Mainan gerabah jadi salah satu permainan ikonik anak-anak era 70-an. Berbentuk miniatur perlengkapan dapur dari keramik—mulai teko, kompor, piring, gelas hingga ulekan—mainan ini dulu selalu jadi rebutan di pasar tradisional.
Di masa itu, satu set lengkap berisi 13 item bisa dibeli dengan harga sekitar Rp2.500. Kini, harga mainan serupa tembus Rp35 ribu per set, atau sekitar Rp3 ribu per unit, tergantung ukuran dan variasi. Sayangnya, keberadaannya semakin sulit ditemui, apalagi di kota besar yang sudah jarang menjualnya.
“Dulu seru sekali main pasar-pasaran pakai mainan gerabah. Gedebog pisang bisa jadi ikan, pasir kita anggap nasi, bahkan tumbuhan dijadikan sayur. Anak laki-laki juga ikut, biasanya jadi pembeli,” kenang Ida Sulistyawati, pelestari manian tradisional dari Kediri.
Menurut ibu yang biasa dipanggil Ida itu, Permainan sederhana itu biasanya dimainkan berkelompok. Anak-anak perempuan berperan sebagai penjual, sementara laki-laki jadi pembeli. Imajinasi dan kreativitas mereka menghidupkan suasana pasar sungguhan di halaman rumah atau lapangan desa.
Berbeda dengan mainan masa kini yang mayoritas berbahan plastik dan hadir dengan warna-warni menarik, mainan gerabah justru mengajarkan anak-anak agar lebih berhati-hati. Karena terbuat dari tanah liat, mainan ini rawan pecah, namun sekaligus punya nilai seni yang tak tergantikan.
Kini, sebagian besar anak-anak lebih akrab dengan gawai. Mereka menghabiskan waktu di rumah, sibuk dengan media sosial atau game online. Pola bermain ini berbeda jauh dengan masa lalu, ketika anak-anak lebih banyak berkreasi dengan bahan seadanya. Ranting bisa jadi ketapel, kaleng bekas disulap jadi otok-otok, dan lain sebagainya.
Kondisi ini membuat interaksi sosial anak semakin berkurang. “Bermain langsung dengan alam itu berbeda. Anak jadi lebih aktif, kreatif, dan terbiasa bersosialisasi,” tambah Ida.
Di tengah gempuran teknologi, peran orang tua sangat penting. Mereka bisa mengatur waktu anak dalam bermain sekaligus mengenalkan kembali permainan tradisional, termasuk mainan gerabah.
Meski kini kian langka, mainan gerabah tetap meninggalkan jejak nostalgia. Selain menyimpan kenangan masa kecil, mainan ini juga bisa menjadi media untuk melestarikan budaya sekaligus mempererat kebersamaan anak-anak dengan teman sebayanya.
Penulis : Sonia Sinaga, Mahasiswa Unesa Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis