Sabtu, 18 Sep 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Arkeolog Temukan Kepala Kala Di Kediri

14 September 2021, 15: 22: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

BERSEJARAH : Arkeolog dari BPCB Jatim menancapkan cetok untuk mengecek kondisi bangunan bersejarah di Desa Menang, Kecamatan Pagu kemarin siang.

BERSEJARAH : Arkeolog dari BPCB Jatim menancapkan cetok untuk mengecek kondisi bangunan bersejarah di Desa Menang, Kecamatan Pagu kemarin siang. (Iqbal Syahroni - radar kediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Tim arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) kembali mendatangi Kabupaten Kediri. Mereka melakukan pengecekan ulang di dua situs yang baru ditemukan dan belum selesai diekskavasi.

Dua situs yang didatangi itu berada di dua tempat. Yang pertama adalah situs di Desa Klanderan, Kecamatan Plosoklaten dan yang ada di Desa Menang, Kecamatan Pagu.

Di Desa Menang, tim arkeolog melihat kondisi struktur bata merah yang ada di dekat mata air yang bernama Sumber Towo. Struktur itu diperkirakan berfungsi sebagai saluran air.

Baca juga: Bencana Banjir dan Longsor Mengintai Kediri Raya

“Kemungkinan (saluran air) ini berasal dari Kerajaan Kediri di Abad 12,” terang Ketua Tim BPCB Jatim Nonuk Kristiana.

Menurut Nonuk, struktur itu diperkirakan berfungsi sebagai saluran air tertutup. Saluran itu berada di atas tatanan bata merah tersebut.

Berdasarkan pengamatan tim BPCB, struktur bata tersebut mirip dengan penemuan sebelumnya.Seperti yang pernah ditemukan di Patirtan Brumbung di Kecamatan Kepung serta Ptirtan Klotok di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Karena memiliki karakter yang sama, fungsinya juga mirip. Di sela-sela batu-batu yang sudah kusam itu ditemukan saluran-saluran air.

Arkeolog itu menjelaskan bahwa saat ini timnya juga masih melakukan pendalaman lebih lanjut. Bila hanya berdasarkan data pendukung yang didapat di sekitar lokasi, sangat kurang untuk bahan analisa. Karena itu tim dari BPCB Jatim belum berani untuk menyebutkan hasil penelitian. Seperti apakah ada pemukiman kuno di dekat patirtan itu.

Nonuk menambahkan bahwa dari struktur dengan ukuran 2,27 x 2,27 m itu hampir pasti adalah tempat untuk mengaliri air. Berebentuk segi empat dengan panjang 107 cm dan lebar 103 cm.

“Objek dan struktur ini merupakan sebuah bilik. Kemudian di atasnya itu ada saluran air sebagai pengontrolnya, sebagai pengangkut airnya. Namun hilir dan mudiknya memang belum bisa kami indikasikan di mana,” terang perempuan itu.

Selain melakukan penelitian dengan penemuan struktur bata, Nonuk juga mengatakan timnya meneliti di sekitar Sungai Desa Klanderan. Tim BPCB menindaklanjuti  penemuan yang terjadi pada awal 2021. “Yang ditemukan benda seperti kepala kala,” terangnya.

Selain itu, dari laporannya juga menemukan artefak berupa kendi dan keramik era Majapahit. Selain itu juga ada pecahan keramik yang diduga dari daratan Tiongkok, uang koin kuno, dan sebuah benda berupa yoni. “Kalau untuk penemuan yoni, dugaan kuat untuk upacara atau ritual keagamaan. Jadi masih akan kami teliti lebih lanjut,” pungkasnya.(syi/fud)

(rk/syi/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news