Selasa, 18 Jan 2022
Radar Kediri
Home / Show Case
icon featured
Show Case

Efek Rumah Kaca, Suhu Bumi Terpanas Sepanjang Sejarah

13 Januari 2022, 11: 32: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

Efek Rumah Kaca, Suhu Bumi Terpanas Sepanjang Sejarah

Share this      

Ini mungkin fenomena yang sulit dimengerti. Selama pandemi kualitas udara membaik. Tapi, suhu udara di bumi malah menjadi yang terpanas sepanjang sejarah.

“Laporan NASA (badan penerbangan dan antariksa Amerika Serikat, Red) mencatat 2020 sebagai rekor tahun terpanas sepanjang sejarah,” terang pemerhati lingkungan dr Haryono.

Menurutnya, pembatasan kegiatan masyarakat menyebabkan kualitas udara di dunia mengalami perbaikan, begitu juga di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat pada 2020 IKU Indonesia meningkat sebesar 0,65 poin. Dari 86,56 pada 2019 menjadi 87,21.

Baca juga: BRI Edukasi Manfaat Digitalisasi Transaksi bagi Pelaku Usaha

Kementerian juga mengklaim seluruh kota besar di Indonesia memasuki zona hijau untuk kualitas udara selama pandemic. Dan ini menjadi yang pertama kali dalam sejarah.

Tapi di sisi lain, pada 2020 sejak awal pandemi suhu udara di bumi ini juga menjadi yang terpanas sepanjang sejarah, sama dengan 2016. “Tahun lalu, suhu rata-rata global mengalami kenaikan 1,02 derajat celcius dibandingkan rata-rata suhu pada 1951-1980. Hal ini membuat rata-rata suhu global sepanjang 2020-2021 sekitar 14,9 derajat celcius. Artinya sudah sekitar 33 derajat lebih panas dari temperatur semula," urai ahli Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri itu.

Kenapa ketika kualitas udara mengalami perbaikan selama pandemi, suhu bumi justru tak ikut membaik? Bahkan mencapai rekor terpanas yang pernah ada?

Haryono mengatakan bahwa umur polutan di udara relatif pendek. Hanya hitungan hari atau paling lama bulan. Sehingga ketika sumbernya dibersihkan maka dalam waktu singkat udara akan bersih lagi.

Sumber polutan utama di kota-kota besar adalah dari bahan bakar kendaraan bermotor. Hampir 70 persen polutan di kota-kota besar berasal dari kegiatan transportasi. Sementara itu, selama pandemi Covid-19 berbagai aktivitas masyarakat banyak dibatasi. Sehingga aktivitas transportasi juga mengalami penurunan yang signifikan.

“Begitu transportasi menurun maka sudah jadi konsekuensi logis kualitas udara membaik. Karena sumber utamanya sudah tidak ada,” tuturnya.

Berbeda dengan gas rumah kaca, salah satu penyebab utama pemanasan global, yang memiliki lifetime atau umur panjang. Jika umur polutan udara hanya hitungan hari, umur gas rumah kaca bisa mencapai ratusan tahun. Karena memiliki umur yang panjang, meskipun sumbernya dihentikan, gas rumah kaca tidak langsung habis.

“Kalau polutan kan misalnya sekarang ada kebakaran hutan, dua hari kemudian hujan deras, habis itu sudah bersih. Tetapi CO2-nya itu masih mengambang di atmosfer. Masih bisa menyebabkan efek pemanasan global,” lanjutnya.

Penyebab kenaikan suhu bumi ini diduga juga sebagai akumulasi gas rumah kaca yang mengeras selama ratusan tahun. Hal ini membuat pandemi tak mampu mencegah menghangatnya suhu bumi hingga memecahkan rekor baru sejak 1800.

Menurutnya ada tiga gas rumah kaca yang jadi pemicu utama pemanasan suhu bumi ini. Di antaranya karbon dioksida (CO2) yang menyumbang 50 persen radiasi panas, metana (CH4) sebesar 29 persen, serta nitrat oksida (N20) sebanyak 5 persen. Sementara 16 persen sisanya berasal dari karbon monoksida, karbon hitam, serta holokarbon termasuk freon.

“Jadi meskipun sumbernya dihentikan, udara sudah lebih bersih, tapi gas rumah kacanya masih ada di atmosfer bahkan hingga ratusan tahun,” pungkasnya. (ica/fud)

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia