen di berbagai perguruan tinggi. Kini, gelarnya semakin lengkap setelah menjadi guru besar pertama yang dimiliki Universitas Islam Tribakti Lirboyo.
MAHFUD, Kota, JP Radar Kediri
“Saya pernah diomeli Gombloh.”
Sepenggal kalimat yang terucap kala Suko Susilo menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dari Universitas Tribakti Lirboyo itu adalah gambaran bahwa si pengucap adalah sosok yang benar-benar ‘multi-dimensi’.
Mampu berada di beragam ‘ruang dan waktu’. Tak hanya di ranah profesinya yang seorang dosen. Melainkan juga bisa berbaur dengan musisi, politisi, seniman, hingga orang-orang pinggiran.
Ya, Gombloh yang Suko sebutkan itu adalah sosok penyanyi terkenal di era 1970-an hingga 1980-an. Ketika itu, dia datangkan ke Kediri untuk tampil dalam satu acara. Namun, setelah selesai, Gombloh tidak dia antar sendiri kembali ke Surabaya.
Melainkan dia ‘titipkan’ ke Gus An’im Falahuddin Mahrus-saat ini anggota DPR RI dari Fraksi PKB-, yang merupakan putra dari kiai besar Lirboyo KH Mahrus Aly.
“Jadi bisa kita bayangkan, seorang Gombloh berada satu mobil dengan seorang Gus (putra kiai, Red) dari ponpes besar,” lanjutnya yang disambut tawa hadirin yang mendatangi acara pengukuhannya sebagai guru besar, Rabu (16/4) di Gedung al Nawawi Ponpes Lirboyo.
Ya, Suko Susilo memang sosok yang bisa disebut multi-dimensi. Nyaris tak ada sekat sosial yang mampu menerjemahkan keberadaan pria kelahiran Nganjuk, 9 Juli 1959 ini.
Dia bisa berkumpul dengan para seniman, politisi, ataupun birokrat. Namun, dia juga tak canggung duduk lesehan bersama para mahasiswanya.
‘Portofolio’ seorang Suko Susilo juga sangat berwarna. Pernah menjadi seorang jurnalis, di Kupang Pos, sekaligus merangkap dosen tidak tetap di Universitas Negeri Nusa Cendana Kupang, NTT.
Setelah itu, pernah pula menjadi karyawan BCA Kediri. Kemudian sebagai penyiar di Radio Mahameru Kediri. Di fase ini dia dikenal dengan panggilan Cacak. Khas dengan rambut gondrongnya.
“Ketika akhirnya bergabung dengan Universitas Islam Tribakti Lirboyo, saya seakan tersesat di jalan yang benar,” ucap suami Hj Binti Rachmawati SE MM, yang sontak mengundang senyum dan tawa undangan yang hadir.
Kini, status sebagai Guru Besar Psikologi Sosial di Universitas Islam Tribakti Lirboyo kian mengukuhkan tempatnya di jalur akademis.
Sekaligus menjadi profesor pertama yang dimiliki institusi pendidikan dari lingkungan Ponpes Lirboyo tersebut.
Menariknya, tak hanya karir akademisnya saja yang layak diapresiasi, kemampuannya mendidik anak-anaknya juga layak diacungi jempol.
Kelima putranya bahkan telah menyebar di tiga negara. Sulungnya, Desty Alkano, ST., MSc, PhD kini tinggal di Eindhoven, Belanda. Kemudian, putra keduanya, Kenny Alkano, ST, MT tinggal di Jakarta. Yang nomor tiga, Reddy Aldino, SST., B.Eng, MSc berdomisili di Paris, Perancis.
Ada lagi, putra keempatnya, Phaskya Alkano S.Psi M Psikolog tinggal di Jakarta. Serta yang terakhir, drg. Karen Alkano yang tinggal di Surabaya.
“Saya bisa seperti ini tak bisa dilepaskan dari peran orang tua saya yang dengan kerelaannya mengundang saya lahir ke dunia ini,” ucap anak pasangan H. Matori dan Hj. Markonah ini sambil menahan linangan air mata.
Sementara itu, dalam pidato sambutannya, Rektor UIT Dr KH Reza Ahmad Zahid, Lc MA menegaskan tentang sosok Prof. Suko Susilo yang humble. Yang bisa berbaur dengan semua kalangan.
“Prof Suko ini tak hanya akrab dengan para petinggi kampus, tetapi juga dengan para mahasiswa” puji pria yang akrab disapa Gus Reza ini.
Untuk diketahui, Suko Susilo ditetapkan sebagai Guru Besar Psikologi Sosial Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri berdasarkan SK Mendikbudristek RI nomor 11822/M/07/24. Surat keputusan tersebut tertanggal 28 Februari 2024.
Pria yang pernah menjadi ketua Dewan Kesenian Kota Kediri di periode awal ini meraih gelar sarjana administrasi negara di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya pada 1983.
Setelah itu meneruskan program magister di perguruan tinggi yang sama hingga meraih gelar Magister Studi Kepemimpinan. Sedangkan gelar doktor ilmu sosial dia dapat dari Universitas Airlangga pada 2005.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira