Puisi: Aida Amalliah & Anggita Joito Grace

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 20:50 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi 

Tandu Merah

(Aida Amalliah)

Riuh berderak di kayu rapuh,

Jatuh terapung berbunyi gaduh,

Roda bergulir di pasir waktu,

Membawa kami ke ujung tatu.


Saadah menelisik nadi yang purba,

Membawa suara lirih tanpa iba,

Menyibak kelam mengendap meraba,

Terhenyak sadar, raga telah tiba.


Tandu merah terhenti di tanah yang resah,

Telapak kasar merengguti tirai merah,

Tubuh-tubuh sendu dipaksa meninggalkan arah,

Sutra-sutra putih diseret dengan marah.


Tujuh belas bayang terhimpit di ceruk yang basah,

Di balik dinding renta bersemayam wajah serakah,

Gelak para tuan menggema memenuhi rumah,

Titipan malam tiba di bawah titah.


Asap menggulung di bawah langit kelam,

Gelas-gelas beradu dalam tawa yang temaram,

Bara di jemari mereka menyala dalam diam,

Di balik meja tuan harga diri larut tenggelam.


Merah membeku di bibir para tuanku,

Mata mereka menimbang tubuh seperti barang laku,Tawa berkuasa menelanjangi harga diri yang beku,

Kukunci benci di dada sebab suaraku tak laku.

Profil Penulis

Penulis puisi
Penulis puisi

Aida Amalliah merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan. Ketertarikannya terhadap dunia sastra telah tumbuh sejak duduk di bangku SD dan terus berkembang hingga saat ini. Dari berbagai bentuk karya sastra, puisi menjadi salah satu yang paling ia sukai karena memberikan kebebasan untuk menuangkan perasaan, imajinasi, dan pemikiran melalui kata- kata. Sejak kecil, ia menikmati proses bermain dengan kata dan menemukan keindahan dalam setiap bait puisi. Selain menulis puisi, penulis juga pernah terlibat dalam penulisan Antologi Pantun bersama rekan-rekan satu kelasnya di Universitas. Pengalaman tersebut menjadi salah satu langkah baginya untuk terus mengembangkan minat dan kemampuannya dalam berkarya di bidang sastra.

Ilustrasi
Ilustrasi

KURSI YANG KEMBALI KOSONG

(Anggita Joito Grace)

Sunyi berderak di lantai,

malam mengulur sampai usai,

jendela menatap jalan sepi,

kursi memeluk sunyi sendiri.


Lalu langkahmu tiba,

mengetuk pintu yang lama terbuka,

membawa riuh ke udara,

membuat sepi kehilangan suara.


Kursi kosong mulai terisi,

dinding menyimpan tawa di sisi,

hari berlari tanpa henti,

waktu lupa untuk kembali.


Namun senja merenggutmu pergi,

langkahmu lenyap ditelan sepi,

pintu menutup tanpa permisi,

ruang kembali memeluk sunyi.


Jam menggiring malam berlalu,

angin membawa sisa suaramu,kursi menatapku tanpa ragu,

seolah tahu kau telah berlalu.


Aku kembali seorang diri,

memeluk sunyi yang pernah pergi,

kau sempat membuat sepi mati,

lalu menghidupkannya kembali.


Ternyata kau hanya persinggahan,

bukan ujung sebuah perjalanan,

kursi tetap menyimpan kehampaan,

dan aku pulang pada kesendirian.

Profil Penulis

Penulis puisi
Penulis puisi 

Anggita Joito Grace merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan. Kecintaannya terhadap sastra telah tumbuh sejak kecil melalui kebiasaannya membaca berbagai buku. Baginya, membaca menjadi cara untuk mengenal beragam cerita, perasaan, dan sudut pandang kehidupan. Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi minat dalam menulis, khususnya puisi, sebagai wadah untuk menuangkan gagasan, imajinasi, dan perasaan melalui rangkaian kata.

Editor : Shinta Nurma Ababil
universitas negeri medan mahasiswa puisi