Rabu, 28 Jul 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

KEN Harus Steril dari PKL

DPRKPP Minta Satpol PP Bertindak Tegas

22 Juli 2021, 12: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

KEN

Kawasan Ekonomi Nganjuk (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Kawasan Ekonomi Nganjuk (KEN) di Jalan Ahmad Yani Nganjuk harus lebih baik dari Jalan Malioboro, Jogjakarta. Meski konsepnya hampir sama. Namun, ada beberapa hal kekurangan di Jalan Malioboro yang tidak boleh ada di KEN. Salah satu kekurangan tersebut adalah maraknya pedagang kaki lima (PKL). “PKL tidak boleh ada di KEN,” tandas Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPRKP) Kabupaten Nganjuk Agus Frihannedy.

Jika PKL diizinkan berjualan KEN akan menjadi kumuh. Karena PKL akan menggelar dagangannya di trotoar hingga bahu jalan. Akibatnya, ruas jalan yang dibuat lebar dengan menggabungkan dua ruas jalan di Jalan A. Yani tidak akan ada artinya. Bahkan, perubahan arus lalu lintas dari dua arah menjadi satu arah juga tidak akan mengurai kemacetan. Karena penbeli di PKL akan berkerumun di dagangan yang digelar PKL dan memakir kendaraannya sembarangan. “PKL nanti akan membuat macet KEN,” tandasnya.

Lalu bagaimana dengan nasib PKL? Agus mengatakan, jika KEN sudah selesai dibangun. Semua PKL mulai dari Jalan A. Yani hingga Alun-Alun Nganjuk harus direlokalisasi ke tempat yang disediakan. Rencananya, PKL akan ditempatkan di Pasar Wage yang saat ini dalam proses pembangunan. Di sana, lokasinya tidak jauh dari KEN. Jadi, pengunjung KEN bisa berbelanja atau berkuliner di PKL yang ada Pasar Wage. “KEN ini juga solusi untuk penataan PKL,” ujarnya.

Baca juga: SMK Al Huda Kota Kediri Gelar MPLS Daring untuk Siswa Baru

Ploso

KONDISI SAAT INI: Jembatan Ploso kurang menarik. DPRKPP akan membangun pilar untuk lampu warna-warni di atas Jembatan Ploso. (Karen Wibi - radarkediri.id)

Namun bagi pengunjung milenial, kepala dinas asal Kecamatan Kertosono ini menyediakan Slumbung Food Festival (SFF). Lokasinya ada di barat dan timur atau tepatnya di atas Sungai Slumbung yang kumuh. Setelah sungai dibersihkan dan dilakukan normalisasi, SFF akan segera dibangun.

Agus menjelaskan, konsep KEN ini adalah wisata malam hari tanpa ada PKL. Karena itu, permainan lighting menjadi andalan. Bahkan, Jembatan Ploso yang selama ini tidak menarik akan menjadi gerbang menuju KEN. Di jembatan akan dibangun pilar-pilar dengan tinggi bervariasi. Paling tinggi sekitar 10 meter. “Nanti pilar-pilar itu akan bercahaya saat malam hari. Jadi, kalau ada PKL di jembatan akan sangat mengganggu keindahan,” ujarnya.  

Agar rencana penataan PKL berjalan lancar, Agus mengatakan, sudah melakukan koordinasi dengan disperindag dan Satpol PP Kabupaten Nganjuk. Karena pedagang ada di bawah naungan disperindag. Kemudian, satpol PP yang berwenang untuk penertiban. “Satpol PP harus tegas menertibkan jika ada PKL yang membandel jualan di KEN,” pintanya.

Sementara itu, Kasi Ketertiban Umum Satpol PP Kabupaten Nganjuk  Sutikno mengatakan, sudah koordinasi dengan DPRKPP Kabupaten Nganjuk terkait penataan PKL di Jalan A. Yani Nganjuk dan pedagang ayam di atas Sungai Slumbung. “Kami juga sudah sosialisasi ke PKL dan pedagang ayam untuk relokasi ke Pasar Wage,” ungkapnya.

Saat ini Satpol PP masih melakukan pendataan pedagang ayam dan PKL. Ini untuk mengetahui berapa jumlah pedagang ayam dan PKL yang akan direlokasi ke Pasar Wage. Jika semua sudah terdata maka relokasi akan segera dilakukan. “Kami akan menertibkan PKL yang bandel jika sudah direlokasi tetapi berani berjualan di KEN,” tandasnya.

Berdasarkan pengamatan wartawan koran ini, PKL di Jalan Ahmad Yani masih berjualan kemarin siang. Mereka mangkal dengan menggunakan gerobak.  Totok Darmanto, 44, salah satu PKL di Jalan A. Yani mengaku sudah mendengar jika pedagang ayam dan PKL akan direlokasi ke Pasar Wage. “Kami siap pindah ke Pasar Wage,” katanya.

Pedagang es cincau asal Kecamatan Nganjuk ini mengatakan, saat pandemi Covid-19 ini pembeli sangat sepi. Bahkan, dengan adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat yang diperpanjang hingga 25 Juli membuat pedagang kesulitan. Jalan A. Yani masih ditutup. “Jika nanti dipindah ke Pasar Wage, kami ingin di sana ramai pembeli. Jangan tambah sepi,” pintanya.

(rk/tar/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news