JP Radar Kediri - Dalam tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, tahlilan seringkali diadakan pada malam Jumat. Kegiatan ini sudah menjadi bagian dari budaya keagamaan yang mengakar kuat, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU).
Namun, apa sebenarnya alasan malam Jumat sering dipilih untuk mengadakan tahlilan? Apakah ini hanya tradisi atau ada dasar keagamaannya?
Apa itu tahlilan? Tahlilan adalah kegiatan keagamaan yang dilakukan secara berjamaah dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an, dzikir, doa, dan bacaan tahlil (kalimat "Laa ilaaha illallah") yang ditujukan untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia.
Kegiatan ini sering dilakukan dalam rangka peringatan hari kematian (1 hari, 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, hingga haul tahunan), serta sebagai bentuk mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan keimanan bersama.
Mengapa malam jumat? Ada beberapa alasan mengapa malam Jumat dipilih sebagai waktu yang utama untuk mengadakan tahlilan:
Pertama, malam jumat adalah waktu mustajab untuk berdoa. Dalam banyak hadits disebutkan bahwa malam Jumat adalah waktu yang mulia. Salah satu keutamaannya adalah sebagai waktu mustajab untuk berdoa.
Oleh karena itu, umat Islam memanfaatkan malam Jumat untuk memperbanyak doa dan dzikir, termasuk mendoakan orang-orang yang telah wafat.
“Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat. Maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari itu...” (HR. Abu Dawud).
Kedua, pahala membaca Al-Qur'an dan dzikir lebih ditekankan di Malam Jumat. Malam Jumat dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an, terutama Surah Yasin dan Al-Kahfi.
Dalam tahlilan, bacaan Yasin merupakan bagian utama, sehingga banyak orang menggabungkan tradisi tahlilan dengan amalan ini.
Ketiga, malam jumat adalah hari ziarah dan ingat kematian. Menurut sebagian ulama, malam Jumat juga menjadi saat yang tepat untuk mengingat kematian dan mendoakan para arwah.
Dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia, malam Jumat sering diisi dengan ziarah kubur. Maka, tahlilan dianggap sebagai bagian dari amal jariyah yang memberikan manfaat bagi orang yang telah meninggal.
Keempat, tradisi yang mengakar dalam budaya Islam Nusantara. Meskipun tahlilan tidak dikenal dalam praktik Islam di Timur Tengah, di Nusantara (terutama di Indonesia dan sebagian Malaysia), kegiatan ini merupakan bentuk konkret dari semangat gotong royong dan solidaritas sosial.
Tahlilan malam Jumat biasanya tidak hanya menjadi momen religius, tetapi juga sarana berkumpulnya masyarakat, mempererat silaturahmi, serta menghidupkan semangat kebersamaan dalam balutan keagamaan.
Kelima, momentum rutin dan terjadwal. Karena malam Jumat datang setiap minggu, maka ia menjadi momen yang mudah dijadikan rutinitas ibadah bersama.
Tahlilan pun menjadi kegiatan yang konsisten dilakukan, baik dalam rangka mengenang kerabat yang telah wafat, maupun sekadar memperbanyak amal kebaikan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah