Rabu, 28 Jul 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Praktik Pendidikan di Masa Suram

21 Juli 2021, 15: 31: 29 WIB | editor : Adi Nugroho

Yosef Cahyo

Oleh : Yosef Cahyo

Share this          

Kita tentu sepakat dengan sejumlah ahli pendidikan yang mengatakan bahwa pembangunan ini membutuhkan manusia yang memiliki soft skill dan hard skill. Ditambahkan bahwa soft skill lebih penting dari hard skill. Selain itu, ada juga yang mendikotomi kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan intelektual (IQ). Dikatakan pula bahwa EQ berkontribusi 80 persen pada keberhasilan seseorang. Sedang IQ hanya 20 persen sisanya. 

Ahli dari Universitas Yale memperkenalkan successful inteligence (SI) yang justru dianggap lebih penting dari yang lain. Seseorang dengan SI tinggi akan meraih sukses karena mampu memotivasi dirinya untuk terus maju. Mampu mengontrol emosi  dan impulse negatif serta berani mengambil risiko. Mampu memecahkan masalah dan menerjemahkan pikiran ke dalam aksi nyata, serta kreatif.

Munculnya konsep SI ini menyempurnakan paradigma konvensional dalam membangun kecerdasan manusia. Paradigma yang mendewakan kemampuan akademik kini harus ditambah SI untuk ukuran kecerdasan. Membentuk SI memang lebih sulit. Tetapi anehnya justru sering dilalaikan.

Baca juga: Gundi Berpeluang Gantikan Arbayana

Pembelajaran yang tetap berlangsung dengan membaca buku, menghafal dan latihan berulang cenderung tidak mengajarkan peserta didik cakap mengolah emosi dan punya motivasi berpikir analitis serta kritis. Peserta didik memang mampu dengan baik mengingat waktu meletusnya dua kali pemberontakan PKI terjadi. Tetapi sama sekali tak paham konteksnya. Apalagi menganalisa penyebab terjadinya pemberontakan serta implikasinya.

Dari dulu kita sepertinya diarahkan untuk berpikir rendah. Hanya mengasah keterampilan memori jangka pendek. Lupa setelah ujian. Bentuk jawaban tes umumnya hanya satu yang benar. Tidak memberi peluang bagi peserta didik untuk bersikap fleksibel terhadap keragaman pendapat dalam realitas sosial. 

Akhirnya, peserta didik terbiasa berpikir hitam putih. Jauh dari kemampuan berpikir alternatif bahkan berbeda. Sejumlah peristiwa yang menandai kehidupan masyarakat tidak toleran terhadap perbedaan bisa jadi adalah gambaran cara berpikir seperti itu. Yang berbeda ingin disamakan dengan dirinya. Karena yang berbeda dianggap salah. 

Karena tak mampu berpikir alternatif akhirnya cenderung menghindari tantangan. Bukannya menghadapi tantangan. Mencari pekerjaan aman tanpa tantangan. Semua ingin menjadi pegawai karena jelas upahnya. Bahkan, akan memperoleh uang pensiun saat kelak sudah bau tanah. Akhirnya bukan sesuatu yang mengejutkan jika kita tak mampu bersaing di era global ini. 

Kesimpulannya jika pendidikan cuma berorientasi pada kecerdasan akademik sebenarnya justru akan cenderung menghambat SI. Untuk mendukung SI banyak negara maju yang tidak memberikan nilai apalagi ranking pada peserta didik. Penilaian diberikan berupa deskripsi verbal. Evaluasi jawaban tes didasarkan pada pemecahan masalah serta kemampuan berpikir dan esai reasoning.

Pembelajaran yang sudah sejak awal perlu direvisi itu kini semakin menjauh dari cita-cita membentuk sumber daya yang punya daya saing global. Bahkan keadaan ini diperunyam oleh realitas suram sebab dihantam pandemi Covid-19 yang tak jelas kapan tuntas. 

Mungkin di saat pandemi ini yang paling merisaukan adalah praktik pendidikan. Pembelajaran dipenuhi kekacaubalauan tersebab rongrongan rasa takut yang amat sangat pada Covid-19. Jarak fisik untuk memutus rantai penularan hanya menghasilkan rasa rindu teman dan guru. Gedung sekolah megah berubah layaknya tempat hantu singgah. Prokes ketat tak juga menyelesaikan masalah cepat.

Implikasi realitas sangat suram ini memukul telak dunia pendidikan kita. Tapi mungkin justru inilah saatnya kita berpikir sudah waktunya memperhatikan SI peserta didik. Lebih intens melibatkan orang tua hingga pada penilaian deskriptif mata pelajaran tertentu mungkin bisa mulai dipikirkan. Tentu, sambil melatih kejujuran orang tua murid dalam menilai anaknya sendiri. (Yosef Cahyo, SP., ST., MT., M.Eng adalah Dekan Fakultas Teknik Universitas Kadiri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news