Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Takjil, Dari Sejarah hingga Tradisi Berbuka Puasa di Indonesia

A
Kolak Pisang adalah kudapan umum yang dijadikan tajil ramadhan
Kolak Pisang adalah kudapan umum yang dijadikan tajil ramadhan

JP Radar Kediri - Takjil merupakan istilah yang sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia terutama saat bulan Ramadan. Secara umum takjil merujuk pada makanan atau minuman ringan yang disajikan untuk membatalkan puasa saat waktu berbuka tiba. Namun, secara etimologis kata "takjil" berasal dari bahasa Arab "ta'jil" yang berarti "menyegerakan".


Advertisement

Dalam konteks puasa, ini merujuk pada anjuran untuk segera berbuka ketika waktunya tiba sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: "Manusia masih terhitung dalam kebaikan selama ia menyegerakan berbuka"

Di Indonesia terjadi pergeseran makna kata "takjil". Pada awalnya istilah ini digunakan untuk menggambarkan tindakan menyegerakan berbuka puasa. Namun seiring waktu "takjil" mengalami perluasan makna dan kini lebih sering digunakan untuk menyebut penganan atau minuman ringan yang dikonsumsi saat berbuka. Perkembangan ini menunjukkan adaptasi budaya dan bahasa yang dinamis dalam masyarakat Indonesia. 

Advertisement

Tradisi menyajikan takjil di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang. Catatan dari cendekiawan Belanda Christiaan Snouck Hurgronje pada tahun 1889 mengungkapkan bahwa masyarakat Aceh telah memiliki kebiasaan berbuka puasa bersama di masjid dengan hidangan khas seperti Ie Bu Peudah sejenis bubur pedas. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi takjil telah menjadi bagian integral dari budaya Muslim di Nusantara sejak lama.

Selain itu, Wali Songo para penyebar Islam di Jawa pada abad ke-15 juga menggunakan makanan sebagai media dakwah. Mereka memperkenalkan hidangan berbuka puasa yang menggunakan bahan lokal seperti pisang, ubi jalar, dan gula merah, yang kemudian dikenal sebagai kolak. Nama "kolak" diyakini berasal dari kata Arab "khalik" yang berarti "Pencipta", sebagai simbol ajakan mendekatkan diri kepada Tuhan saat berbuka puasa. 

Advertisement

Peran organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah juga signifikan dalam mempopulerkan tradisi takjil. Pada awal abad ke-20, Muhammadiyah mengadakan kegiatan buka puasa bersama di masjid-masjid sebagai sarana dakwah dan mempererat silaturahmi.

Kegiatan ini menarik minat masyarakat untuk lebih aktif dalam kegiatan keagamaan selama Ramadan dan turut melestarikan tradisi takjil. 

Saat ini, tradisi takjil telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Ramadan di Indonesia. Berbagai jenis penganan khas daerah disajikan sebagai takjil, mulai dari kolak, es buah, hingga gorengan.

Meskipun makna awalnya adalah menyegerakan berbuka, dalam konteks budaya Indonesia, takjil telah berkembang menjadi simbol kebersamaan dan kekayaan kuliner yang mewarnai bulan suci Ramadan.

Advertisement

Artikel Terkait

Tetes Mata Saat Puasa, Apakah Membatalkan? Ini Penjelasan Hukumnya

Tetes Mata Saat Puasa, Apakah Membatalkan? Ini Penjelasan Hukumnya

Penggunaan tetes mata pada umumnya dilakukan untuk menjaga kesehatan mata, mengatasi mata kering, iritasi, infeksi, alergi, maupun gangguan kesehatan mata lainnya.

Goa Selomangleng, Salah Satu Wisata Sejarah Kediri yang Wajib Kamu Kunjungi

Goa Selomangleng, Salah Satu Wisata Sejarah Kediri yang Wajib Kamu Kunjungi

Goa Selomangleng menjadi destinasi wisata bersejarah yang terletak di Kota Kediri, Jawa Timur.

Mengintip Warisan Budaya Kediri, Jejak kuno di Balik Koleksi Museum Airlangga

Mengintip Warisan Budaya Kediri, Jejak kuno di Balik Koleksi Museum Airlangga

Kediri merupakan kota yang dikenal menyimpan berbagai peninggalan sejarah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer