26 C
Kediri
Tuesday, August 9, 2022

Liga 1 Indonesia: Klub dan PT LIB Bertemu, Ini Hasilnya

KOTA, JP Radar Kediri – Kompetisi Liga 1 2020 sepertinya sulit dilanjutkan tahun ini. Dalam rapat virtual dengan PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang diikuti para presiden klub kemarin, sebagian besar tim Liga 1 menolak melanjutkan kompetisi. Termasuk salah satunya adalah Persik Kediri.

Presiden Klub Persik Kediri Abdul Hakim Bafagih menyampaikan beberapa usulan dalam forum tersebut. Intinya, mereka meminta kompetisi musim 2020 dihentikan dan menggantinya dengan musim baru 2021. “Jika tidak dilanjutkan, kami mengusulkan kompetisi baru musim 2021 dimulai paling cepat di bulan Juli,” kata pria yang juga anggota DPR RI ini.

Soal waktu kompetisi, kata Hakim, pertimbagannya adalah proses vaksinasi yang mulai berjalan dan tren pandemi Covid-19 yang masih tinggi. Dalam usulan tersebut, Persik mengusulkan format kompetisi tanpa degradasi. “Pandemi mereset banyak hal. Jadi kurang pas apabila ada sistem degradasi. Biarkan klub-klub pulih terlebih dahulu,” ujarnya.

Baca Juga :  Keluyuran, Belasan Pelajar Push Up

Selain itu, klub meminta rapat umum pemegang saham (RUPS) 2021 segera dilaksanakan. Agendanya adalah hal-hal yang berkaitan dengan keuangan PT LIB dan proyeksi ke depan. “Menurut kami, perlu ada evaluasi terhadap nilai kontrak sponsor kepada LIB. Karena kita layak menaikkan nilainya,” ujar Hakim.

Selama kompetisi berhenti, Hakim memang mengkhawatirkan potensi konflik antara klub dengan pemain dan pelatih. Karena itu, pihaknya meminta PSSI dan PT LIB bertanggung jawab apabila ada tuntutan pemain dan pelatih akibat ketidakjelasan kompetisi.

dan koordinasi yang lebih baik antara PT LIB dengan PSSI. Jangan berubah-ubah seperti sekarang. “Kami masih ingat betul pertemuan terakhir dengan PSSI di Jogjakarta (13 Oktober 2020). Di situ, disampaikan liga akan dilanjutkan dengan kondisi apapun. Ternyata liga tidak jelas juga,” tegasnya.

Baca Juga :  Kepala BNN Bagi Inspirasi dan Hadiah di MTsN 3 Kediri

Hakim mengakui, akibat ketidakjelasan kompetisi sejak Oktober lalu, klub mengalami banyak kerugian. Yang pertama, perencanaan keuangan kacau dan tidak bisa dirumuskan. Kedua, tanggung jawab terhadap mitra sponsor juga tidak dapat dipertanggungjawabkan. “Kami kesulitan membuat perencanaan dan program selama kompetisi berhenti tanpa kepastian,” ujarnya.

Kerugian lain, adalah potensi tuntutan pemain dan pelatih kepada klub. Juga, akibat penundaan yang terlalu lama, semangat bermain sudah tidak ada. “Kami tahu, sepak bola Indonesia sudah berkembang menjadi lebih baik. Sekarang sudah dikelola swasta dan tidak lagi mengandalkan APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah). Tetapi, meski sudah mandiri, klub sangat bergantung pada federasi (PSSI) dan operator liga (PT LIB). Itu yang harus dipahami,” pungkas Hakim. (c2/baz)

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri – Kompetisi Liga 1 2020 sepertinya sulit dilanjutkan tahun ini. Dalam rapat virtual dengan PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang diikuti para presiden klub kemarin, sebagian besar tim Liga 1 menolak melanjutkan kompetisi. Termasuk salah satunya adalah Persik Kediri.

Presiden Klub Persik Kediri Abdul Hakim Bafagih menyampaikan beberapa usulan dalam forum tersebut. Intinya, mereka meminta kompetisi musim 2020 dihentikan dan menggantinya dengan musim baru 2021. “Jika tidak dilanjutkan, kami mengusulkan kompetisi baru musim 2021 dimulai paling cepat di bulan Juli,” kata pria yang juga anggota DPR RI ini.

Soal waktu kompetisi, kata Hakim, pertimbagannya adalah proses vaksinasi yang mulai berjalan dan tren pandemi Covid-19 yang masih tinggi. Dalam usulan tersebut, Persik mengusulkan format kompetisi tanpa degradasi. “Pandemi mereset banyak hal. Jadi kurang pas apabila ada sistem degradasi. Biarkan klub-klub pulih terlebih dahulu,” ujarnya.

Baca Juga :  Pilih Tidak Pulang Kampung

Selain itu, klub meminta rapat umum pemegang saham (RUPS) 2021 segera dilaksanakan. Agendanya adalah hal-hal yang berkaitan dengan keuangan PT LIB dan proyeksi ke depan. “Menurut kami, perlu ada evaluasi terhadap nilai kontrak sponsor kepada LIB. Karena kita layak menaikkan nilainya,” ujar Hakim.

Selama kompetisi berhenti, Hakim memang mengkhawatirkan potensi konflik antara klub dengan pemain dan pelatih. Karena itu, pihaknya meminta PSSI dan PT LIB bertanggung jawab apabila ada tuntutan pemain dan pelatih akibat ketidakjelasan kompetisi.

dan koordinasi yang lebih baik antara PT LIB dengan PSSI. Jangan berubah-ubah seperti sekarang. “Kami masih ingat betul pertemuan terakhir dengan PSSI di Jogjakarta (13 Oktober 2020). Di situ, disampaikan liga akan dilanjutkan dengan kondisi apapun. Ternyata liga tidak jelas juga,” tegasnya.

Baca Juga :  Persik Kediri Usul Kompetisi Dihentikan ke PT LIB, Ini Alasannya

Hakim mengakui, akibat ketidakjelasan kompetisi sejak Oktober lalu, klub mengalami banyak kerugian. Yang pertama, perencanaan keuangan kacau dan tidak bisa dirumuskan. Kedua, tanggung jawab terhadap mitra sponsor juga tidak dapat dipertanggungjawabkan. “Kami kesulitan membuat perencanaan dan program selama kompetisi berhenti tanpa kepastian,” ujarnya.

Kerugian lain, adalah potensi tuntutan pemain dan pelatih kepada klub. Juga, akibat penundaan yang terlalu lama, semangat bermain sudah tidak ada. “Kami tahu, sepak bola Indonesia sudah berkembang menjadi lebih baik. Sekarang sudah dikelola swasta dan tidak lagi mengandalkan APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah). Tetapi, meski sudah mandiri, klub sangat bergantung pada federasi (PSSI) dan operator liga (PT LIB). Itu yang harus dipahami,” pungkas Hakim. (c2/baz)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/