Sabtu, 18 Sep 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi
Petani Bawang Merah Kota Angin Menangis

Brambang Sekilo Hanya Rp 10 Ribu

23 Agustus 2021, 10: 25: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

Brambang

TAK PEDULI TERIK: Beberapa buruh tani mengangkut hasil panen bawang merah di lahan pertanian yang berada di Desa Mojorembun, Kecamatan Rejoso kemarin. (Andhika Attar- radarkediri)

Share this          

Panen raya bawang merah atau brambang di Kota Angin telah berlangsung selama seminggu ini. Sayangnya, dalam panen raya ini harga jual komoditas unggulan Nganjuk tersebut justru murah. Tidak sebanding dengan biaya produksi petani.

“Ajur mas regane (hancur mas harganya, Red),” ujar Suwanto, 40, salah satu petani bawang merah di Desa Mojorembun, Kecamatan Rejoso saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.

Harga jual brambang dari petani untuk satu kilogram hanya Rp 10 ribu. Sedangkan harga di pedagang berkisar Rp 13 ribu per kilogram. Harga tersebut dinilainya jauh dari perkiraan saat awal panen. Bahkan, harga ini tidak bisa menutup ongkos tanam petani.

Baca juga: Pelarian karena Perceraian

Brambang

RUGI BESAR: Petani brambang di Desa Mojorembun, Kecamatan Rejoso beristirahat setelah panen kemarin. Harga brambang anjlok saat panen raya membuat petani menangis karena adanya perpanjangan PPKM. (Andhika Attar- radarkediri)

Pria kurus tersebut menerangkan bahwa biaya produksi untuk satu kilogram brambang seharusnya sekitar Rp 15 ribu. Dengan harga tersebut, petani baru dapat menikmati jerih payah menanam brambang. Jika harga di bawah Rp 15 ribu, petani akan rugi besar.

Menurut Wanto, rendahnya harga brambang ini juga dipengaruhi pandemi Covid-19. Terutama dengan adanya peraturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berlevel. Sehingga, brambang Nganjuk sulit dijual ke beberapa daerah.

Padahal, biasanya brambang Nganjuk dibeli tengkulak asal luar Jawa Timur (Jatim). Tak jarang pembeli atau pemborongnya membawa hasil panen brambang tersebut untuk dijual di Jawa Tengah maupun Jawa Barat.

Namun, berbeda dengan kali ini. Kebijakan PPKM berlevel ini diakatakan Wanto membuat distribusi penjualan tersebut menjadi relatif tersendat. Alhasil, panen brambang tersebut hanya dijual untuk pasar lokal Kota Angin dan beberapa daerah di Jatim saja. “Sekarang mentok ya dijual ke Surabaya,” keluh Wanto.

(rk/tar/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news