JP Radar Kediri - Bumdes Tawang Jaya telah berdiri sejak 2017 silam. Bumdes ini konsisten menjalankan berbagai lini usaha.
Seperti mengelola retribusi Pasar Legi. Lalu, menjalankan lumbung pangan untuk mendukung ketahanan pangan lokal.
Desa Ketawang memiliki pasar desa bernama Pasar Legi. Pasar ini sudah ada sejak tahun 60-an. Pembangunan kios pasar ini dilakukan oleh pemdes. Namun kini pengelolaannya diserahkan kepada bumdes.
“Desa kami punya pasar. Retribusi atau karcisnya dikelola oleh bumdes. Pedagang dikenakan biaya Rp 2 ribu per hari. Dan hebatnya, bebas biaya sewa (lapak),” ungkap Sekretaris Desa Ketawang Suparji.
Pasar tersebut memiliki sekitar 20 kios dan puluhan pedagang yang menggelar dagangan secara lesehan.
Kiosnya bermacam-macam. Mulai dari menjual pakaian, sayuran, makanan matang, hingga grosir makanan ringan. Penjual juga tak hanya dari desa Ketawang saja.
Namun juga dari daerah lain. Sehingga menjadikannya pusat kegiatan ekonomi yang ramai.
“Usaha retribusi pasar itu menjadi pendapatan terbesar bumdes,” ungkapnya. Selain retribusi pasar, di tahun ini bumdes juga mulai menjalankan usaha lumbung pangan.
Tujuannya untuk program ketahanan pangan. Berkolaborasi dengan kelompok tani setempat. Bangunan yang berfungsi sebagai tempat lumbung pangan adalah milik kelompok tani.
Bumdes kemudian mengambil peran strategis untuk mencari petani yang menjual hasil panen padi. Nantinya akan dijual kembali ke pasar saat harganya menguntungkan.
“Jadi, kelompok tani menyediakan bangunan untuk menyimpan padi. Bumdes membeli gabah dari petani-petani. Kalau harga bagus, langsung dijual,” jelas Suparji.
Lumbung pangan masih belum berjalan optimal karena banyak petani desa Ketawang yang belum memasuki musim panen. Namun, potensi bisnisnya sangat besar.
Bumdes membeli padi dari petani dalam bentuk gabah. Lalu disimpan dan dapat dijual kembali dalam bentuk gabah atau digiling menjadi beras.
Editor : Andhika Attar Anindita