Sabtu, 18 Sep 2021
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Kasus Gadis 15 Tahun di Kamar Hotel: CC dan ORG Tiga Kali Ketemu

23 Agustus 2021, 13: 53: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

Kasus Gadis di Bawah Umur

Kasus Gadis di Bawah Umur (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub - radar kediri)

Share this          

 KABUPATEN, JP Radar Kediri – Polisi memang belum memberi keterangan resmi terkait kasus penggerebekan di kamar hotel yang melibatkan lelaki dewasa berinisial ORC dan anak di bawah umur bernama CC. Namun, tanda-tanda bahwa kasus ini akan berlanjut ke pengadilan sudah terlihat. Sang gadis kini telah ditempatkan di shelter milik dinas sosial (dinsos).

“Hari ini kami sedang proses merujuk ke shelter perlindungan anak dan perempuan. Hanya saja ini anaknya (CC) agak rewel,” aku Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kabupaten Kediri Dyah Saktiana ketika dikonfirmasi kemarin.

Nah, kemungkinan kasus ini akan masuk ke ranah hukum adalah pernyataan Nana-panggilan Dyah Saktiana-bahwa CC hanya bersifat sementara berada di shelter. Sebab, nantinya gadis yang baru berusia 15 tahun ini akan menjadi saksi di pengadilan.

Baca juga: ‘Menggali’ Candi Klotok, Mencari Jejak Besar Kota Kediri (28)

Posisi CC sendiri sudah berada di shelter. Pihak dinsos harus bersusah payah terlebh dulu untuk merayu bocah tersebut agar bersedia ditempatkan di rumah aman tersebut. Sedangkan pihak keluarga sepenuhnya setuju sang anak berada di bawah perlindungan dinsos. Bahkan, saat ke shelter pihak ibu dan tante CC juga ikut mengantar.

Lalu bagaimana bila kasus itu nanti selesai? Seperti apa penanganan terhadap CC? Menurut Nana, mereka akan berdiskusi lagi setelah sidang selesai. Apakah nanti gadis tersebut direhabilitasi di Magelang, Jawa Tengah. Yang pasti, pihak keluarga sudah menyetujui CC menjalani rehabilitasi.

Berdasar keterangan Nana, sang korban ini butuh penanganan yang khusus. Dari asesmen yang sudah dilakukan, sikap dan tingkah laku CC tidak menggambarkan anak yang usianya masih belasan tahun. Meskipun postur tubuhnya seperti anak kecl tapi cara bicara dan sikapnya sudah seperti orang dewasa. Gaya berpakaiannya sudah tak sesuai dengan usianya.

Saat ditanya, dia mengaku tak mendapat perhatian dari orang tua. Sedangkan dari pihak orang tua mengaku sudah berusaha mencukupi semua kebutuhannya. Ibu dan ayah tirinya bekerja di Pasuruan, sebagai buruh pabrik,  dan setiap minggu mengirim Rp 600 ribu untuk kepentingan CC. Uang itu ditransfer ke rekening tante CC yang memang merawat sang anak. Biasanya, uang itu hanya menyisakan Rp 50 ribu di akhir minggu.

“Bahkan untuk membelikan handphone harga Rp 5 juta, ibunya sampai kredit,” terang Nana.

Terkait hubungannya dengan ORC, CC mengaku sudah kenal lima bulan lalu. Perkenalan terjadi dari Facebook. Selama itu keduanya tiga kali bertemu langsung.

Lelaki 56 tahun itu, menurut pengakuan CC, beberapa kali mentransfer uang. Jumlahnya, mulai Rp 300 ribu hingga Rp 800 ribu. Hal itulah, sepertinya, yang membuat CC seolah dimabuk asmara kepada ORC. Dia bahkan meminta polisi agar membebaskan lelaki tua itu. Meskipun dijelaskan bahwa dia menjadi korban, CC tetap mengatakan keduanya berhubungan karena suka sama suka.

“Dari cara bicaranya, si CC ini sudah di brainwash sama laki-lakinya,” kata Nana menganalisa.

CC sendiri saat ini tak bersekolah. Dia sempat mendaftar di salah satu SMK negeri. Namun namanya tersisih oleh pendaftar lain. Akhirnya dia tak diterima.

Sementara itu, psikiater RS Bhayangkara Roni mengatakan bahwa kasus seperti ini memang sering terjadi. Hanya saja sedikit yang sampai dilaporkan ke kepolisian. “Selain anaknya, keluarga juga harus mendapatkan asesmen,” terang Roni.

Roni mengatakan anak seusia CC masih dapat diubah kepribadianya. Hanya saja butuh dukungan dari orang-orang sekitarnya, terutama keluarga. Usia 16 tahun adalah masa pubertas. Membuat remaja laki-laki atau perempuan punya keinginan kuat untuk dekat dengan lawan jenis.

Keinginan dekat lawan jenis ini harus diikuti dengan kepatuhan atau norma dan kehidupan di masyarakat dan agama. Apalagi perempuan usia remaja emosinya masih labil. Sangat mudah terpengaruh. Mudah tersentuh hanya dengan kata-kata atau pemberian dan menyenangkan dirinya.

“Jika dilihat anak tidak tinggal dengan orang tua, dalam tanda kutip pergaulannya kurang bisa dimonitor,” imbuhnya.

Karena pengasuhan yang diberikan oleh nenek, kakek, dan tantenya pasti berbeda dengan orang tua. Di mana anak masih bisa menentang karena merasa bukan orang tuanya. Sehingga itu menjadi salah satu faktor yang menyebabkan akan bergaul dengan teman lawan jenis sampai tidak terkontrol.

Sementara itu, polisi belum banyak memberikan keterangan pada kelanjutan kasus ini. Kasatreskrim Polres Kediri AKP Rizkika Athmada mengatakan akan menjelaskan perkembangan kasus ini dalam rilis yang rencananya akan berlangsung hari ini. Namun polisi membenarkan bahwa saat ini korban dalam pendampingan oleh dinsos. (ara/fud)

Fakta Tentang CC

-         Merasa tak diperhatikan orang tua yang bekerja di luar daerah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

-         Kenal dengan ORG selama lima bulan, dan telah tiga kali bertemu langsung. CC juga beberapa kali mendapat kiriman uang dari ORG.

-         Merasa tidak menjadi korban, tapi hubungannya dengan pria dewasa itu berdasarkan suka sama suka.

-         Sikap dan tingkah laku CC tidak sesuai dengan usianya yang masih 15 tahun.

(rk/ara/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news