JP Radar Kediri – Menjalankan ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga terbenam matahari.
Tantangan terberat justru seringkali muncul dari dalam diri sendiri, yakni mengendalikan emosi atau amarah.
Lantas, benarkah marah bisa membatalkan puasa? Dan sejauh mana batas marah yang masih diperbolehkan?
Marah Tidak Membatalkan Puasa, Tapi...
Secara hukum fikih, marah tidak termasuk dalam daftar hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik, seperti makan, minum, atau hubungan suami istri.
Namun, para ulama sepakat bahwa amarah yang meledak-ledak dapat merusak kualitas ibadah tersebut.
Baca Juga: Donor Darah Saat Puasa Ramadhan: Apakah Membatalkan Puasa dan Aman Bagi Tubuh?
Mengutip dari laman Islam NU, puasa seseorang tetap dianggap sah secara hukum jika ia marah, namun ia berisiko kehilangan esensi dan pahalanya.
Sebagaimana sebuah hadits mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus.
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
Rubba sha-imin laisa lahu min shiyamihi illal juu', wa rubba qa-imin laisa lahu min qiyamihi illas sahar
Artinya: "Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar, dan betapa banyak orang yang shalat malam namun tidak mendapatkan apa-apa dari shalat malamnya kecuali begadang (habis waktu tidur)." (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Baca Juga: Puasa bagi Pasien Jantung Tak Boleh Asal, Kenali Batas Risikonya
Mengenal Dua Jenis Kemarahan dalam Islam
Penting bagi kita untuk memahami bahwa dalam Islam, marah tidak selalu dipandang buruk. Ada dua kategori besar kemarahan yang perlu diketahui:
Marah yang Tercela (Al-Ghadhab al-Madzmum)
Kemarahan yang muncul karena dorongan hawa nafsu, ego pribadi, atau urusan duniawi yang sepele.
Marah jenis inilah yang harus diredam sekuat tenaga saat berpuasa karena dapat menghanguskan pahala.
Marah yang Terpuji (Al-Ghadhab al-Mahmud)
Kemarahan yang muncul demi membela kebenaran atau ketika aturan Allah dilanggar.
Dalam Islam, ada kondisi tertentu di mana marah diperbolehkan, bahkan dianjurkan, asalkan tujuannya bukan karena hawa nafsu.
Marah karena Allah, misalnya saat melihat ketidakadilan atau kemaksiatan. Ini dianggap sebagai bentuk keimanan, selama disampaikan dengan adab yang benar dan tidak melampaui batas.
Baca Juga: 5 Pilihan Olahraga Ringan yang Aman Saat Puasa, Bikin Tubuh Tetap Aktif dan Sehat Selama Ramadan
Tips Mengendalikan Amarah Saat Berpuasa
Agar puasa kita tetap berkualitas dan mendapatkan pahala utuh, berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan saat emosi mulai memuncak:
- Membaca Ta’awudz guna memohon perlindungan Allah dari godaan setan.
- Memilih diam jika mulai emosi, agar tidak keluar kalimat yang menyakiti.
- Mengubah posisi, jika marah saat berdiri, duduklah. Jika masih marah, berbaringlah.
- Berwudhu, karena air wudhu dipercaya dapat memadamkan "api" amarah dalam hati.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil