Puisi : Afina Zatil Isnan Maruhawa dan Eniya Rianta Sema Kudadiri

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 19:50 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi 

Puisi : Dibalik Lupamu

Dibalik Lupamu

Dulu, kau dan aku tak begitu dekat

Rumah jarang kau singgah hingga kau lelah

Aku bertanya-tanya, kenapa?

Mungkinkah kau tak betah?

Mungkinkah kau sedang marah?

Oh, ternyata aku hanya kurang mengerti

Sekarang, kau dan aku tak begitu dekat

Bertahun-tahun telah kita lewati

Sampai aku bertanya-tanya,

Akankah kau mulai lupa?

Akankah kau perlahan meninggalkan?

Tak apa, aku hanya khawatir

Tebak lah, berapa umurku sekarang

Jangan lah kau bilang lupa

Karena mendarah daging kata orang

Tebak apa yang aku pikirkan sekarang

Hanya saja, jangan lah kau siakan lelah

jika kau sudah lupa alasannya

Untukmu yang selalu mengusahakan di luar sana

Sampai tegak mu tak lagi sama

Sejujurnya aku tak pernah marah

Karena kau hanyalah seorang canggung yang mengusahakan anaknya

Karena aku perlahan tahu, kau sebegitu lelahnya

Dan di balik lupamu, ada aku yang selalu kau perjuangkan

Biodata Penulis:

Penulis puisi
Penulis puisi 

Afina Zatil Isnan Maruhawa merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas NegeriMedan. Ia memiliki ketertarikan pada dunia sastra, khususnya puisi, sebagai ruang untuk menuangkan gagasan, perasaan, dan pengalaman hidup ke dalam rangkaian kata. Dalam perjalanan berkaryanya, ia pernah mengikuti Lomba Cipta Puisi pada Event Kreasi. Dua puisi karyanya juga telah terpilih untuk diterbitkan dalam buku antologi puisi bersama para penulis lain. Bagi Afina, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan cara mengabadikan makna dan emosi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi
Ilustrasi

Puisi: Ruang Kosong Itu Aku

Ruang Kosong Itu Aku

Aku adalah laci yang selalu setengah terisi

Mencari kecukupan di antara sisa-sisa orang lain

Sekali hidup, tapi rasanya seperti menonton

Semua orang dapat tiket surga, kecuali aku

Aku menimbang diriku di timbangan semesta

Dan jarumnya selalu jatuh di sisi belum

Belum cukup pintar untuk dipuji

Belum cukup beruntung untuk dipilih

Belum cukup apa-apa untuk dianggap ada

Aku berjalan di koridor hidup

Sambil memungut bayangan keberuntungan orang

Lalu menyalahkannya pada diriku sendiri

Kenapa langkahku tak secepat angin mereka

Tapi di dalam ruang kosong ini

Ada aku yang diam-diam menolak mati

Meski merasa kecil, meski merasa tertinggal

Ada napas yang enggan, menolak menyerah

Mungkin sekali hidup memang bukan untuk menangMungkin ini hanya untuk belajar

Bahwa yang kurang pun, berhak pulang ke dirinya sendiri.

Biodata Penulis:

Penulis
Penulis

Eniya Rianta Sema Kudadiri merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan. Ia memiliki ketertarikan dalam sastra. Khususnya puisi, sebagai ruang untuk menuangkan gagasan perasaan, ide dan pengalaman hidup yang dialami ke dalam rangkaian kata yang disusun. Dalam perjalanan karya ia pernah mengikuti lomba menulis puisi, pada Event Menulis Puisi dan masuk nominasi 10 puisi terbaik , serta dipublikasikan dalam satu buku. Bagi Eniya, menulis puisi adalah sebuah kegiatan menuangkan rasa, dan menyusunnya menjadi sebuah perpaduan utuh yang indah.

Editor : Shinta Nurma Ababil
universitas negeri medan karya puisi puisi sastra