Sabtu, 18 Sep 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Lia Bagus, dari Karyawati Bank Banting Setir Jadi Pebisnis Fashion

Angkat Nama Kota Kediri lewat Produk Fashion

22 Agustus 2021, 17: 32: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

Lia bagus

SUKSES: Lia Bagus dan baju-baju koleksinya. (Sri Utami - radar kediri)

Share this          

Menggeluti industri fashion di Kota Kediri? Keraguan banyak pihak itu disadari benar oleh Lia Bagus Kristianingrum saat awal mendirikan Bayleaf.id 2018 lalu. Tetapi, keuletannya berbuah manis. Usaha yang dirintis bersama sang suami itu kini beromzet miliaran rupiah. 

Berbicara tentang fashion, mayoritas orang akan berkiblat ke Bandung, Jawa Barat yang mendapat predikat surganya tren fashion. Tidak ada sama sekali nama Kota Kediri di sana. Hal itu juga yang rupanya menyulitkan Lia, sapaan akrab Lia Bagus Kristianingrum, saat memulai usaha kali pertama pada Mei 2018 silam. “Awal-awal buka, banyak yang cancel order karena tahu pengiriman dari Kediri. Mereka ragu (dengan kualitas bajunya, Red),” ujar istri Ekalaya Fahmi Rohman Indrayana itu. 

Menghadapi banyaknya pembatalan pesanan, Lia menyiasati dengan ‘mengaburkan’ nama Kediri. Mereka menyebut pengiriman dilakukan dari Jawa Timur. Setelah mengganti deskripsi ini, tidak banyak lagi pembatalan pesanan busana.

Baca juga: Bupati Dhito Resmikan Gedung Poli Terpadu RS HVA Toeloengredjo

Tak hanya harus melakukan berbagai penyesuaian dalam memasarkan produk baju buatannya, di awal memasarkan produknya secara online, dia harus jatuh bangun hingga merugi. “Dulu sehari hanya laku satu sampai dua baju. Padahal iklan di Facebook bisa sampai 100 ribu,” lanjutnya sembari menyebut kondisi itu bertahan selama sekitar enam bulan.

Perempuan yang Senin (23/8) besok genap berusia 30 tahun itu memang belum bisa menangani secara penuh. Sebab, dia masih bekerja di bank pelat merah terbesar di Indonesia. Dia pun baru sempat membuat baju sepulang dari kantor mulai pukul 20.00. 

Dengan konsentrasi yang terbelah, manajemen usahanya tak bisa maksimal. Pun, sang suami sudah membantu IT dengan membuat konten di Instagram, hingga menangani digital marketing-nya.

Alumnus salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya itu pun dihadapkan pada dua pilihan. Tetap berkarir di bank atau fokus pada bisnis yang mulai berkembang. “Waktu itu agak susah memutuskan karena keluarga juga banyak yang menyayangkan kalau keluar dari bank,” kenangnya.

Adalah dukungan dari Eka, sang suami, yang memantapkannya. Dia lantas memutuskan untuk resign pada Juli 2019 lalu. Selanjutnya, sarjana ekonomi itu fokus menangani manajemen bisnisnya.

Pilihan perempuan yang menjabat presiden direktur Bayleaf.id ini rupanya tepat. Setelah dia fokus menangani manajemen, penjualan baju langsung melonjak drastis. Jika semula dia hanya mengerjakan baju sendiri bersama teman dan mertuanya, lambat laun bisnisnya berkembang. 

Dari penambahan belasan orang menjadi puluhan, hingga sekarang menjadi sekitar 200 orang. Omzetnya yang semula hanya jutaan rupiah, sebelum PPKM berkisar antara Rp 3-4 miliar per bulan. “Juli kemarin waktu PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat, Red), omzet kami turun 40 persen. Sekitar Rp 2-3 miliar,” urainya menjelaskan pada hari normal dia bisa mendapat 20-25 ribu orderan per bulan. 

Bagaimana Lia dengan brand-nya bisa sukses di pasar online? Rupanya perempuan berjilbab itu benar-benar memikirkan setiap bagian secara detail. Tidak hanya kualitas baju yang harus dipastikan bagus, mereka juga menggarap konten secara total. Mulai dari foto, model, hingga desain Instagram  yang belakangan jadi tempat memasarkan produk selain website. Demikian juga dengan promosinya. 

Saat meluncurkan produk, Lia tak segan mengeluarkan budget puluhan juta rupiah per hari untuk promosi di marketplace dan Instagram. Selain beberapa upaya tersebut, menurut perempuan yang gemar berbelanja baju itu, inovasi menjadi kunci kesuksesannya di bisnis fashion. “Target pasar kami jelas. Baju untuk anak muda. Kalangan mahasiswa dan pekerja muda menengah ke atas,” urainya. 

Dia pun membuat berbagai jenis baju mulai outer, blazer, tunic, dress, dan beberapa produk lainnya yang kekinian. Perempuan yang tidak memiliki kemampuan mendesain baju ini menentukan pilihan produknya dengan melihat tren. Selanjutnya memodifikasi sesuai seleranya.

Tak jarang inspirasinya datang setelah dia jalan-jalan bersama sang suami ke luar kota. “Lihat baju bagus saya modifikasi desainnya dan dibikin. Ternyata jadi winning product. Laku keras,” kelakarnya sambil tertawa.

Setelah usahanya berkembang pesat seperti sekarang, Lia memiliki tim desain sendiri. Merekalah yang sekarang bertugas melakukan riset sebelum memutuskan membuat produk. Tim ini harus bekerja keras karena dalam seminggu dia bisa mengeluarkan dua produk baru.

Keberaniannya berinovasi ini pula yang agaknya membuat brand Lia bisa bersaing di tingkat nasional. Bahkan, dari beberapa daerah di Indonesia, pelanggannya mayoritas berasal dari Bandung dan Jakarta. Adapun dari Kediri dan sekitarnya justru minim. “Saya beli bahan dari Bandung dan Jakarta, ternyata pembelinya paling banyak dari sana,” bebernya seraya tersenyum.

Setelah usahanya berkembang pesat dan pelanggan yakin dengan kualitas baju buatannya, kini Lia tidak perlu lagi ‘menyembunyikan’ Kediri. Jika sebelumnya banyak yang membatalkan order karena pengirimannya dari Kota Tahu, kini mereka dengan percaya diri menyebut lokasi pengiriman dari Kediri. Perempuan berkulit putih itu bersyukur sekarang sudah tidak ada lagi yang urung pesan karena ragu-ragu.

Menekuni bisnis fashion selama sekitar tiga tahun terakhir, Lia masih ingin terus melebarkan sayapnya. Menjangkau pasar yang lebih luas lagi dengan memaksimalkan pemasaran di online. “Saya ingin lebih bermanfaat lagi untuk orang banyak. Kalau bisnis semakin berkembang, akan semakin banyak orang yang bisa kami bantu,” urainya sembari melirik sang suami. 

Sejak Bayleaf.id berdiri, rupanya Lia rutin menyumbangkan nasi 50-100 bungkus tiap pagi. Selain itu, dia juga memberikan bantuan sosial ke berbagai pihak sebagai bentuk kepeduliannya. Ke depan, dia ingin membuka showroom untuk memberi pelatihan khusus kepada UMKM agar sukses memasarkan produk secara online.

Salah satu gedung pemasaran di Jl Semeru, Kelurahan Tamanan, Kota Kediri yang digagas jadi tempat belajar bagi UMKM itu. “Kami tidak ingin hanya melulu mengejar untung, tetapi juga harus bisa bermanfaat untuk orang banyak,” beber pengusaha muda yang jumlah follower  di Instagramnya hampir 1 juta itu. (ut) 

Sukses di Pasar Online ala Lia:

-Membuat produk yang berkualitas yang sesuai dengan target pasar

-Menyiapkan media sosial untuk memasarkan produk

-Membuat konten yang menarik dari segi desain, foto, dan warna agar follower banyak

-Memaksimalkan promo di marketplace dan media sosial dengan mengalokasikan budget khusus.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news