Sabtu, 18 Sep 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Sekolah di Kediri Satu Pelajaran Hanya 30 Menit

14 September 2021, 14: 57: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

SEMANGAT: Siswa salah satu SD di Kota Kediri mengikuti pembelajaran tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Hari ini ratusan SD di Kabupaten Kediri menyusul menggelar pembelajaran luar jaringan.

SEMANGAT: Siswa salah satu SD di Kota Kediri mengikuti pembelajaran tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Hari ini ratusan SD di Kabupaten Kediri menyusul menggelar pembelajaran luar jaringan. (Ilmidza Amalia Nadzira – radar kediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Ribuan siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) harus konsentrasi menyerap materi pelajaran. Pasalnya, waktu pembelajaran relatif sedikit. Yakni, hanya sekitar 30 menit untuk tiap pelajaran.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Kediri Sujud Winarko mengungkapkan, dalam PTM yang serentak dimulai hari ini, siswa akan mengikuti pembelajaran selama dua jam. Di tiap sesi tersebut, siswa mendapat empat pelajaran. Sehingga, alokasi waktu untuk tiap pelajaran hanya setengah jam atau 30 menit.

Apakah hal tersebut tidak membebani siswa? Sujud menegaskan, ratusan SD dan SMP di Kabupaten Kediri sudah sepakat untuk tidak memberi pelajaran yang berat di hari pertama PTM pagi ini. “Pelan-pelan terlebih dahulu,” kata Sujud.

Baca juga: Dirut BRI Bocorkan Visi Pengembangan BRI Group di Masa Depan

          Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran, Sujud menyebut tim disdik akan berkeliling ke sejumlah sekolah. Terutama untuk memastikan apakah penerapan PTM serentak di Kabupaten Kediri itu sudah menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara baik atau belum.

          Dikatakan Sujud, sebelumnya Disdik Kabupaten Kediri juga berencana hanya melakukan uji coba alias menerapkan PTM di sejumlah sekolah saja. Tetapi, rencana tersebut dibatalkan. Dengan alasan tidak ingin menganakemaskan sekolah, disdik memutuskan untuk membuka PTM di semua sekolah. Mulai jenjang TK, SD, dan SMP.

          Hitungan koran ini, sedikitnya ada 1.051 TK/RA, 611 SD, dan 217 SMP yang memulai PTM. Pembelajaran di ribuan lembaga tersebut dibagi dalam beberapa sesi secara bergilir. “Yang tidak mendapat giliran PTM, berarti tetap mengikuti online,” jelas Sujud.   

          Sementara itu, PTM yang di Kota Kediri telah berlangsung sejak Senin (12/9) lalu disambut antusias oleh siswa. Meski hanya mendapat waktu belajar selama dua jam mereka mengaku senang karena bisa mendapat penjelasan materi dari guru.

          Seperti diungkapkan Egha Putri Maulida. Siswa kelas XII IPS SMAN 1 Kota Kediri itu mengaku bisa lebih memahami materi yang disampaikan guru secara langsung. “Sekarang bisa lebih paham,” aku siswa asal Kelurahan Banjarmlati, Mojoroto.

          Kondisi tersebut berbeda dengan pembelajaran daring. Dia mengaku kerap terganggu masalah jaringan saat belajar. Belum lagi, fokus belajar di rumah juga terganggu.

          Terpisah, Kepala SMAN 1 Kota Kediri Widayat menjelaskan, di hari pertama masuk PTM kemarin tidak semua siswa bernomor ganjil masuk kelas. “Masih ada orang tua yang belum mengizinkan anaknya masuk sekolah,” terang Widayat sembari menyebut jumlah siswa yang tidak masuk tidak lebih dari 10 anak.

          Widayat memaklumi tentang orangtua yang belum mengizinkan anaknya mengikuti PTM. Apalagi, PTM memang tidak wajib. Siswa yang tidak mengikuti pembelajaran luring bisa mengikuti pelajaran secara daring.

          Meski PTM sudah dimulai sejak Senin (12/9) lalu, Widayat menyebut guru di sekolahnya juga belum masuk 100 persen. Melainkan hanya separo. Selebihnya melakukan work from home.

          Untuk diketahui, PTM hari pertama di Kota Kediri kemarin diwarnai berbagai kejadian menarik. Selain siswa yang tidak semuanya bersedia mengikuti PTM, di SD Plus Rahmat Kelurahan Banjaran, Kota Kediri, ada beberapa siswa yang tidak memakai seragam. Mereka terpaksa memakai baju bebas karena seragam lama sudah tidak muat dipakai.

Koordinator Bidang Kurikulum SD Plus Rahmat Rafitri Heny Yuhono menjelaskan, pihak sekolah bisa memaklumi kondisi tersebut. Sebab seragam milik para siswa tersebut sesak dan tak bisa dipakai lagi. “Untuk sementara bisa memakai baju bebas dulu,” paparnya sembari menyebut sekolah tidak mau memberatkan orang tua.

Yang terpenting dalam PTM kali ini menurut perempuan yang akrab disapa Fitri ini adalah penerapan protokol kesehatannya. Bagi siswa yang datang ke sekolah tidak memakai masker, langsung diberikan masker. (syi/rq/ica/ut)

(rk/syi/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news