Sabtu, 18 Sep 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
Catatan Awal Pekan

Eufimisme dan PPKM

Oleh: Kurniawan Muhammad

30 Agustus 2021, 11: 35: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Kurniawan Muhammad

Oleh: Kurniawan Muhammad (Radar Kediri)

Share this          

 

Bayangkan, jika PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) diumumkan langsung berlaku selama satu bulan ke depan. Mungkin akan gaduh. Mungkin juga akan ricuh. Pro dan kontra para netizen mungkin akan bersahut-sahutan di medan media sosial (medsos). Dan mungkin pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) akan menjadi bulan-bulanan, karena di-bully netizen.

Untungnya, PPKM tak diumumkan sekaligus berlaku satu bulan ke depan. Melainkan diperpanjang tiap minggu. Dan dibikin ada level-nya. Mulai level    1 – 4. Sehingga, meski sebenarnya PPKM sudah berlaku satu bulan, nyaris tiada gejolak. Nyaris tiada kegaduhan. Karena masyarakat dibikin tidak terasa. Pemberlakuan PPKM dibikin cukup halus. Dengan cara diberlakukan seminggu, demi seminggu.

Baca juga: Menteri BUMN Erick Tohir Apresiasi BRI Percepat Herd Immunity

Disadari atau tidak, ada kebiasaan dalam masyarakat kita untuk memperhalus segala sesuatu agar tak terdengar atau tak terasa kasar. Dalam bahasa Indonesia, ini bisa dianalogikan dengan eufimisme. Secara umum, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi Kemendikbud, eufimisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, yang dianggap merugikan atau tidak menyenangkan.

Misalnya, untuk menyebut “Mau ke WC”, diganti dengan kalimat “Mau ke belakang”. 

Pelacur atau wanita tuna susila, diganti dengan PSK (pekerja seks komersial).

Pembantu rumah tangga, diganti dengan asisten rumah tangga.

Pencuri uang rakyat, diganti dengan koruptor. Makanya, para koruptor yang tertangkap KPK, saat dikeler, begitu bertemu wartawan, tampak masih bisa senyam-senyum. Karena mereka merasa bukan pencuri. Tapi, mereka adalah koruptor. Istilah “koruptor” dibikin, untuk memperhalus istilah “pencuri”. Jadi, seakan-akan koruptor itu bukan pencuri.

Ketika kebijakan pemerintah harus menaikkan harga BBM, istilah yang digunakan bukan “menaikkan harga BBM”, tapi digunakanlah istilah “menyesuaikan dengan harga minyak mentah dunia”.  Di era Jokowi, lebih halus lagi, yakni dibikin lah istilah “mengalihkan subsidi” dari subsidi BBM dialihkan untuk pembangunan infrastruktur. Sehingga, selama menaikkan harga BBM, di era Jokowi nyaris tidak ada kericuhan ataupun kegaduhan.

Karena masyarakat kita lebih suka dengan hal-hal yang diperhalus (eufimisme), makanya untuk memberlakukan “berbagai larangan” selama dikepung pandemi Covid, digunakanlah istilah yang lebih halus. Mulai dari PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga PPKM. Sempat digunakan istilah PPKM darurat. Tapi, penggunaan kata “darurat” masih dianggap kasar. Lalu digantilah dengan PPKM ber level-level. Mulai level 1 hingga level 4.

Jadi, PPKM itu sesungguhnya adalah “larangan-larangan” yang di-eufimisme-kan oleh pemerintah. Cara Jokowi mengumumkan pemberlakuan PPKM setiap minggu, adalah upaya “meng-eufimisme-kan” sebuah larangan selama satu bulan, tapi dibikin seakan-akan hanya seminggu.

Kekuasaan memang punya otoritas untuk menggunakan bahasa sebagai upaya untuk mendominasi. Seperti yang dikatakan Habermas (1967): “Language is also a medium of domination and power”. Artinya, bahasa digunakan sebagai suatu proses dominasi  dan penggunaan kekuasaan sebagai sarana utama politik.  Dengan kata lain, penggunaan bahasa dapat merefleksikan bagaimana kekuasaan digunakan.

Keith Allan dan Kate Burridge dalam bukunya “Euphemism and Dysphemism, Language Used as Shield and Weapon” (1991)  menulis bahwa eufimisme: “Are alternatives to disprefered expression and are used in order to avoid possible loss of face”. Artinya: Eufemisme adalah bentuk pilihan (alternatif) terhadap ungkapan yang tidak berkenan dan digunakan untuk menghindarkan rasa malu atau kehilangan muka.

Wal akhir, ketika sebuah kebijakan berisiko tinggi harus diberlakukan, maka menerapkan strategi eufimisme adalah sebuah keniscayaan, jika tak ingin kehilangan muka. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news