Rabu, 28 Jul 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Gidion Hardjuntoro, Pelari Lansia yang Biasa Lahap Puluhan Kilometer

21 Juli 2021, 15: 47: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

Gidion pelari

STAMINA PRIMA: Gidion Hardjuntoro, 73, berlari di gang rumahnya, Kelurahan Singonegaran, Kota Kediri. Usia tua tak menghalangi hobinya berolahraga. (Dewi Ayu Ningtyas - radar kediri)

Share this          

Orang dengan riwayat penyakit jantung umumnya menghindari olahraga kardio. Gidion Hardjuntoro justru sebaliknya. Lansia asal Kelurahan Singonegaran, Pesantren itu justru mulai gemar berlari setelah mengalami serangan jantung.

DEWI AYU NINGTYAS, KOTA. JP Radar Kediri 

Jarum jam menunjukkan pukul 16.30, Sabtu (17/7) lalu. Gidion Hardjuntoro terlihat sibuk memakai sepatu di teras rumahnya. Memakai kaus running koleksinya, pria berusia 73 tahun itu mulai berlari menyusuri gang 4, Kelurahan Singonegaran.

Baca juga: Praktik Pendidikan di Masa Suram

Saat mayoritas warga mulai beristirahat di rumahnya, Gidion justru baru mulai berolahraga. Sedikitnya dia berlari memutari gang sebanyak empat kali. Jarak sekitar satu kilometer itu ditempuh dalam waktu kurang dari 10 menit. 

Dengan kecepatan yang relatif tinggi, Gidion terlihat tidak ngos-ngosan. “Saya hobi lari justru setelah terkena serangan jantung,” ujar Gidion mengawali ceritanya.

Serangan jantung terjadi pada 2015 lalu. Akibat penyakit itu, kini jantungnya dipasangi ring berdiameter empat milimeter. Ring yang sangat lebar itu dipasang di jantung Gidion karena pembuluh darahnya istimewa. Sangat lebar.

Jika kebanyakan pasien penyakit jantung mengurangi aktivitas fisiknya, pria kelahiran 10 Juni 1947 itu justru mulai menekuni olahraga lari. “Sampai sekarang tidak lagi merasakan keluhan (di jantung, Red),” lanjutnya.

Gidion justru merasa semakin fit dan tidur dengan nyenyak. Kondisi tubuhnya yang semakin sehat itu bukan hanya karena hobi larinya. Dia sengaja menerapkan pola hidup sehat. Seolah punya alarm khusus, lansia itu mulai tidur pukul 21.00.

Saking disiplinnya menaati jadwal itu, Gidion sengaja tak acuh saat ada panggilan telepon masuk. “Tahu berdering, sudah tidak menerima telepon,” tuturnya anggota klub Winners ini seraya tertawa.

Bagaimana dia bisa berkenalan dengan klub lari itu? Rupanya, Gidion bergabung dengan para penghobi lari itu setelah dikenalkan oleh bosnya. Gidion yang setiap hari bekerja di bengkel mesin itu diajak bergabung setelah sang bos tahu karyawannya suka olahraga lari. 

Pria yang setiap hari mengecek dan memperbaiki mesin-mesin besar itu lantas menjadi pelari tertua di klub Winners. “Sebelumnya (suka lari, Red) justru sudah lama gowes (bersepeda, Red),” paparnya sembari menyebut dia berhenti bersepeda setelah mengalami serangan jantung.

Selain menggeluti bersepeda selama sekitar 14 tahun, dia lantas menambah jumlah daftar olahraganya. Tak melulu bersama Alan, sepeda favoritnya, melainkan kini lebih intens berlari.

Jika lima tahun silam dia harus berhenti olahraga karena sakit, Gidion bersyukur saat ini dia praktis tak pernah mengalami keluhan. Pun saat dia tidak menghindari makanan tertentu. “Saya juga tidak mengonsumsi obat untuk menguatkan stamina,” bebernya.

Sesuai petunjuk dokter, Gidion cukup mengatur asupan makanannya. Adapun jenisnya tidak pernah berpantang. Dia bebas memakan apapun. Secukupnya.

Selebihnya, Gidion mengombinasikan olahraga lari dan bersepeda.  Dia memiliki jadwal khusus untuk melakoni dua olahraga yang mengandalkan kekuatan kaki itu. 

Yakni, pada Senin, Rabu, dan Jumat dia fokus berlari. Selebihnya, Gidion mengisi hari-harinya dengan bersepeda.  “Saya merasakan lari itu olahraga paling istimewa karena diwajah juga tidak lesu. Kalau saya tidak lari rasanya punya hutang,” beber pria yang menempuh rute terjauh sepanjang 21 kilometer itu. (ut)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news