Dalam beberapa tahun terakhir, istilah healing bukan lagi menjadi tren semata, tetapi sudah menjadi sebuah kebutuhan bagi anak muda atau Gen-Z.
Tren populer ini biasanya diwarnai dengan aktivitas seperti staycation, ngopi di tempat kekinian, hingga belanja sesuatu yang lucu. Fenomena ini sering dilabeli sebagai bentuk perawatan diri atau Gen-Z menyebutnya self-reward.
Media sosial pun turut memperkuat narasi ini, seolah-olah hal ini merupakan suatu hal yang membawa dampak nyata bagi kesehatan mental anak muda sekarang. Namun, benarkah semua itu merupakan cara atau proses pemulihan yang sebenarnya?
Baca Juga: 6 Langkah Self Care, Rahasia Mood Lebih Bahagia
Atau justru hanya akan menjadi pembenaran atas pelarian sesaat atau perilaku konsumtif semata?
Dilansir dari klikdokter.com, arti healing menurut psikologi sebenarnya adalah proses pemulihan diri dari luka batin hinga mencakup proses penyembuhan kondisi kesehatan mental dan fisik. Metode ini juga harus dilakukan bertahap dan konsisten.
Yang dalam hal ini berbeda dengan artian self-healing yang sering diucapkan dan dilakukan oleh Gen-Z. Mereka justru melakukan berbagai hal impulsif dan menjadikan istilah ini sebagai budaya konsumtif yang sudah menjadi kebutuhan.
Baca Juga: Sembuhkan Luka Batin, Panduan Lengkap Self-Healing Pribadi
Dalam hal ini, healing yang seharusnya bersifat introspektif dan berkelanjutan, hanya sekadar dibuat pelarian sesaat.
Contoh nyatanya adalah ketika kita sedang capek kemudian memutuskan untuk belanja ataupun staycation, pasti tanpa kita sadari kita akan merasa terhibur.
Akan tetapi, sesaat kemudian, ketika kita sudah kembali ke habitat ataupun suatu hal yang sebelumnya membuat kita merasa capek, diri kita otomatis akan kembali ke setelan awal lagi.
Baca Juga: Self Healing
Sejatinya, healing membutuhkan refleksi dan kesadaran diri ataupun terkadang justru diri kita harus dibiasakan untuk menghadapi rasa sakit itu sendiri.
Media sosial yang juga mendukung adanya narasi tren healing bagi anak muda ini terkadang juga membawa tekanan. Tak sedikit anak muda yang healing hanya demi konten, atau istilahnya “memberi makan Instagram”.
Penyebab ini lah yang juga tidak mendukung healing untuk dimaknai sebagai ketenangan dan penyembuhan. Bukannya menyelesaikan permasalahan yang mendasar, tetapi hanya akan memperpanjang waktu penyembuhan itu sendiri.
Baca Juga: Gelar Trauma Healing untuk Siswa
Fenomena ini sudah sangat jauh dari healing yang sesungguhnya. Gaya hidup impulsif bisa menimbulkan masalah keuangan dan ketergantungan emosi pada konsumsi. Perlunya evaluasi diri untuk mengartikan kembali arti kata healing, self-reward, ataupun self-care.
Bukan hanya apa yang dikonsumsi tetapi bagaimana kita dapat memperlakukan diri sendiri dengan penuh kesadaran.
Banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan untuk mengembalikan arti dan makna dari self-care yang dimaksud.
Baca Juga: 15 Rekomendasi Buku Self-improvement Yang Cocok Kamu Baca!
Self-healing dapat dilakukan dengan menerapkan beberapa cara seperti berdialog dengan diri sendiri, tidur yang cukup, meditasi, menulis jurnal atau journaling, dan menjalani pola makan sehat.
Namun, jika diperlukan sesuatu aktivitas fisik, bisa dengan membuat sebuah rencana terlebih dahulu dan dilakukan dengan kesadaran penuh.
Contohnya seperti budgeting sebelum melakukan staycation, olahraga yang bermanfaat bagi kekuatan fisik, bermain dan berkumpul dengan teman yang memiliki manfaat di dalamnya.
Baca Juga: Self-Reward atau Self-Sabotage? Saat Apresiasi Diri Jadi Alibi Belanja Impulsif
Jika kalian sebagai Gen-Z sudah sadar bahwa selama ini istilah healing dan self-reward hanya lah bentuk pelarian impulsif yang minim makna, maka ayo bersama-sama kita wujudkan kesadaran akan pentingnya merawat diri secara utuh dan penuh kesadaran.
Dengan memahami makna sebenarnya dari healing, kita tidak hanya menjaga kesehatan mental serta fisik secara sehat, tetapi juga bentuk dari self-love dengan cara yang lebih dewasa dan bertanggung jawab.
Penulis: Marta Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Jauhar Yohanis