Sabtu, 18 Sep 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
BOLA BULAT

Underdog v Kuda Hitam

Oleh: Mahfud

11 September 2021, 17: 22: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

Mahfud

Oleh: Mahfud (Radar Kediri)

Share this          

Bagi penyuka sepak bola (atau juga olahraga yang lain) pasti mengenal dua istilah di atas. Sering pula dua istilah itu dijadikan satu makna. Meskipun, sejatinya, dua sebutan itu memiliki makna yang berbeda.

Perbedaannya bukan hanya pada kata binatangnya saja-satunya dog alias anjing satunya lagi kuda. Namun perbedaan itu ada pada latar sebab dari penggunaannya. Juga, berbeda dari serapan sejarah atau asal-usul istilah tersebut.

Underdog, sesuai dengan kata dog yang ada di akhir kata, mulanya digunakan untuk ajang adu anjing, dogfight. Setiap anjing yang kalah posisinya selalu di bawah. Sedangkan yang menang ada di atasnya. Underdog, untuk anjing yang pecundang. Topdog untuk the champ.

Baca juga: Integrasi Ekosistem Ultra Mikro, BRI One Culture Kunci Keberhasilan

Dalam perkembangannya panitia dogfiht selalu punya list prestasi dari anjing-anjing peserta. Nah, anjing yang selalu kalahan akan dilabeli underdog. Sedangkan yang menangan berpredikat topdog.

Istilah inilah yang kemudian diadopsi oleh olahraga, salah satunya sepak bola. Untuk menggambarkan suatu peserta, baik perorangan atau tim, yang dianggap tak memiliki kans juara. Jadi, sejak awal kompetisi, tim yang dijuluki underdog peluangnya kecil menjadi jawaranya.

Lalu, kuda hitam? Ada cerita pada perhelatan Euro 2020-yang berlangsung pada 2021-lalu. Cerita itu berpusat pada kiprah Turki. Tim ini, meskipun tak memiliki sejarah prestasi sepanjang perhelatan Piala Eropa, namun menjadi salah satu tim yang digadang-gadang bakal menyulitkan tim besar. Menjadi kuda hitam turnamen.

Apa sebab? Turki tampil perkasa di fase kualifikasi. Mereka jarang kebobolan. Perancis pun mereka libas dengan skor 2-0.  Layak bila kemudian mereka dijagokan bakal membuat kejutan. Meskipun, bisa jadi, kejutan itu bukan menjadi juara Eropa. Tapi paling tidak menyulitkan tim-tim besar.

Hasilnya? Jauh panggang dari api. Turki justru babak bundas di fase grup. Tiga kali main, tiga kali kalah. Dari Italia kalah 0-3 sedangkan ketika berhadapan dengan Wales mereka kebobolan dua gol tanpa bisa membalas satu gol pun. Di pertandingan terakhir, ketika asa sebenarnya masih ada, Turki pun masih kalah dari Swis. Skornya, 1-3.

Dari cerita di atas, kuda hitam jelas bukan underdog. Mereka dilabeli kuda hitam karena punya catatan prestasi yang mumpuni. Serupa dengan Leicester City yang tampil sebagai kampiun Liga Inggris meskipun berpredikat tim promosi.

Persik juga punya pengalaman menjadi kuda hitam. Tepatnya di musim 2003. Saat kompetisi masih bernama Liga Indonesia (Ligina). Macan Putih datang dengan predikat juara divisi 1. Meskipun tak banyak yang memperkirakan Persik bisa meraih gelar juara, kemampuannya sebagai juara divisi I tentu tak bisa dipandang sebelah mata. Hasilnya, tim dengan jersey kebanggaan berwarna ungu ini bisa menggenggam Piala Presiden untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub Kediri ini.

Musim ini Persik kembali berlaga di level utama, di Liga 1. Statusnya pun sama, datang dengan predikat juara Liga 2 (yang dulu istilahnya divisi 1). Nah, apakah Persik masuk sebagai kuda hitam ataukah sebagai underdog?

Melihat latar belakang prestasi di musim sebelumnya, Persik layak disebut kuda hitam. Kalaupun nanti hasil akhir tak mampu membuat tim Kediri ini jadi juara, setidaknya mereka akan merepotkan tim-tim besar. La Viola-nya Indonesia ini tak layak disebut underdog. Karena catatan prestasinya juga mentereng. Dua kali juara Ligina, dua kali juara divisi 1, serta berbagai titel juara pra-musim lain. Bahkan, mereka pernah merumput di arena Piala Champion Asia.

Bukti bahwa Macan Putih bakal memerankan diri sebagai kuda hitam juga terlihat di dua pertandingan awal. Mereka memang kalah 0-1 dari Bali United. Namun, perlu digarisbawahi lawan mereka adalah klub juara bertahan yang  penuh bintang-bintang mahal. Itupun, kekalahan hanya dengan skor tipis. Gol yang terjadi pun baru pada paroh akhir babak kedua.

Bukti lain ada pada hasil pertandingan tadi malam. Secara (tidak terlalu) mengejutkan, Persik bisa membalik prediksi. Mereka mengalahkan Borneo FC dengan skor tipis 1-0. Padahal, tim berjuluk Pesut Etam itu adalah salah satu kandidat juara musim ini. Borneo ini yang menjungkalkan tim sarat prestasi Persebaya Surabaya dengan skor 3-1. Nah, apakah Persik layak disebut kuda  hitam? Setujukah Anda? (*)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news