Kita berjalan, menangis, tersenyum, dan tertawa. Namun entah mengapa ada kehampaan yang tak bisa dijelaskan. Seperti rongga kosong yang menganga di dalam dada.
Kita bernapas, tubuh kita bergerak. Namun jiwa kita seperti tertinggal di suatu tempat yang antah-berantah. Tak tahu kita ada di mana.
Di era serba cepat, anak muda seperti ditelan oleh rutinitas tanpa makna. Hanya bangun, bekerja, beristirahat. Besoknya ulangi lagi dan seolah hidup hanya sebuah simulasi. Bukan perjalanan spiritual.
Apakah kita benar-benar hidup? Atau hanya sedang mengisi waktu? Menunggu akhir hidup atau bahkan akhir dunia tiba, perlahan dan diam-diam?
Kita tersenyum di hadapan orang lain. Namun diam-diam menangisi sesuatu yang bahkan tak bisa kita beri nama.
Kita mencintai, berharap, mengejar impian atau setidaknya berpura-pura memiliki satu. Padahal dalam hati yang paling sunyi, kita mempertanyakan semuanya: "Untuk apa semua ini?".
Rutinitas telah menjelma seperti roda yang tak pernah berhenti berputar. Kita di dalamnya, terombang-ambing tanpa tahu arah. Seolah hidup tak lagi soal pencarian makna, melainkan soal bertahan dari hari ke hari.
Seakan menjadi manusia modern berarti harus tahan terhadap rasa hampa. Harus bisa tersenyum walau kosong di dalam.
Barangkali inilah bentuk kematian yang tak tampak. Saat tubuh hidup tapi jiwa perlahan membeku, kita tak lagi terhubung dengan rasa. Kehilangan kepekaan pada keajaiban kecil yang dahulu membuat kita terperangah saat matahari pagi, suara hujan, pelukan, atau bahkan detak jantung sendiri.
Kita menunda perasaan, memendam pertanyaan, dan menumpuk luka demi menjaga citra dan produktivitas. Kita lupa bahwa hidup bukan hanya tentang melakukan tapi juga tentang menjadi. Menjadi sadar, menjadi hadir, menjadi manusia seutuhnya.
Seperti kata Marcus Aurelius, kaisar Romawi dan filsuf Stoic dari Romawi Kuno, "It is not death that a man should fear, but he should fear never beginning to live."
Bukan kematian yang harus ditakuti, tapi hidup yang tak pernah benar-benar dimulai.
Hidup bukan soal panjangnya waktu atau jumlah pencapaian. Tapi soal kesadaran dan kehadiran kita dalam menjalani hidup itu sendiri.
Ketakutan yang terbesar untuk kita seharusnya tidak pernah benar-benar hidup. Hidup tanpa makna, tanpa refleksi, tanpa kejujuran pada diri sendiri, dan tanpa keberanian untuk menjadi diri seutuhnya.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak dan beristirahat dari hirup pikuk semesta. Lalu bertanya dengan jujur ke hati yang paling dalam, “apakah aku benar-benar hidup? Atau hanya sedang berjalan dalam tidur panjang bernama rutinitas?”
Hidup yang dijalani tanpa kesadaran akan maknanya bukanlah hidup. Melainkan hanya jeda sebelum akhir. Dan jika terus mengabaikannya, kita akan tiba di ujung waktu dengan penyesalan. Karena baru sadar bahwa kita tak pernah benar-benar hidup.
Penulis: Fikri Raihan Pratama, Mahasiswa Magang dari Universitas Pembangunan “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT).
Editor : Jauhar Yohanis