JP Radar Kediri - Indonesia pernah punya perempuan-perempuan hebat yang melampaui zamannya. Sebut saja RA Kartini, Dewi Sartika hingga Cut Nyak Dien. Mereka bukan sekadar catatan sejarah, tapi fondasi yang menguatkan langkah perempuan Tanah Air hingga hari ini.
Kini, perjuangan mereka dilanjutkan oleh perempuan-perempuan yang tak kalah hebatnya. Para perempuan ini berkiprah di berbagai bidang. Salah satunya adalah penegakan hukum di kejaksaan. Jaksa tidak hanya didominasi oleh laki-laki. Perempuan juga ada di posisi ini.
Itu dibuktikan dengan sepak terjang yang ditunjukkan oleh Dr. Ika Mauluddhina, S.H., M.H., CSSL., CCD.,. Ibu dari empat putra dan putri ini kini menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Nganjuk sejak 2024. Posisi ini melengkapi perjalanan kariernya selama dua dasawarsa.
Selama menjabat sebagai Kajari Nganjuk, Ika telah mengukir banyak prestasi. Baik yang diterima oleh Kejari Nganjuk, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur maupun Kejaksaan Agung RI hingga apresiasi dari lintas institusi di tingkat daerah.
Menurut Ika, semua perolehan prestasi itu merupakan buah dari proses yang tidak instan. Di dalamnya ada perjuangan, kerja sama, dan kerja keras. Prestasi Kejari Nganjuk di bawah pimpinannya itu menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan semata soal gender. “Tetapi ada profesionalitas, tanggung jawab dan dedikasi,” kata Ika.
“Relentless determination is the quiet power.” Kata Ika, quotes ini dapat menemukan maknanya pada perempuan yang tetap berdiri tegak dan profesional, meski kadang diterpa keraguan, cibiran, atau ekspektasi berlapis. Tetapi tetap memilih bertahan, bekerja dengan hati, dan menjaga kehormatan diri, institusi, serta tanggung jawab yang diembannya.
Dia menambahkan, “relentless determination” bukan tentang kerasnya sikap, melainkan tentang kesetiaan pada peran. Tentang terus memilih bertanggung jawab. Bahkan ketika tidak ada yang melihat. Meskipun perempuan tetaplah perempuan. “Setinggi apa pun jabatan dan sebesar apa pun prestasi, seorang perempuan akan selalu kembali pada fitrahnya,” ujarnya.
Dari sisi profesional, dia harus memiliki kewibawaan dan ketegasan sebagai seorang jaksa. Namun, di sisi lain, sebagai seorang perempuan, Ika tetap memiliki tanggung jawab besar.
Baca Juga: Sosok Kepala SMAN 1 Ngadiluwih Kediri, Tanamkan Karakter Juara SMANGAD
Apalagi Ika juga menjalani peran sebagai seorang istri. Dalam keadaan lelah dengan pekerjaannya, dia tetap harus mendengar dan menguatkan untuk menjaga keharmonisan keluarga.
Sebagai ibu dari anak-anaknya, Ika punya andil untuk memberikan kehangatan dan tempat yang nyaman. Karena di sinilah anak menemukan penghormatan kepada orang tuanya. Itu hal yang sama dilakukan Ika kepada bapak dan ibunya.
Sebagai seorang istri, hadir bukan dalam tuntutan, melainkan dalam kesetiaan yang memilih bertahan. Dalam kemampuan seorang perempuan untuk tetap menjadi tenang ketika lelah, untuk tetap mendengar ketika ingin bicara, dan untuk tetap menguatkan meski ketika dirinya sendiri sedang rapuh.
“Keberhasilan yang diraih di ruang publik sering kali menuntut pengorbanan yang tak kecil. Ada waktu yang terpotong, ada lelah yang disimpan, dan ada perasaan yang harus dikelola dengan bijak. Namun justru dari proses itulah lahir ketangguhan yang sesungguhnya,” pungkas Ika.
Editor : Shinta Nurma Ababil