Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gen Z dan Kesehatan Mental: Antara Kesadaran, Romantisasi, dan Harapan untuk Pulih

Internship Radar Kediri • Jumat, 20 Juni 2025 | 19:31 WIB
Aurellsya Jessica Putri Editya
Aurellsya Jessica Putri Editya

Beberapa tahun terakhir, istilah seperti anxiety, burnout, OCPD, hingga BPD menjadi semakin akrab di telinga kita khususnya di kalangan Gen Z. Di media sosial, tagar #mentalhealth menjadi tren yang bukan hanya ramai dibahas, tapi juga dijadikan identitas oleh banyak anak muda. Generasi ini dikenal sebagai generasi paling terbuka terhadap isu kesehatan mental, namun ironisnya juga menjadi generasi yang paling terdampak.

Sebagai bagian dari Gen Z, saya melihat fenomena ini tidak dari luar pagar. Banyak teman sebaya saya yang mengalami gangguan kecemasan, kehilangan motivasi hidup, bahkan beberapa harus dirawat karena depresi berat. Hal ini menunjukkan satu hal yaitu krisis kesehatan mental di kalangan anak muda bukan mitos. Ia nyata, dan semakin membesar.

Namun di balik keterbukaan yang kita banggakan, muncul pertanyaan penting: apakah kita benar-benar memahami apa yang sedang terjadi dengan mental kita? Atau kita sekadar ikut dalam gelombang narasi populer tentang gangguan mental, tanpa bekal pemahaman yang utuh?

Fenomena self-diagnose yang marak di TikTok dan Instagram misalnya, menjadi gambaran paling jelas. Cukup nonton video 60 detik yang menjelaskan “ciri-ciri BPD” atau “kenapa kamu anxious terus,” kita merasa cocok, lalu mengklaim diri memiliki gangguan mental tertentu. Tanpa skrining, tanpa diagnosis, dan tanpa bantuan profesional. Akibatnya, batas antara awareness dan romantisasi menjadi kabur.

 Baca Juga: Minimal Sekali Seumur Hidup ke Konseling, Cek Kesehatan Mental Demi Hidup yang Lebih Damai

Di sinilah letak bahayanya. Ketika kesehatan mental diperlakukan sebagai label identitas, bukan sebagai kondisi yang harus dipahami dan ditangani dengan serius, kita justru menciptakan budaya yang kontraproduktif. Bukan hanya berisiko membuat penderita sebenarnya kehilangan ruang validasi, tapi juga mendorong mereka yang tidak memiliki gangguan serius untuk merasa “ikut sakit” agar merasa relevan atau diterima.

Namun, tentu tidak adil jika semua kesalahan dilimpahkan pada anak muda. Gen Z lahir dan tumbuh dalam dunia yang tidak stabil seperti krisis ekonomi, perubahan iklim, tekanan akademik, kompetisi di sosial media, serta pola asuh keluarga yang seringkali belum siap menghadapi realitas psikologis generasi baru. Kita tidak hanya dituntut untuk sukses, tapi juga sempurna secara emosional. Bagaimana bisa kita tidak lelah?

Yang lebih menyedihkan, akses terhadap layanan kesehatan mental di Indonesia masih sangat terbatas. Biaya konsultasi psikolog atau psikiater masih tinggi, dan tidak semua anak muda punya keberanian untuk menceritakan kondisi mental mereka kepada keluarga yang mungkin belum paham. Bahkan stigma masih kuat, contohnya ketika kamu bilang kamu cemas atau depresi, banyak yang justru menyuruhmu “banyak bersyukur” atau “jangan lebay.” 

Meski begitu, harapan tetap ada. Semakin banyak komunitas yang peduli dan menyediakan ruang aman bagi anak muda untuk berbagi. Sekolah dan kampus mulai membuka layanan konseling. Influencer juga mulai menyuarakan pentingnya kesehatan mental secara lebih bertanggung jawab. Ini adalah langkah awal yang harus terus kita jaga dan perkuat.

 Baca Juga: Anxiety vs Insecurity, Peduli dan Sadari Sekarang untuk Kesehatan Mental Diri Sendiri

Gen Z adalah generasi yang berani berbicara, tapi kita juga harus belajar untuk mendengarkan terutama pada diri sendiri. Kesehatan mental bukan tren, bukan konten, dan bukan bahan bercanda. Ini adalah realitas yang perlu kita pahami, kita terima, dan kita tangani dengan empati dan ilmu. Karena menjadi sadar itu penting, tapi menjadi pulih jauh lebih berarti. (jsea)

Penulis: Aurellsya Jessica Putri Editya. Mahasiswa UDINUS Kediri

Editor : Jauhar Yohanis