Sabtu, 18 Sep 2021
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan

Jangan Pilih Jalan Pintas Jemput Ajal

Oleh: Endro Purwito

22 Agustus 2021, 17: 40: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

Endro Purwito

Oleh: Endro Purwito (Radar Kediri)

Share this          

Dalam situasi pagebluk, banyak orang berusaha bertahan hidup. Mencegah maut dalam kepungan wabah. Ini naluri manusiawi. Memang kebanyakan manusia ingin hidup kekal. Namun berharap keabadian itu mustahil. Tak mungkin jasad hayati selamanya. Ini karena di bumi berlaku hukum alam dan takdir Tuhan.

Setiap hayat akan wafat. Yang hadir bakal pergi dan yang datang bakal berpulang. Kematian adalah keniscayaan. Tak ada yang mampu menghindarinya. Soal kapan waktunya, itu rahasia Tuhan.

Tidak ada yang tahu berapa lama nyawa menemani kita. Manusia sejatinya hanya menanti maut menjemput. Maka hidup ini anugerah. Sudah sepatutnya tak disia-siakan. Namun tak semua memanfaatkannya. 

Baca juga: Sambut HUT ke 126, BRI Gelar Sayembara Desain Logo

Bukannya bertahan agar selamat di masa pandemi, sebaliknya, justru memilih jalur maut. Menempuh jalan pintas mengakhiri hidupnya. Bunuh diri. Di Kediri (wilayah kota dan kabupaten), sejak Januari hingga pertengahan Agustus ini tercatat 17 kasus. 

Hampir semua meregang ajalnya dengan gantung diri. Hanya satu yang menghabisi dirinya dengan menenggak cairan pestisida lalu menceburkan diri ke sungai. Tempat menjemput maut dari 17 kasus itu pun berbeda. Mulai di dalam kamar, dapur, pekarangan, kandang, sungai, hingga ruang lembaga pemasyarakatan (lapas). 

Peristiwa tragis di lapas itu terjadi pada 19 Maret. Perbuatan tersebut dilakukan seorang narapidana di ruang bengkel. Sebelum ditemukan meninggal gantung diri, dia sempat mencoba lima kali bunuh diri. Di antaranya dengan memotong urat nadi. Namun terburu diketahui warga binaan lain di lapas.

Selama Maret itu, penulis mencatat lima peristiwa gantung diri. Ini berarti rata-rata satu orang bunuh diri tiap satu minggu. Di minggu pertama, kasus terjadi pada 1 Maret. Berikutnya terdata pada tanggal 7, 19, dan 30 Maret bahkan ada dua kejadian. Kebanyakan pelakunya berusia produktif. Hanya satu yang berusia lanjut (lansia). Meninggal pada umur 71 tahun. Empat lainnya usia 38 – 50 tahun.

Bulan lalu, pada Juli juga tercatat banyak orang bunuh diri. Bahkan tiap pekan satu hingga dua kejadian. Seperti yang terjadi pada 18 Juli di wilayah Kecamatan Badas dan Plosoklaten. Sehari dua nyawa melayang.

Di sebuah desa di Badas, seorang pemuda 27 tahun gantung diri di pohon bambu pekarangan. Di hari yang sama, perempuan 54 tahun nekat minum cairan pestisida. Lalu menceburkan diri ke sungai di wilayah Plosoklaten. Aksi lain selama Juli terjadi pada 3, 11, 26, dan 30. Hanya dua yang berusia di atas 50 tahun. Lainnya di bawah 40 tahun. 

Dari 17 kasus selama Januari–Agustus, bila dikalkulasi rata-rata dua orang meninggal bunuh diri tiap bulan. Hanya Februari dan Mei yang nihil. Selain Maret dan Juli, pada April terjadi dua kasus. Kemudian, Januari, Juni, dan Agustus masing-masing satu kasus. Kejadian terakhir 12 Agustus lalu. Kakek 70 tahun dari satu desa di Kecamatan Ngadiluwih gantung diri di kandang sapi. 

Kebanyakan pelaku bunuh diri di Kediri karena depresi. Faktor penyebabnya berbeda-beda. Pengamatan penulis dari belasan kasus itu, pendorong perbuatan menghilangkan nyawa sendiri itu dapat dibedakan berdasar usia korbannya.

Yang berusia lanjut– di atas 60 tahun– umumnya lantaran sakit kronis dan beberapa tinggal sendiri. Dia kehilangan harapan karena penyakitnya tak kunjung sembuh. Merasa tak berdaya dan hidupnya tak berguna lagi.

Sementara, yang berumur di atas 30 – 50 tahun, mayoritas dipengaruhi faktor ekonomi, pekerjaan, dan masalah rumah tangga atau keluarga. Sedangkan usia di bawah 30 tahun kebanyakan dipicu soal asmara, putus cinta atau patah hati. 

Dari sudut pandang agama dan norma kemanusiaan, bunuh diri merupakan perbuatan terlarang. Bahkan terkutuk karena memilih kematian tak wajar. Bukan karena takdir atau kehendak Tuhan. Di sisi moral, mereka tak menghargai nilai-nilai kemanusiaan sekaligus kehidupan. 

Kendati demikian, kita tak berhak menghakimi. Apalagi terlontar stigma buruk. Hal itu justru kontraproduktif. Tekanan sosial terhadap mereka dapat memantik perbuatan bunuh diri. Pasalnya, mereka merasa sudah putus asa dan tidak ada peluang hidup. 

Sebaliknya, kita harus memberi harapan. Tak perlu memberi nasihat menggurui. Namun cukup berempati dengan mendengar keluh kesah. Beri keleluasaan mereka mengungkap perasaannya. Ini membutuhkan kesadaran dan kepekaan terhadap situasi orang-orang di sekitarnya. 

Karena itu, kepedulian dan peran keluarga sangat penting. Tak perlu mencari siapa yang salah. Jangan pula menyalahkan dan menyepelekan perasaannya. Soal yang kita anggap remeh, belum tentu sepele bagi mereka. Keluarga harus memberi dukungan, mengajak bicara dan berobat. 

Bunuh diri adalah akibat dari depresi atau tekanan kejiwaan. Perbuatan itu bisa dideteksi. Sehingga bisa dicegah. Selain peran keluarga, kepedulian pemerintah daerah sangat penting. Dengan perhatian dan motivasi, mereka dapat memberi dorongan pilihan yang memunculkan harapan hidup. 

Untuk itu, petugas kesehatan jiwa puskesmas mesti cepat tanggap. Riilnya, dukungan dapat dilakukan dengan kunjungan rumah, konseling, serta pengobatan. Termasuk mengedukasi keluarga maupun masyarakat terkait masalah kejiwaan dan penanganan depresi. Dengan begitu, potensi aksi bunuh diri bisa diminimalisasi. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news