Sabtu, 18 Sep 2021
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Majelis Hakim Beri Vonis 12 Tahun untuk Kakek Cabul di Kediri

15 September 2021, 15: 20: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

PENGADILAN: Suasana sidang kasus kakek cabul.

PENGADILAN: Suasana sidang kasus kakek cabul. (Ilmidza Amalia Nadzira – radar kediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Ma, 60, harus menerima nasib menghabiskan waktu tuanya di penjara. Kakek yang tega menghamili bocah di bawah umur yang masih tetangganya, Fr, itu divonis 12 tahun penjara.

Lamanya hukuman itu masih berpotensi bertambah. Sebab, dalam sidang yang berlangsung di PN Kota Kediri kemarin (14/9) itu majelis hakim juga menambah dengan hukuman denda. Nilainya juga sangat besar, Rp 5 miliar. Denda itu akan dikonversi menjadi hukuman penjara tiga bulan bila terpidana tak mampu membayar. Melihat kondisi sosial ekonomi terdakwa, sangat mungkin dia memilih menjalani tambahan hukuman.

Baca juga: Gadis Bandung Tewas di Kediri, Pria Ini Dituntut 14 Tahun Penjara

Dalam amar putusannya kemarin, majelis hakim menyebut terdakwa telah melanggar pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Putusan tersebut sama dengan tuntutan yang diberikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Anggi Luberti.

Hakim melihat banyak hal yang memberatkan terdakwa. Seperti dengan sengaja melakukan persetubuhan anak di bawah umur dengan kondisi sadar tanpa gangguan jiwa. “Selain itu terdakwa juga sudah merusak masa depan korban yang mana masih berumur 14 tahun,” kata Ketua Majelis Hakim Novi Nurdhayanti saat membacakan amar putusannya.

Selain itu, korban dengan sengaja telah mengelabui korban dengan cara mengiming-ngimingi uang Rp 2 ribu untuk melakukan hubungan badan. Tindakan itu dilakukan dua kali pada Oktober dan Desember 2020. Berakibat korban hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki.

“Dengan kondisi seperti itu korban telah mengalami trauma yang sangat berat,” tambah hakim.

Meskipun demikian, hakim juga masih melihat hal yang meringankan. Di antaranya terdakwa Ma bersikap sopan dan kooperatif selama persidangan. Selain itu, terdakwa juga mengakui perbuatannya. “Terdakwa (juga) belum pernah dihukum,” imbuhnya.

Bagaimana sikap terdakwa dengan vonis itu? Saat ditanya oleh majelis hakim, terdakwa yang didampingi penasihat hukumnya, Nurul Eka, meminta waktu untuk berpikir.

Hal serupa juga disampaikan JPU Anggi. Dia juga menyebut masih akan berpikir untuk memastikan apakah menerima atau mengajukan banding.

Diberitakan sebelumnya, aksi bejat Ma dilakukan saat Fr mendatangi rumah terdakwa untuk bermain bersama anak pelaku. Saat menunggu itulah Fr disuruh masuk ke kamar Ma dan diiming-imingi uang Rp 2 ribu agar menuruti kemauannya. Ma kemudian melakukan kembali aksi bejatnya itu pada Desember. (ica/fud)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news