29.8 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Disweeping Suporter, Nginap di Kantor Polisi

Menjalani 28 tahun berjalan di Liga Indonesia, Persedikab pasti punya lika-liku hingga bisa masuk ke jajaran tim pada divisi utama. Termasuk saat menjalani partai delapan besar Divisi 1 Liga Indonesia di Jepara pada 1997. Berhasil menahan imbang tuan rumah Persijap Jepara, Hadi Kuswanto dkk pun harus merasakan dikeroyok oleh suporter.

“Kepala saya ini masih ada bekas lukanya,” ungkap Hadi kepada koran ini. Menurutnya, laga saat itu sangat penting bagi Persedikab pada 1997. Saat itu, skuad Bledug Kelud sedang berusaha keras untuk naik ke jajaran tim divisi utama.

Menurutnya, ketika peluit wasit ditiup menutup jalannya pertandingan itu membuat ribuan suporter kecewa. Dan merangsek masuk dalam stadion. Penjagaan pun ditingkatkan. Termasuk mengerahkan Brimob  untuk melindungi para pemain yang berada di tengah lapangan.

Baca Juga :  Persedikab Kediri Lakoni Partai Hidup-Mati di Laga Pamungkas

Amukan suporter tersebut tidak berhenti sampai di situ. Persedikab harus mendapatkan kawalan ketat dari pihak kepolisian. “Kami berada di tengah lapangan lama sekali. Massa tidak terkontrol,” terang pria kelahiran 1973 ini.

Tidak hanya Hadi yang merasakan hal tersebut. Begitu pula dengan Zaenal Abidin, mantan pemain Persedikab ini juga mempunyai pengalaman yang sama dengan seniornya, Hadi.

Ia membenarkan cerita Hadi tersebut. Dikarenakan, saat itu Zaenal juga menjadi tim inti bersama Hadi di partai delapan besar. Bus yang digunakan ke Jepara pun juga menjadi bahan pelampiasan amarah suporter.

Zaenal menambahkan jika para pemain Persedikab akhirnya bisa keluar dari stadion dengan kawalan polisi. Namun mereka harus harus menginap di Polres Jepara. Sebab sampai malam hari para suporter masih melakukan sweeping di jalan raya untuk mencari bus Persedikab. “Lha kalau nggak ada polisi ya wassalam, suporternya banyak sekali,” sambung Zaenal.

Baca Juga :  Bledug Kelud Memastikan Lolos ke 8 Besar

Dari pengalaman inilah, salah satu alasan yang menguatkan para pemain untuk lolos hingga divisi utama pada musim depannya. Hal itu terwujud, Persedikab bisa tembus ke divisi utama karena dorongan tragedi tersebut. “Ibaratnya pecutan semangat, jadi kami sampai lolos,” tandas Zaenal.  

- Advertisement -

Menjalani 28 tahun berjalan di Liga Indonesia, Persedikab pasti punya lika-liku hingga bisa masuk ke jajaran tim pada divisi utama. Termasuk saat menjalani partai delapan besar Divisi 1 Liga Indonesia di Jepara pada 1997. Berhasil menahan imbang tuan rumah Persijap Jepara, Hadi Kuswanto dkk pun harus merasakan dikeroyok oleh suporter.

“Kepala saya ini masih ada bekas lukanya,” ungkap Hadi kepada koran ini. Menurutnya, laga saat itu sangat penting bagi Persedikab pada 1997. Saat itu, skuad Bledug Kelud sedang berusaha keras untuk naik ke jajaran tim divisi utama.

Menurutnya, ketika peluit wasit ditiup menutup jalannya pertandingan itu membuat ribuan suporter kecewa. Dan merangsek masuk dalam stadion. Penjagaan pun ditingkatkan. Termasuk mengerahkan Brimob  untuk melindungi para pemain yang berada di tengah lapangan.

Baca Juga :  Ngotot Menang Lawan Ngawi FC

Amukan suporter tersebut tidak berhenti sampai di situ. Persedikab harus mendapatkan kawalan ketat dari pihak kepolisian. “Kami berada di tengah lapangan lama sekali. Massa tidak terkontrol,” terang pria kelahiran 1973 ini.

Tidak hanya Hadi yang merasakan hal tersebut. Begitu pula dengan Zaenal Abidin, mantan pemain Persedikab ini juga mempunyai pengalaman yang sama dengan seniornya, Hadi.

Ia membenarkan cerita Hadi tersebut. Dikarenakan, saat itu Zaenal juga menjadi tim inti bersama Hadi di partai delapan besar. Bus yang digunakan ke Jepara pun juga menjadi bahan pelampiasan amarah suporter.

Zaenal menambahkan jika para pemain Persedikab akhirnya bisa keluar dari stadion dengan kawalan polisi. Namun mereka harus harus menginap di Polres Jepara. Sebab sampai malam hari para suporter masih melakukan sweeping di jalan raya untuk mencari bus Persedikab. “Lha kalau nggak ada polisi ya wassalam, suporternya banyak sekali,” sambung Zaenal.

Baca Juga :  Bertahan tapi Tak Lupa Menyerang

Dari pengalaman inilah, salah satu alasan yang menguatkan para pemain untuk lolos hingga divisi utama pada musim depannya. Hal itu terwujud, Persedikab bisa tembus ke divisi utama karena dorongan tragedi tersebut. “Ibaratnya pecutan semangat, jadi kami sampai lolos,” tandas Zaenal.  

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/