Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Warga Desa Kaliboto Tarokan Lestarikan Camilan Keripik Lamuk Emplek

D
Penulis: Diana Yunita Sari❯
Warga menunjukkan produk krupuk emplek lamuk (Diana Yunita Sari)
Warga menunjukkan produk krupuk emplek lamuk (Diana Yunita Sari)

JP Radar Kediri - Desa Kaliboto terkenal dengan industri kerupuk lamuk emplek. Camilan ini merupakan khas Kediri yang terbuat dari singkong. Usaha rumahan ini banyak digeluti oleh warga setempat. Salah satunya adalah Wiwin dan Haniah, warga Dusun Sumberkepuh.


Advertisement

Kakak-beradik tersebut konsisten meneruskan usaha yang telah dilakukan keluarga secara turun-temurun sejak 50 tahun. Haniah berfokus pada produksi tepung tapioka. Sementara Wiwin mengolahnya menjadi keripik emplek, rempeyek lamuk, rempeyek beras, dan lain sebagainya.

“Usaha ini turun-temurun sejak kakek dan nenek. Diteruskan Bapak, lalu sekarang ke anak-anaknya. Alhamdulillah masih lancar dan sudah memiliki pelanggan masing-masing,” ungkap Haniah.

Semua olahan tersebut berbahan utama tepung tapioka. Untuk membuat tepung tapioka, singkong yang didatangkan dari pegunungan di Nganjuk itu dicuci bersih. Kemudian dikupas dan digiling menggunakan mesin. Lalu, dikeringkan hingga menjadi tepung.

Advertisement

Hasil produksi singkong dapat dimanfaatkan kembali secara maksimal. Misalnya, kulit ketela dimanfaatkan untuk pakan ternak. Ampas atau limbahnya digunakan untuk keripik emplek. Sedangkan tepungnya menjadi bermacam-macam olahan.

“Satu hari bisa memproduksi hingga 4 ton ketela mentah dan hasil akhirnya bisa menjadi sekitar 1 ton tepung,” ungkapnya.

Proses pengeringan tepung masih menggunakan cara tradisional. Yaitu memanfaatkan sinar matahari penuh. Oleh sebab itu, musim hujan menjadi tantangan tersendiri bagi produksi mereka.

Advertisement

Tepung tapioka milik Haniah dijual kepada pembeli-pembeli yang sudah menjadi langganan. Mereka mayoritas berasal dari daerah sekitar Tarokan hingga Ngadiluwih. Penjualan dilakukan baik secara offline maupun online melalui Facebook.

Sementara itu, Wiwin selaku pelaku usaha keripik emplek dan rempeyek lamuk mengatakan, dalam sehari ia bisa memproduksi hingga 10 kg keripik. Saat menjelang puasa dan Idul Fitri pesanan meningkat. Mencapai 2 ton.

“Paling ramai ya Idul Fitri, karena banyak yang pesan untuk oleh-oleh. Pembuatannya bahkan dimulai hingga satu bulan sebelumnya,” ungkap Wiwin.

Sama seperti sang adik, Wiwin juga telah memiliki pelanggan tetap. Pelanggannya kebanyakan adalah para pemilik toko yang menjual kembali secara eceran. Keripik emplek miliknya dibanderol dengan harga Rp 34 ribu per kilogram. Emplek basah Rp 5 ribu per biji. Sedangkan rempeyek lamuk Rp 5 ribu per plastik.

Advertisement

Artikel Terkait

Penancapan ‘si Esco’ oleh Wabup  Dewi Tandai Mulainya Final Party  School Contest XVIII 2026

Penancapan ‘si Esco’ oleh Wabup Dewi Tandai Mulainya Final Party School Contest XVIII 2026

Puncak pesta pelajar paling akbar se-Kediri Raya dan sekitarnya, School Contest XVIII GenZverse 2026, akhirnya secara resmi dimulai. 

DP2KBP3A Kabupaten Kediri Dorong Keluarga Lebih Peduli, Perkuat Sekolah Lansia Tangguh

DP2KBP3A Kabupaten Kediri Dorong Keluarga Lebih Peduli, Perkuat Sekolah Lansia Tangguh

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong lansia tetap berdaya sekaligus memperkuat komunikasi dengan keluarga.

Kapolres Kediri Turun ke Jalan dalam Operasi Patuh Semeru! Utamakan Edukasi bagi Pengendara

Kapolres Kediri Turun ke Jalan dalam Operasi Patuh Semeru! Utamakan Edukasi bagi Pengendara

Kesadaran tertib berlalu lintas masih menjadi pekerjaan rumah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer