Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Show Case
icon featured
Show Case
HIMA-TKA Politeknik Negeri Madiun

Edukasi Warga Konversi Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos

25 Oktober 2021, 14: 39: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

Edukasi Warga Konversi Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos

RINGANKAN BEBAN: Mahasiswa HIMA-TKA Politeknik Negeri Madiun menunjukkan alat pencacah sampah yang sudah dimodifikasi dan dihibahkan untuk warga Desa Banjarejo, Ngadiluwih.

Share this      

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Himpunan Mahasiswa Teknik Perkeretaapian (HIMA-TKA) Politeknik Negeri Madiun mengajak warga Desa Banjarejo, Ngadiluwih mendaur ulang sampah rumah tangga menjadi olahan terbarukan. HIMA-TKA bersama warga mengubah sampah di sekitar menjadi pupuk organik siap pakai.

Kegiatan tersebut wujud penerapan program Pemberdayaan Masyarakat Desa (P2MD). P2MD adalah program lapangan yang diadakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) khusus bagi mahasiswa vokasi. P2MD HIMA-TKA PNM diikuti 15 mahasiswaterpilihJurusanTeknik Prodi D4 Perkeretaapian bersama 16 volunteer dan satu dosen pendamping. Kegiatan dimulai sejak April hingga Desember mendatang.

Akbar Arliawan, Ketua P2MD HIMA-TKA PNM menjelaskan, program HIMA-TKA terapkan di Desa Banjarejo antara lain penyuluhan dan pelatihan cara pemembuatan pupuk organik menggunakan alat pencacah sampah organik. “Program tersebut terinisiasi dari peninjauankamidipenghujung September. Di sana banyak sekali sampah organik yang layak dikonversi,” tuturnya.

Baca juga: Gelar Maulid Nabi, Airlangga Minta Doa Ulama Hadapi Pemilu 2024  

Langkah awal yang HIMA-TKA lakukan adalah penyuluhan kepada warga sekitar. Materi penyuluhan meliputi tata cara pengolahan dan pemilahan sampahorganikdannon-organik. Setelah itu, mahasiswa memberi penyuluhanterkaitpengoperasian alat pencacah. Mulai cara penggunaan alat sampai perawatan alat. “Alat tersebut kami beli dan kami modifikasi sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, penyuluhan dan pelatihan menurut Akbar diadakan secara bertahap. Setelah penyuluhan selesai, mahasiswa mengajak warga sekitar mempraktikkan cara memilah sampah dan mengoperasikan alat pencacah secara langsung di lapangan. Mahasiswa juga memberikan bantuan berupa alat pencacah, drum dekomposer, serta alat penunjang pertanian lainnya. “Kami berharap masyarakat bisa memanfaatkan alat tersebut dengan baik. Agar hasil olahan sampah organik bisa menjadi pupuk kompos unggulan serta memiliki nilai jual tinggi.

Terpisah, Alfi Tranggono Agus Salim, S.Si, MT, dosen pendamping P2MD HIMA-TKA menjelaskan, selain penyuluhan dan praktik pengolahan sampah melalui alat pencacah, pihaknya juga memberi pelatihan kewirausahaan. Materi meliputi cara penjualan produk secara online. Kemudian pembuatan izin edar dan pembuatan desain produk. “Kami berikan pelatihan secara kompleks mulai dari pemilahan, pengoperasian hingga menjual produk,” terangnya.

Pengawasan akan terus berjalan setelah praktik lapangan selesai. Pengawasan bertujuan untuk mengevaluasi jalannya program. Dilakukan dua kali selama empat bulan. “Selain pengawasan di lapangan, kami juga terus follow- up lewat grup WhatsApp,” tandasnya. (ik4/adv/ut)

Kegiatan P2MD bisa dilihat di kanal YouTube 

HIMA-TKA. Link:

https://www.youtube.com/channel/UCNS7D4_jIeeicWhDzbsMVlQ

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia