Mimpi yang Bukan Milikku
Sejak kecil
Aku diajari cara menjadi seseorang
Yang mereka banggakan.
Belajar dengan baik.
Pulang sebelum senja.
Jangan banyak membantah.
Pilih jalan yang aman,
Sebab hidup, kata mereka,
Tidak selalu memberi kesempatan kedua.
Aku mengangguk
Pada banyak hal
Yang sebenarnya ingin kutanyakan.
Lalu suatu hari
Aku tumbuh menjadi dewasa
Dengan sekumpulan pencapaian
Yang terlihat indah dari jauh,
Tetapi terasa asing
Ketika kupandangi sendiri.
Namaku ada di sana,
Tetapi bukan aku
Yang benar-benar mengenal
Jalan menuju ke sana.
Di antara ramai orang
Yang mengucapkan selamat,
Aku diam-diam mencari
Suara kecil dalam diri sendiriSuara yang dulu sering berkata,
“Aku ingin menjadi ini.”
Suara itu masih ada.
Ia hanya semakin pelan
Setiap kali aku memilih
Apa yang seharusnya
Daripada apa yang kuinginkan.
Barangkali beginilah
Cara seseorang kehilangan mimpi:
Bukan dengan membuangnya,
Melainkan dengan terlalu sering
Mengatakan,
“nanti saja.”
Maka malam ini
Aku duduk di hadapan diriku sendiri.
Tidak ada siapa-siapa.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada tuntutan
Untuk menjadi hebat.
Hanya aku
Dan sebuah pertanyaan
Yang selama bertahun-tahun
Tak pernah berani kujawab:
Jika semua orang berhenti berharap kepadaku,
Aku ingin menjadi siapa?
Aku belum tahu jawabannya.
Namun untuk pertama kalinya,Aku tidak terburu-buru mencarinya.
Mungkin tumbuh dewasa
Bukan tentang menemukan
Jalan yang paling benar,
Melainkan berani berjalan
Di jalan yang akhirnya
Kita pilih sendiri.
Biodata Penulis:
Desclaudia Grace Silaban merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan. Saya menyukai dunia kepenulisan, khususnya puisi, sebagai ruang untuk menyampaikan perasaan, gagasan, dan berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Baginya, menulis adalah cara sederhana untuk menyimpan sesuatu yang mungkin sulit disampaikan secara langsung. Melalui puisi, ia mencoba mengolah pengalaman dan keresahan menjadi rangkaian kata yang dapat menemukan maknanya sendiri di mata pembaca.
Langkah yang Tak Pernah Sama
Di balik riuhnya dunia,
aku tetap memilih diam,
menyimpan banyak rasa
yang tak selalu bisa kuucapkan.
Bukan karena tak ingin bercerita,
tapi karena aku tahu,
tidak semua hati paham
tentang luka yang terlihat bahagia.
Aku belajar, bahwa setiap langkah
memang tak selalu sama,
ada yang berlari, ada yang berjalan,
dan ada pula yang harus berhenti sejenak
untuk kembali menemukan arah.
Dan meski jalanku terasa sunyi,
aku tetap percaya,
setiap proses yang kulewati,
pasti akan membawaku ke tempat
yang lebih baik.
Biodata Penulis:
Nova Muhairani merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 5. Dalam penulisan puisi, ia tertarik mengangkat tema kehidupan,perjalanan diri, perasaan, serta proses seseorang dalam menghadapi berbagai keadaan. Puisi “Langkah yang Tak Pernah Sama” menggambarkan tentang perjalanan hidup yang tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan, tetapi setiap proses tetap memiliki makna dan membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih baik.
Editor : Shinta Nurma Ababil