Puisi : Dibalik Lupamu
Dibalik Lupamu
Dulu, kau dan aku tak begitu dekat
Rumah jarang kau singgah hingga kau lelah
Aku bertanya-tanya, kenapa?
Mungkinkah kau tak betah?
Mungkinkah kau sedang marah?
Oh, ternyata aku hanya kurang mengerti
Sekarang, kau dan aku tak begitu dekat
Bertahun-tahun telah kita lewati
Sampai aku bertanya-tanya,
Akankah kau mulai lupa?
Akankah kau perlahan meninggalkan?
Tak apa, aku hanya khawatir
Tebak lah, berapa umurku sekarang
Jangan lah kau bilang lupa
Karena mendarah daging kata orang
Tebak apa yang aku pikirkan sekarang
Hanya saja, jangan lah kau siakan lelah
jika kau sudah lupa alasannya
Untukmu yang selalu mengusahakan di luar sana
Sampai tegak mu tak lagi sama
Sejujurnya aku tak pernah marah
Karena kau hanyalah seorang canggung yang mengusahakan anaknya
Karena aku perlahan tahu, kau sebegitu lelahnya
Dan di balik lupamu, ada aku yang selalu kau perjuangkan
Biodata Penulis:
Afina Zatil Isnan Maruhawa merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas NegeriMedan. Ia memiliki ketertarikan pada dunia sastra, khususnya puisi, sebagai ruang untuk menuangkan gagasan, perasaan, dan pengalaman hidup ke dalam rangkaian kata. Dalam perjalanan berkaryanya, ia pernah mengikuti Lomba Cipta Puisi pada Event Kreasi. Dua puisi karyanya juga telah terpilih untuk diterbitkan dalam buku antologi puisi bersama para penulis lain. Bagi Afina, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan cara mengabadikan makna dan emosi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Puisi: Ruang Kosong Itu Aku
Ruang Kosong Itu Aku
Aku adalah laci yang selalu setengah terisi
Mencari kecukupan di antara sisa-sisa orang lain
Sekali hidup, tapi rasanya seperti menonton
Semua orang dapat tiket surga, kecuali aku
Aku menimbang diriku di timbangan semesta
Dan jarumnya selalu jatuh di sisi belum
Belum cukup pintar untuk dipuji
Belum cukup beruntung untuk dipilih
Belum cukup apa-apa untuk dianggap ada
Aku berjalan di koridor hidup
Sambil memungut bayangan keberuntungan orang
Lalu menyalahkannya pada diriku sendiri
Kenapa langkahku tak secepat angin mereka
Tapi di dalam ruang kosong ini
Ada aku yang diam-diam menolak mati
Meski merasa kecil, meski merasa tertinggal
Ada napas yang enggan, menolak menyerah
Mungkin sekali hidup memang bukan untuk menangMungkin ini hanya untuk belajar
Bahwa yang kurang pun, berhak pulang ke dirinya sendiri.
Biodata Penulis:
Eniya Rianta Sema Kudadiri merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan. Ia memiliki ketertarikan dalam sastra. Khususnya puisi, sebagai ruang untuk menuangkan gagasan perasaan, ide dan pengalaman hidup yang dialami ke dalam rangkaian kata yang disusun. Dalam perjalanan karya ia pernah mengikuti lomba menulis puisi, pada Event Menulis Puisi dan masuk nominasi 10 puisi terbaik , serta dipublikasikan dalam satu buku. Bagi Eniya, menulis puisi adalah sebuah kegiatan menuangkan rasa, dan menyusunnya menjadi sebuah perpaduan utuh yang indah.
Editor : Shinta Nurma Ababil