22.9 C
Kediri
Tuesday, August 16, 2022

Mereka yang Puluhan Tahun Menjadi Juru Masak Pemain Sepak Bola

- Advertisement -

Peran para wanita ini tak bisa diremehkan. Menjadi kunci sukses tidaknya pemain dalam menjaga stamina. Mereka adalah para pengolah menu bagi para pemain Persedikab.

 

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Mes pemain Persedikab terasa lengang. Tak ada aktivitas yang terlihat. Bus pemain pun terparkir di halaman. Sesekali  terlihat beberapa ekor kucing yang sedang berkejaran.

- Advertisement -

Di salah satu ruangan terdengar suara televisi yang menyala. Suara itu berpadu denting gesekan spatula di permukaan penggorengan. Sementara di depan kompor yang menyala terlihat seorang ibu tengah membolak-balik sesuatu di dalam wajan itu.

“Silakan masuk,” ujar seorang wanita sembari membawa piring penuh irisan buah mangga.

Wanita itu bernama Rukiah. Sudah renta, usianya 73 tahun. Tapi langkahnya masih gesit. Fisiknya pun masih terlihat sehat.

Dari salah satu pintu yang dekat dengan kompor, keluar seorang wanita yang lain. Membawa piring yang ada masakannya. Bila dicium dari aromanya, masakan itu seperti soto. Wanit aitu mengenalkan diri sebagai Bu Pri. Meskipun, nama aslinya adalah Supatmi.

Mereka, wanita-wanita itu adalah koki tim Persedikab Kediri. Merekalah yang bertanggung jawab pada menu sehari-hari para pemain tim yang berlaga di Liga 3 Jatim ini.

Baca Juga :  Coach Persedikab Tony Ho Cari Bakat Muda Kediri untuk Liga 3

Rukiah bercerita, mereka awalnya diminta tolong oleh pengurus Persedikab untuk membantu membuatkan makanan bagi pemain yang selesai berlatih. Dia ingat saat itu di tahun 1997. Rukiah pun menuruti dengan dibantu dua anaknya,  Sri Rasmiati dan Sri Harnianingsih.

Selain itu Rukiah juga dibantu oleh Supatmi, istri dari Supriadi, adiknya. “Dulu dimintai tolong untuk membuatkan makanan kepada para pemain, pelatih juga,” terangnya.

Wanita yang akrab dipanggil Emak oleh para pemain ini memang menceritakan bahwa dulunya diminta untuk membuatkan saat setelah latihan saja. Semakin hari, setiap ada pemain yang berkumpul di Mess, Rukiah bersama dengan Mbak Ras dan Mbak Sri, diminta untuk memasakkan.

Awalnya diminta untuk memasakkan sayur dan daging. Lama-kelamaan, setiap hari menu makanan juga diubah agar para pemain tidak bosan. Supatmi mengatakan, pemain Persedikab tidak pernah rewel terhadap makanan yang dihidangkan.

Pengalaman yang paling mengesankan adalah saat Persedikab memiliki pemain asing. Dari Kamerun, Nigeria, hingga Republik Ceko. Karena jarang makan nasi, para pemain asing itu meminta para wanita tangguh itu memasakkan makanan yang mereka sukai. “Sistemnya kan prasmanan, jadi kami bikinkan makanan dalam porsi yang besar. Lalu para pemain mengambil sendiri. Nah, para pemain asing ini jarang makan makanan yang memakai nasis,” terangnya.

Baca Juga :  Bledug Kelud Tetap Main Total

Lalu, dengan dibantu para pemain asing itu, para koki tersebut mencoba membuat menu yang disukai.

Supatmi menjelaskan bahwa sebenarnya masakannya juga tidak jauh beda dengan para pemain lokal. Namun hanya dikurangi nasi saja. Seperti misal, ketika siang hari, para pemain asing ini minta dibuatkan sayur, buah dan daging saja. Tanpa nasi.

Keseruan bersama para punggawa Persedikab Kediri bagi para wanita juru masak itu adalah salah satu bumbu kehidupan. Dimana mereka menganggap para pemain sebagai anak dan cucu mereka sendiri, sedangkan para pemain juga menganggap para juru masak ini adalah ibu mereka saat berada di Mess Persedikab.

Suara dering telepon Supatmi berbunyi. Terdengar pembicaraan bahwa Supatmi diminta untuk membuatkan masakan bagi yang memesan. Memang, selain memasakkan bagi Persedikab, para juru masak ini juga sering diminta untuk memasakkan acara besar kelurahan atau kecamatan di Pare. “Selain itu juga memasakkan dari Polres, terus juga dari Paskibraka juga,” imbuh Mbak Sri.

- Advertisement -

Peran para wanita ini tak bisa diremehkan. Menjadi kunci sukses tidaknya pemain dalam menjaga stamina. Mereka adalah para pengolah menu bagi para pemain Persedikab.

 

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Mes pemain Persedikab terasa lengang. Tak ada aktivitas yang terlihat. Bus pemain pun terparkir di halaman. Sesekali  terlihat beberapa ekor kucing yang sedang berkejaran.

Di salah satu ruangan terdengar suara televisi yang menyala. Suara itu berpadu denting gesekan spatula di permukaan penggorengan. Sementara di depan kompor yang menyala terlihat seorang ibu tengah membolak-balik sesuatu di dalam wajan itu.

“Silakan masuk,” ujar seorang wanita sembari membawa piring penuh irisan buah mangga.

Wanita itu bernama Rukiah. Sudah renta, usianya 73 tahun. Tapi langkahnya masih gesit. Fisiknya pun masih terlihat sehat.

Dari salah satu pintu yang dekat dengan kompor, keluar seorang wanita yang lain. Membawa piring yang ada masakannya. Bila dicium dari aromanya, masakan itu seperti soto. Wanit aitu mengenalkan diri sebagai Bu Pri. Meskipun, nama aslinya adalah Supatmi.

Mereka, wanita-wanita itu adalah koki tim Persedikab Kediri. Merekalah yang bertanggung jawab pada menu sehari-hari para pemain tim yang berlaga di Liga 3 Jatim ini.

Baca Juga :  Ngamuk, Bledug Kelud Gulung Tim Elang Putih

Rukiah bercerita, mereka awalnya diminta tolong oleh pengurus Persedikab untuk membantu membuatkan makanan bagi pemain yang selesai berlatih. Dia ingat saat itu di tahun 1997. Rukiah pun menuruti dengan dibantu dua anaknya,  Sri Rasmiati dan Sri Harnianingsih.

Selain itu Rukiah juga dibantu oleh Supatmi, istri dari Supriadi, adiknya. “Dulu dimintai tolong untuk membuatkan makanan kepada para pemain, pelatih juga,” terangnya.

Wanita yang akrab dipanggil Emak oleh para pemain ini memang menceritakan bahwa dulunya diminta untuk membuatkan saat setelah latihan saja. Semakin hari, setiap ada pemain yang berkumpul di Mess, Rukiah bersama dengan Mbak Ras dan Mbak Sri, diminta untuk memasakkan.

Awalnya diminta untuk memasakkan sayur dan daging. Lama-kelamaan, setiap hari menu makanan juga diubah agar para pemain tidak bosan. Supatmi mengatakan, pemain Persedikab tidak pernah rewel terhadap makanan yang dihidangkan.

Pengalaman yang paling mengesankan adalah saat Persedikab memiliki pemain asing. Dari Kamerun, Nigeria, hingga Republik Ceko. Karena jarang makan nasi, para pemain asing itu meminta para wanita tangguh itu memasakkan makanan yang mereka sukai. “Sistemnya kan prasmanan, jadi kami bikinkan makanan dalam porsi yang besar. Lalu para pemain mengambil sendiri. Nah, para pemain asing ini jarang makan makanan yang memakai nasis,” terangnya.

Baca Juga :  Bledug Kelud dan Persekam Lolos 32 Besar

Lalu, dengan dibantu para pemain asing itu, para koki tersebut mencoba membuat menu yang disukai.

Supatmi menjelaskan bahwa sebenarnya masakannya juga tidak jauh beda dengan para pemain lokal. Namun hanya dikurangi nasi saja. Seperti misal, ketika siang hari, para pemain asing ini minta dibuatkan sayur, buah dan daging saja. Tanpa nasi.

Keseruan bersama para punggawa Persedikab Kediri bagi para wanita juru masak itu adalah salah satu bumbu kehidupan. Dimana mereka menganggap para pemain sebagai anak dan cucu mereka sendiri, sedangkan para pemain juga menganggap para juru masak ini adalah ibu mereka saat berada di Mess Persedikab.

Suara dering telepon Supatmi berbunyi. Terdengar pembicaraan bahwa Supatmi diminta untuk membuatkan masakan bagi yang memesan. Memang, selain memasakkan bagi Persedikab, para juru masak ini juga sering diminta untuk memasakkan acara besar kelurahan atau kecamatan di Pare. “Selain itu juga memasakkan dari Polres, terus juga dari Paskibraka juga,” imbuh Mbak Sri.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/