KOTA, JP Radar Kediri– Ada yang berbeda dengan Dhoho Street Fashion (DSF) keenam di Gua Selomangleng, Mojoroto kemarin. Tidak seperti tahun sebelumnya, gelar fashion kali ini berlangsung secara live di jejaring online media sosial. Ini karena pandemi Covid-19 di Kota Kediri belum reda.
Meski begitu, acara yang menampilkan para peraga busana itu tetap semarak dan meriah. Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa pun hadir di perhelatan ini.
“Dhoho Street Fashion keenam ini mudah-mudahan menjadi ikhtiar bersama untuk memperluas market,” jelasKhofifah seusai acara.
Di hadapan wartawan, ia mengatakan, banyak produsen kain tenun ikat di Kota Kediri. Namun jika para penenun tidak sering ketemu pembeli dan desainer, motif yang dikreasi bisa menjadi monoton. Ketika mereka ketemu desainer, produk yang dipesan dapat disesuaikan.
“Dengan begitu perajin akan mengetahui tentang tren warna, desain yang sesuai diinginkan oleh pasar,” ulas Khofifah.
Ia menambahkan, telah melihat proses tenun yang saat ini perajinnya para anak muda. Hal ini membuat Khofifah yakin, proses pelestarian tenun ikat on the right track. Desain pun terus ter-update, sehingga DSF menjadi bagian penting yang harus ditumbuhkembangkan.
“Tadi saya sampaikan Pak Wali dengan Mas Priyo jika terus menyelenggarakan ini nanti akan disambungkan ke pemprov dan diadakan di Jakarta,” paparnya.
Khofifah menilai, tenun ikat Kediri sangat berpotensi dikembangkan ke skala lebih besar. Mengingat dalam hal industri fashion khususnya syariah, Indonesia masuk 10 besar dunia.
Tahun ini DSF mengangkat tema Energy of Kilisuci. “Format Dhoho Street Fashion ini unik dan ikonik, yang saya ingin pertahankan gelaran ini selalu mengangkat tema outdoor,” terang Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar.
Perempuan yang kerap dipanggil Bunda Fey ini ingin mengajak lebih banyak desainer. Pada DSF kemarin, ragam outfits kreatif yang ditampilkan ada 32 karya desainer nasional dan desainer Kota Kediri. Desainer yang tampil adalah Priyo Oktaviano, Era Soekamto, dan Samira M. Bafagih. Sedangkan desainer Kota Kediri adalah Azzkasim Boutique, Numansa Batik Dermo, Luxe Caesar Boutique, dan siswa SMK Negeri 3 Kota Kediri.
“Tema kali ini lebih ke Awakening of Kilisuci, jadi lebih ke tentang emansipasi wanita, yang bajunya kasual dan ready to wear,” terang Priyo, desainer nasional yang berpartisipasi.
Busana bersifat dinamis, praktis, urban, dan easy to wear tapi tetap tidak meninggalkan unsur makna Nusantara Indonesia. Style dari koleksi kali ini adalah urban, cosmo, dinamik, dan ready to wear. Priyo mengambil palet warna grey stone, green lime, orange mandarin, dan yellow mustard. Inspirasi ini dari warna alam lingkungan (Gua Selomangleng). Selain itu, show juga di alam terbuka sehingga palet warnanya sesuai. (ara/ndr)
Editor : adi nugroho