26.9 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Punya JKN-KIS, Peserta Tak Akan Khawatir Sakit Mendadak

KEDIRI, JP Radar Kediri – Membutuhkan pelayanan kesehatan mendadak dengan biaya yang tidak sedikit tentu akan merepotkan. Seperti penuturan Intan Ratna Sari. Tak disangka kelahiran putra pertamanya harus melalui operasi sesar karena Preeklamsia. Beruntung, Warga Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri itu telah terdaftar aktif sebagai peserta JKN-KIS (Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat) sejak 2016. Sehingga dia tidak kebingungan dengan biaya pelayanan kesehatan yang harus dikeluarkan untuk operasi sesar.
“Tidak ada JKN-KIS, saya kira sangat kerepotan kalau seperti proses lahiran mendadak, apalagi yang membutuhkan biaya banyak, pasti bingung,” ujar perempuan 26 tahun ini.

Intan mengakui keinginannya melahirkan secara normal, namun karena kondisi tekanan darah yang tinggi, sehingga dia harus melahirkan melalui operasi sesar.
“Tahunya dari bidan. Selama ini tensi tidak pernah tinggi, tiba-tiba jadi 150. Kemudian dibawa ke dokter, lalu dirujuk untuk operasi sesar karena tensi tidak turun,” jelasnya.

Saat itu usia kehamilan Intan 8,5 bulan. Namun dokter menyarankan agar dilahirkan pada usia 9 bulan karena mempertimbangkan kondisi bayi. Bersyukur, semua prosesnya berjalan lancar.
“Harus dipaskan 9 bulan karena kasihan bayinya. Sebenarnya dulu minta dikasih perangsang tetapi ternyata tetap tidak bisa karena tensinya tinggi, akan membahayakan. Alhamdulillah lancar, tidak ada kendala apapun,” tuturnya.

Baca Juga :  RUPSLB BRI: 96% Suara Setuju Penerbitan 28,67 Miliar Lembar Saham Baru

Meskipun sebagai peserta mandiri kelas 3, Intan mengaku percaya diri menggunakan JKN-KIS. Dia mendapatkan pelayanan yang bagus, tidak dibedakan dengan pasien lainnya, dan gratis tanpa iuran biaya.
“Pelayanannya bagus, perawatnya kalau dipanggil langsung datang, tidak dibedakan. Saya tidak naik kelas, tidak masalah, tempatnya nyaman. Dan tidak ada biaya sama sekali. Kalau tidak pakai JKN mungkin ya sekitar Rp 10 juta lebih,” ucap Intan.

Sehingga adanya JKN-KIS sangat penting bagi ibu rumah tangga ini. Tidak hanya untuk dirinya, Intan menceritakan JKN-KIS telah menolong bapaknya yang mendadak terserang stroke dua bulan lalu. Intan tidak bisa menghitung berapa biaya yang sudah dihabiskan untuk biaya pelayanan kesehatan bapaknya hingga saat ini jika tidak menggunakan JKN-KIS.
“Sebenarnya penting (memiliki JKN-KIS), karena kalau ada biaya (pelayanan kesehatan) yang mendadak kita tidak bingung, tinggal pakai JKN. Ngurusnya juga kan mudah, tidak ada biaya apapun. 2 bulan lalu bapak saya opname 8 hari di rumah sakit karena stroke, tidak ada biaya sama sekali. Sampai sekarang masih kontrol 2 minggu sekali dan konsumsi obat terus, semuanya ditanggung BPJS,” jelasnya.

Baca Juga :  Mas Novi Serahkan Alsintan kepada Puluhan Kelompok Tani

Meskipun kini kondisi Intan sehat, dirinya niatkan membayar iuran JKN-KIS untuk membantu peserta lain yang sedang sakit.
“Alhamdulillah sehat, ya masih rutin bayar iuran. Kalau saya pribadi, misal tidak dipakai, diniatkan buat yang lain yang sedang sakit. Secara tidak langsung bisa membantu orang lain”, terangnya.
Intan mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan BPJS Kesehatan dengan adanya Program JKN-KIS. Dia berharap program ini bisa terus berjalan. (*)

- Advertisement -

KEDIRI, JP Radar Kediri – Membutuhkan pelayanan kesehatan mendadak dengan biaya yang tidak sedikit tentu akan merepotkan. Seperti penuturan Intan Ratna Sari. Tak disangka kelahiran putra pertamanya harus melalui operasi sesar karena Preeklamsia. Beruntung, Warga Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri itu telah terdaftar aktif sebagai peserta JKN-KIS (Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat) sejak 2016. Sehingga dia tidak kebingungan dengan biaya pelayanan kesehatan yang harus dikeluarkan untuk operasi sesar.
“Tidak ada JKN-KIS, saya kira sangat kerepotan kalau seperti proses lahiran mendadak, apalagi yang membutuhkan biaya banyak, pasti bingung,” ujar perempuan 26 tahun ini.

Intan mengakui keinginannya melahirkan secara normal, namun karena kondisi tekanan darah yang tinggi, sehingga dia harus melahirkan melalui operasi sesar.
“Tahunya dari bidan. Selama ini tensi tidak pernah tinggi, tiba-tiba jadi 150. Kemudian dibawa ke dokter, lalu dirujuk untuk operasi sesar karena tensi tidak turun,” jelasnya.

Saat itu usia kehamilan Intan 8,5 bulan. Namun dokter menyarankan agar dilahirkan pada usia 9 bulan karena mempertimbangkan kondisi bayi. Bersyukur, semua prosesnya berjalan lancar.
“Harus dipaskan 9 bulan karena kasihan bayinya. Sebenarnya dulu minta dikasih perangsang tetapi ternyata tetap tidak bisa karena tensinya tinggi, akan membahayakan. Alhamdulillah lancar, tidak ada kendala apapun,” tuturnya.

Baca Juga :  RUPSLB BRI: 96% Suara Setuju Penerbitan 28,67 Miliar Lembar Saham Baru

Meskipun sebagai peserta mandiri kelas 3, Intan mengaku percaya diri menggunakan JKN-KIS. Dia mendapatkan pelayanan yang bagus, tidak dibedakan dengan pasien lainnya, dan gratis tanpa iuran biaya.
“Pelayanannya bagus, perawatnya kalau dipanggil langsung datang, tidak dibedakan. Saya tidak naik kelas, tidak masalah, tempatnya nyaman. Dan tidak ada biaya sama sekali. Kalau tidak pakai JKN mungkin ya sekitar Rp 10 juta lebih,” ucap Intan.

Sehingga adanya JKN-KIS sangat penting bagi ibu rumah tangga ini. Tidak hanya untuk dirinya, Intan menceritakan JKN-KIS telah menolong bapaknya yang mendadak terserang stroke dua bulan lalu. Intan tidak bisa menghitung berapa biaya yang sudah dihabiskan untuk biaya pelayanan kesehatan bapaknya hingga saat ini jika tidak menggunakan JKN-KIS.
“Sebenarnya penting (memiliki JKN-KIS), karena kalau ada biaya (pelayanan kesehatan) yang mendadak kita tidak bingung, tinggal pakai JKN. Ngurusnya juga kan mudah, tidak ada biaya apapun. 2 bulan lalu bapak saya opname 8 hari di rumah sakit karena stroke, tidak ada biaya sama sekali. Sampai sekarang masih kontrol 2 minggu sekali dan konsumsi obat terus, semuanya ditanggung BPJS,” jelasnya.

Baca Juga :  Salad Sayur: Demi Sehat, Pakai Hidroponik

Meskipun kini kondisi Intan sehat, dirinya niatkan membayar iuran JKN-KIS untuk membantu peserta lain yang sedang sakit.
“Alhamdulillah sehat, ya masih rutin bayar iuran. Kalau saya pribadi, misal tidak dipakai, diniatkan buat yang lain yang sedang sakit. Secara tidak langsung bisa membantu orang lain”, terangnya.
Intan mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan BPJS Kesehatan dengan adanya Program JKN-KIS. Dia berharap program ini bisa terus berjalan. (*)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/