Puisi: Desclaudia Grace Silaban & Nova Muhairani

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 23:10 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Mimpi yang Bukan Milikku

Sejak kecil

Aku diajari cara menjadi seseorang

Yang mereka banggakan.


Belajar dengan baik.

Pulang sebelum senja.

Jangan banyak membantah.

Pilih jalan yang aman,

Sebab hidup, kata mereka,

Tidak selalu memberi kesempatan kedua.


Aku mengangguk

Pada banyak hal

Yang sebenarnya ingin kutanyakan.


Lalu suatu hari

Aku tumbuh menjadi dewasa

Dengan sekumpulan pencapaian

Yang terlihat indah dari jauh,

Tetapi terasa asing

Ketika kupandangi sendiri.


Namaku ada di sana,

Tetapi bukan aku

Yang benar-benar mengenal

Jalan menuju ke sana.


Di antara ramai orang

Yang mengucapkan selamat,

Aku diam-diam mencari


Suara kecil dalam diri sendiriSuara yang dulu sering berkata,

“Aku ingin menjadi ini.”


Suara itu masih ada.

Ia hanya semakin pelan

Setiap kali aku memilih

Apa yang seharusnya

Daripada apa yang kuinginkan.


Barangkali beginilah

Cara seseorang kehilangan mimpi:

Bukan dengan membuangnya,

Melainkan dengan terlalu sering

Mengatakan,

“nanti saja.”


Maka malam ini

Aku duduk di hadapan diriku sendiri.


Tidak ada siapa-siapa.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada tuntutan

Untuk menjadi hebat.


Hanya aku

Dan sebuah pertanyaan

Yang selama bertahun-tahun

Tak pernah berani kujawab:


Jika semua orang berhenti berharap kepadaku,


Aku ingin menjadi siapa?

Aku belum tahu jawabannya.


Namun untuk pertama kalinya,Aku tidak terburu-buru mencarinya.

Mungkin tumbuh dewasa

Bukan tentang menemukan

Jalan yang paling benar,


Melainkan berani berjalan

Di jalan yang akhirnya

Kita pilih sendiri.

Biodata Penulis:

Penulis puisi
Penulis puisi

Desclaudia Grace Silaban merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan. Saya menyukai dunia kepenulisan, khususnya puisi, sebagai ruang untuk menyampaikan perasaan, gagasan, dan berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Baginya, menulis adalah cara sederhana untuk menyimpan sesuatu yang mungkin sulit disampaikan secara langsung. Melalui puisi, ia mencoba mengolah pengalaman dan keresahan menjadi rangkaian kata yang dapat menemukan maknanya sendiri di mata pembaca.

Ilustrasi
Ilustrasi 

Langkah yang Tak Pernah Sama

Di balik riuhnya dunia,

aku tetap memilih diam,

menyimpan banyak rasa

yang tak selalu bisa kuucapkan.


Bukan karena tak ingin bercerita,

tapi karena aku tahu,

tidak semua hati paham

tentang luka yang terlihat bahagia.


Aku belajar, bahwa setiap langkah

memang tak selalu sama,

ada yang berlari, ada yang berjalan,

dan ada pula yang harus berhenti sejenak

untuk kembali menemukan arah.


Dan meski jalanku terasa sunyi,

aku tetap percaya,

setiap proses yang kulewati,

pasti akan membawaku ke tempat

yang lebih baik.

Biodata Penulis:

Penulis puisi
Penulis puisi

Nova Muhairani merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 5. Dalam penulisan puisi, ia tertarik mengangkat tema kehidupan,perjalanan diri, perasaan, serta proses seseorang dalam menghadapi berbagai keadaan. Puisi “Langkah yang Tak Pernah Sama” menggambarkan tentang perjalanan hidup yang tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan, tetapi setiap proses tetap memiliki makna dan membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih baik. 

Editor : Shinta Nurma Ababil
universitas negeri medan puisi mahasiswa puisi