Sabtu, 18 Sep 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
Marketing on Wednesday #2

Marketing Baliho

By Kurniawan Muhammad

15 September 2021, 07: 51: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

Kurniawan Muhammad

Kurniawan Muhammad, Media Executive, Marketing Practitioner. (Radar Kediri)

Share this          

Setidaknya ada tiga tokoh nasional yang wajahnya bertebaran dimana-mana: Puan Maharani, Ketua DPR RI; Muhaimin Iskandar, Ketua Umum DPP PKB; dan Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar. Wajah mereka terpampang di baliho-baliho yang dipasang di pinggiran jalan-jalan. Jika tujuannya ingin dilihat dan dikenal lebih luas, mungkin sudah tercapai.

Tapi, jika tujuannya adalah agar ingin dipilih pada kontestasi politik, khususnya dalam perhelatan pemilihan presiden (pilpres) 2024, nanti dulu. 

Dalam marketing, untuk mengukur efektivitas media promosi yang dijalankan, bisa diukur melalui CRI (Customer Response Index). CRI merupakan hasil perkalian antara awareness (kesadaran), comprehend (pemahaman konsumen), interest (ketertarikan), intention (maksud untuk membeli), dan action (bertindak membeli). (Durianto, 2003). 

Baca juga: Terobos Rambu di Kediri Akan Kena Tilang Elektronik

Ketika baliho-baliho itu bertebaran di jalan-jalan, maka netizen pun ramai bereaksi. Berdasarkan pantauan Socindex di Twitter, sejak 1-12 Agustus 2021, terdapat 4.090 post made yang dibuat terkait dengan baliho-baliho itu, dan mendapat 321.284 applause (likes), serta 41.532 talks (reply + retweet). Tercatat sebanyak 362.915 audience ikut terlibat dalam percakapan itu. Dan ternyata, sentiment percakapan didominasi dengan sentiment negatif sebanyak 94,97 persen.

Nah, dari sisi ini, jika tujuan dari baliho-baliho itu dibuat dan disebar untuk mendapatkan interest, intention dan action dari publik terkait kontestasi politik, maka yang terjadi masih jauh panggang dari api. Sebab, belum-belum respon publik sudah negative terhadap keberadaan baliho-baliho itu. 

Lantas, mengapa kesannya masih “nekat” untuk tetap memasang baliho-baliho pencitraan politik, malah jumlahnya terus bertambah di daerah-daerah di seluruh Indonesia? Jawabannya, karena memang baliho hingga saat ini masih merupakan bentuk media promosi luar ruang yang relatif masih efektif untuk membangun kepopuleran (brand awareness). 

Ada yang namanya Gross Ratings Points (GRP). Ini adalah semacam peringkat untuk mengukur efektifitas papan reklame atau baliho. Jadi, setiap baliho memiliki GRP, berdasarkan lalu-lintas, visibilitas, lokasi, ukuran dan sebagainya. Rentang nilai dari GRP 1-100. Jika nilainya 50, ini berarti setidaknya 50 persen populasi di area tempat baliho dipasang akan melihat baliho itu. 

Berarti, semakin banyak baliho dipasang dan ditebar, akan semakin besar untuk mendapatkan akumulasi nilai dari GRP. Bisa jadi, ini yang membuat para tokoh politik itu tetap menggunakan baliho untuk meningkatkan popularitasnya di era yang semakin digital ini. 

Sayangnya, kebanyakan baliho-baliho itu dipasang tanpa mengindahkan faktor estetika. Selain itu, narasi yang ditulis di dalam baliho-baliho itu kurang menarik. Kurang menimbulkan kesan menarik. Setidaknya ada lima elemen yang perlu diperhatikan dalam pemasangan baliho, agar efektif (Semenik et al, 2002).  

Pertama, mudah dilihat. Untuk elemen ini, mungkin kebanyakan baliho-baliho itu sudah memenuhi. Kedua, terletak di lokasi yang eksklusif dan sesuai dengan sasaran yang diharapkan. Seringkali, baliho dipasang di lokasi yang tidak selektif. Alih-alih eksklusif. Sehingga, bisa jadi, harapan dan tujuan dari si pemasang baliho atau harapan dan tujuan dari orang yang wajahnya ada di baliho tidak akan bisa tercapai. Makanya, di antara baliho-baliho itu ada yang dirusak atau dicorat-coret (vandalisme).

Ketiga, tidak berdesak-desakan dengan baliho-baliho yang lain. Kebanyakan baliho-baliho para tokoh yang dipasang itu, lokasinya berdekatan dengan baliho-baliho produk yang lain. Sehingga, kesannya, di pinggiran jalan penuh sesak dengan baliho. Ini akan mengurangi kesan positif. Keempat, jelas dilihat di siang hari, dan cukup pencahayaan di malam hari. 

Kelima, disajikan dengan konsep pesan yang singkat, padat dan cerdas. Elemen ini hampir tak ada di baliho-baliho yang berisi wajah para tokoh nasional itu. Kebanyakan pesan yang disampaikan sangat normatif. Misalnya: “Kepak Sayap Kebhinekaan”. Lalu ada juga yang memasang narasi: “Padamu Negeri Kami Berbakti”. Dan satu lagi: “Kerja untuk Indonesia”.  Pesan atau narasi yang ditulis pada baliho-baliho itu memang termasuk singkat. Tapi, sangat tidak menarik. Apalagi cerdas. Coba lah, tim sukses dari para tokoh itu lebih kreatif lagi dalam menulis pesan di baliho. Harga satu baliho itu relatif mahal. Sayang, jika dipasang hanya untuk menonjolkan wajah saja, tanpa ada pesan yang menarik, kreatif dan cerdas.

Para tokoh nasional yang wajahnya banyak bertebaran di baliho-baliho itu, sesungguhnya sedang melakukan marketing politik. Dalam buku “Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas” yang ditulis oleh Firmanzah (2008) menjelaskan, bahwa marketing politik itu tidak sekadar kampanye politik. Tapi, marketing politik merupakan proses mencari dukungan politik, namun dengan menggunakan teknik-teknik marketing. Yang diperhatikan tidak hanya promosi (promotion). Tapi, juga kandidatnya (product), harga ekonomi, psikologi, citra (price), serta cara hadir dan komunikasi politik (placement). 

Jadi, marketing politik itu bukan sekadar banyak-banyak-an menebar baliho. Dan juga bukan asal menebar wajah, tanpa disertai narasi yang menarik dan cerdas. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news