Sabtu, 18 Sep 2021
radarkediri
Home > Show Case
icon featured
Show Case

Soto Bening Di Kediri, Seporsi Hanya Rp 2 Ribu

14 September 2021, 15: 37: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

MURAH-ENAK: Agus menuangkan kuah soto bening ke piring yang dipegang ayahnya, usai pulang dari tempatnya berjualan.

MURAH-ENAK: Agus menuangkan kuah soto bening ke piring yang dipegang ayahnya, usai pulang dari tempatnya berjualan. (Iqbal Syahroni - radar kediri)

Share this          

Gelar sarjana teknik sipil tak membuatnya malu menjadi penjual soto bening. Harganya pun dia patok sangat murah. Tujuannya satu, agar kalangan bawah mampu membeli.

IQBAL SYAHRONI, Kota, JP Radar Kediri

Suara adukan terdengar nyaring dari rumah lelaki berusia 61 tahun bernama Filjasadi. Suara seperti dentingan benda logam itu berasal dari aktivitas anaknya, Pilman Agus Dwanto. Kebetulan saat itu lelaki 30 tahun tengah mengaduk panci berisi kuah soto bening.

Baca juga: Sekolah di Kediri Satu Pelajaran Hanya 30 Menit

Sejurus kemudian Dwi-panggilan sang pemuda-menuang kuah itu ke piring yang dipegang ayahnya. Piring itu sudah terisi nasi dan tahu.

“Alhamdulillah hari ini (kemarin, Red) selesai jam (pukul, Red) 10,” ucap lelaki dengan potongan rambut pendek ini.

Memang, kuah soto beningnya masih tersisa. Namun nasinya sudah habis. Kemarin porsi yang terjual hampir 150 mangkok. Padahal, biasanya jumlah porsi sebanyak itu baru habis sekitar pukul 14.00.

“Ini istirahat dulu, persiapan untuk besok,” sambung pria yang kemarin berkaus hijau.

Sehari-hari Dwi menjual soto beningnya di depan gerbang Ponpes Lirboyo. Menggunakan gerobak angkringan milik seorang temannya. Kebetulan, sang teman itu berjualan malam hari, menunya berupa makanan gorengan dan kopi. Nah, di pagi hari gerobak itu dia manfaatkan.

Dwi tak meracik sendiri bumbu soto beningnya itu. Resepnya adalah milik sang ibu, Mamik Agustini. Awalnya, resep itu hanya untuk keluarga. Setiap pulang dari kuliah di Surabaya dia selalu minta dibuatkan soto bening. Nah, saat dia coba tawarkan ke orang lain ternyata tanggapannya sama. Suka.

Wajar bila kemudian dagangannya laris manis. Dalam seminggu terakhir bahkan rata-rata ludes pada pukul 10.00. Padahal dia menyiapkan 3 kilogram beras dan 10 liter kuah soto bening.

Apa yang membuat soto bening Dwi selaris itu? Selain rasanya, harga per porsi yang murah bisa menjadi sebab. Dia mematok harga Rp 2 ribu per mangkok. Harga yang tergolong sangat murah bila dibandingkan soto-soto lain di Kediri dan sekitarnya.

Tak hanya soto-dengan porsi nasi yang lumayan banyak-saja yang murah. Harga lauk tambahan pun tak mahal. Gorengan, kerupuk, sate telur puyuh tak ada yang harganya di atas Rp 2 ribu. Semuanya antara Rp 500 hingga Rp 2 ribu.

Sebenarnya Dwi sudah bekerja di perusahaan konstruksi di Surabaya. Seminggu sekali dia pulang ke Kediri.

Ketika awal pandemi, dia jadi khawatir pada keselamatan keluarganya. Juga sungkan dengan para tetangga karena dia bekerja di luar kota. Dia pun akhirnya memilih keluar dari pekerjaan.

Setelah keluar kerja itu dia mencoba berwira usaha. Salah satunya beternak ikan lele. Tempatnya di lantai dua rumahnya, di Perumahan Wilis Mulia, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto. Sayang, usahanya itu tak berhasil karena airnya merembes ke lantai bawah.

Gagal beternak lele dia terus mencari cara untuk berkarya. Tak hanya sekadar mencari uang, tapi dia merasa harus terus berguna bagi orang lain. Apalagi selama pandemi ini banyak orang yang terdampak. Baik kesehatan maupun dari sisi ekonomi.

Apalagi, selama kuliah dia juga sudah belajar berdagang. Saat itu dia punya outlet pisang krispi di beberapa tempat. Mulai di Gambiran Lama, Pasar Pahing, Pesantren, dan di Lirboyo. Sayang, setelah bekerja sebagai kontraktor di Surabaya usaha pisang krispi itu dia tinggalkan.

Yang terpikirkan saat itu adalah soto masakan ibunya. Dia memilih berjualan soto karena lebih mudah dibanding kembali berbisnis pisang krispi. Selain itu dia juga punya keinginan untuk berbagi pada sesama dengan soto tersebut.

“Kalau niatnya dulu menjual soto hanya untuk para santri (Lirboyo) dan tukang becak yang ada di sekitar,” ujar alumnus SMAN 7 Kota Kediri itu.

Apalagi, salah seorang tukang becak yang mangkal di dekat tempatnya berjualan adalah langganannya sejak masih SD. Ketika bersekolah di SDN Mojoroto 4, dia selalu diantar abang becak itu. Kini, sang penarik becak tersebut selalu antre membeli sotonya setiap pagi.

Yang membuat dirinya lebih bahagia adalah bisa menyambungkan rasa yang ia cintai sejak kecil itu kepada seluruh masyarakat. Mulai dari santri pondok pesantren, kuli bangunan, tukang becak, hingga tukang angkut sampah. Baginya, rasa nikmat soto yang dibuat ibunya itu mampu menyambungkan seluruh warga. “Itu yang membuat saya rasanya senang banget,” terangnya.

Ia berprinsip bahwa setiap orang yang berbagi tidak akan pernah rugi. Karena itulah ia juga berinisiatif berbagi soto gratis setiap Jumat. Dimulai sejak satu minggu lalu.

“Besok Jumat lagi, rencana juga tetap berbagi di depan gerbang Lirboyo,” ujarnya.

Dwi pun melanjutkan membersihkan pancinya. Setelah mengeringkan, ia kemudian mempersiapkan bahan-bahan soto yang akan dia jual esok hari.(fud)

(rk/syi/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news