Puisi: Monggun Maulidiya Siregar & Putri Elpatisia Siringo

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 10:30 WIB
ilustrasi
ilustrasi

JEDAH

(MONGGUN MAULIDIYA SIREGAR)

Bukan tiada arti pijar di kepala tiang,

meski ia sekadar lelah yang menguning.

Di atas batu dingin bangku taman,

aku menenun arah:

menanti rupa yang terbit dari selatan,

sementara mataku terkunci pada gulita barat.

 

Entah apa yang kukejar dalam senyap

sehelai raga tanpa wujud,

embus nyawa yang tertinggal,

atau janji yang gugur sebelum sempat berbunga.

 

Tuan, dulu kau bilang pelita ini penanda.

Kenyataannya, malam memadamkan nadinya,

menemaniku dengan dada lapang nan hampa,

di bawah sandaran kayu yang tak meminta upah.

 

Waktu berlari melampaui tapak kaki,

mendahului langkah yang lelah.

Maka, sebelum bayangku lebur dengan sunyi,

kuputuskan:

menyudahi arah,

dan melipat penantian

ilustrasi
ilustrasi

KAKA

(MONGGUN MAULIDIYA SIREGAR)

batu batu gempa meremukkan udara

kata angin, hangat peluk hanyalah fatamorgana

namun..

ketika langit seakan menimpa sunyi

paras rupa lelaki tampan itu yang terlintas

 

waktu membisikkan ikhlas sebagai jubah

sementara sabar merentang seluas tabah

kutitipkan aksara doa pada setiap hela napas

berharap bayang menjelma nyata tanpa batas

 

hingga runtuh segala ragu di ujung penantian kita

sebab di detak jantungmu, 

aku menemukan arti rumah yang sesungguhnya

bahwa kamu, 

lelaki yang kucintai, 

adalah satu-satunya takdir tempatku pulang selamanya.

BIODATA PENULIS

penulis puisi
penulis puisi

Monggun Maulidiya Siregar, akrab dipanggil dengan monggun. Gadis batak yang lahir di kota Medan, dan sering disangka anak kota yang tidak tau adat istiadat. Merupakan Mahasiswa S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan, anak tunggal yang dikira orang orang anak yang dimanja ternyata sebaliknya. Monggun senang mengekpresikan perasaannya melalui tulisan yang orang dapat membaca dan merasakan tulisannya.

ilustrasi
ilustrasi

RAWA-RAWA LAUTAN PANTAI

(PUTRI ELPATISIA SIRINGO)

Di antara rawa dan laut yang luas,

angin membawa suara kehidupan.

Pasir-pasir menyimpan jejak langkah,

sementara ombak datang dan pergi

seperti waktu yang tak pernah menunggu.

 

Di pantai itu aku berdiri,

memandang langit yang perlahan memerah.

Burung-burung terbang menuju pulang,

meninggalkan bayang di atas air

yang berkilau diterpa cahaya.

 

Rawa-rawa menjadi saksi,

tentang alam yang harus dijaga.

Laut bukan sekadar hamparan biru,

ia adalah rumah bagi kehidupan,

tempat manusia belajar tentang ketabahan.

 

Dan ketika senja mulai menghilang,

aku masih mendengar suara ombak.

Seolah laut sedang berbisik,

“Jangan biarkan keindahan ini hilang

oleh tangan manusia sendiri.”

ilustrasi
ilustrasi

IZINKAN AKU MENYUKAIMU

(PUTRI ELPATISIA SIRINGO)

Izinkan aku menyukaimu,

tanpa harus memiliki.

Biarkan perasaan ini tumbuh

seperti bunga yang mekar perlahan,

tanpa memaksa musim datang.

 

Aku menyukaimu dalam diam,

dalam percakapan yang sederhana,

dalam senyummu yang sebentar,

namun mampu membuat

hari terasa lebih indah.

 

Aku tidak meminta janji,

tidak pula menuntut balasan.

Cukup biarkan aku menyimpan

namamu dalam sebuah ruang kecil

di dalam hati.

 

Jika suatu hari kau tahu,

semoga kau tidak menjauh.

Sebab menyukaimu bukan kesalahan,

hanya sebuah perasaan

yang ingin kubiarkan menjadi kenangan.

BIODATA PENULIS

penulis puisi
penulis puisi

Putri Elpatisia Siringo, akrab disapa Putri, merupakan mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada dunia bahasa dan sastra. Bagi saya, kata-kata bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan perasaan, menyimpan kenangan, dan menuangkan berbagai cerita. Saya senang membaca, menulis, serta mendengarkan musik di waktu luang. Melalui karya yang saya tulis, saya mencoba menuangkan pikiran, perasaan, dan pengalaman dalam bentuk tulisan yang sederhana tetapi memiliki makna. Bagi saya, setiap tulisan memiliki cerita dan setiap cerita memiliki sesuatu yang dapat dikenang. Motto yang saya pegang adalah “Tulislah apa yang dirasakan, karena setiap kata memiliki cerita.” Media sosial saya dapat dijumpai melalui Instagram: @putri_rumapea16.

Editor : Shinta Nurma Ababil
universitas negeri medan puisi sastra