
Anda pernah nyawer, memberi saweran? Kalau pernah, apa sih sejatinya arti kata itu? Ah, mudah! Kan tinggal searching di internet. Maka, keluarlah kalimat, versi KBBI-Kamus Besar Bahasa Indonesia-sawer adalah aktivitas meminta uang kepada penonton atau sebaliknya, penonton memberi uang ke penampil di panggung.
Dalam bahasa Melayu, yang merupakan dasar dari bahasa Indonesia, sawer juga ada. Maknanya adalah mengutip atau meminta uang dari penonton. Ini yang sedikit membedakan dengan bahasa Indonesia yang lebih pada aktivitas dua arah. Bisa meminta dari penonton atau penonton yang memberi.
Bukannya sawer ini resapan dari bahasa Sunda? Bisa ya, bisa tidak. Mungkin popularitas kata sawer muncul dari Tanah Sunda. Sebab, bila bahasa Sunda, sawer berarti berhamburan, berserakan. Atau, bila terkait dengan air, maksudnya bisa jatuh menjiprat.
Nah, ini mungkin yang bikin kata sawer lebih dikenal dari bahasa Sunda. Sebab, istilah ini dipakai ketika ada orang yang memberikan uang kepada penyanyi atau penampil panggung dengan cara ‘menghamburkan’.
Baca Juga: Lipsus Melihat Dancer Sound Horeg, Antara Hobi, Tuntutan Ekonomi, dan Obat Pereda Nyeri (3)
Bagaimana dengan bahasa Jawa? Ini uniknya. Sebab, bahasa Jawa sebenarnya tak memiliki kata sawer yang sesuai dengan pemaknaan seperti itu. Memang, ada kata sawer dalam kosa kata bahasa Jawa. Namun artinya jauh berbeda. Di Jawa sawer adalah ular!
Apakah bahasa Jawa tidak mengenal kata ‘menghamburkan uang’ untuk penampil panggung? Jelas ada. Karena aktivitas ini juga dimiliki oleh etnis Jawa, baik di Jawa Timur maupun Jawa Tengah.
Di Kediri dan sekitarnya bahkan ada kesenian yang bernama Tayub. Ini adalah pertunjukan ‘musik’ dengan penari yang disebut tandak. Nah, saat tandak menari, ada interaksi dengan penonton yang ikut menari. Orang seperti itu disebut pengibing.
Pengibing inilah yang memberi imbalan berupa uang ke tandak. Uang itu biasanya diselipkan di sela-sela pakaian si tandak. Namanya, buang sampur.
Mengapa buang sampur? Saat pengibing ikut menari, tandak akan memberi dia sampur alias seledang. Nah, ketika hampir selesai menari sampur itu dikembalikan ke tandak. Tentu saja sekaligus dengan angpao itu diselipkan di sela-sela pakaian penari.
Nah, berarti, aktivitas nyawer yang marak diberikan ke penari sound horeg seperti sekarang ini punya akar sejarah budayanya? Mungkin iya, mungkin juga tidak sama persis. Sebab, antara kesenian Langen Tayub dan Sound Horeg, atau juga panggung dangdut pantura yang sempat ngetop beberapa waktu lalu punya latar belakang yang berbeda.



