Rabu, 28 Jul 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Imam Muchson, Pengoleksi Sepeda Tua Asal Ngasem Kediri

20 Juli 2021, 15: 45: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

Sepeda tua kang son

UNIK: Imam Muchson menunjukkan keterampilannya mengendarai sepeda goyang yang langka miliknya. (Ilmidza Amalia Nadzira - radar kediri)

Share this          

Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Imam Muchson yang mempunyai hobi mengoleksi sepeda tua, sekaligus menjadikannya investasi. Sering mengikuti pameran, pria yang gemar memakai kostum unik ini sering mendapat juara.

ILMIDZA AMALIA NADZIRA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

.

Baca juga: Beasiswa BRI Wujudkan Mimpi Anak Petani

Imam Muchson terlihat sibuk membersihkan sepeda tua yang terparkir di sebelah warung kopi miliknya, di Dusun Kweden, Desa Karangrejo, Ngasem, sekitar pukul 13.30, Rabu (14/7) lalu. Memegang lap kain di tangan kanan dan botol pembersih besi di tangan kiri, pria yang akrab disapa Kang Son ini terlihat berhati-hati sekali mengelap sepedanya. 

Tiap lekukan sepeda tak luput dari usapan lapnya. Seolah tak puas, dia beberapa kali mengecek bagian yang tersembunyi untuk memastikannya sudah benar-benar bersih. 

Ya, sepeda tua itu memang bukan sekadar alat transportasi baginya. Lebih dari itu, rangkaian besi tua itu adalah benda kesayangannya. Melihatnya dalam kondisi bersih, sudah membuatnya berbahagia. “Saya mulai suka sepeda tua sejak tahun 2005,” ujarnya memulai pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Kediri.   

Sepeda yang minggu lalu dibersihkan itu tak ubahnya “cinta” pertamanya. Sebab, sepeda itu sekaligus merupakan koleksinya yang pertama. Sepeda itu pula yang membuatnya kepincut dengan besi tua itu. 

“Virus” cinta sepeda tua mulai hinggap pada dirinya saat dia mengenyam pendidikan di pesantren. Adalah temannya asal Surabaya yang awalnya mengoleksi sepeda tua. Kang Son yang sering melihat sepeda itu pun ikut tertarik. 

Hingga saat ini, total ada tujuh sepeda tua miliknya. Sepeda-sepeda tersebut rutin mengikuti pameran yang digelar komunitas sepeda tua.  Saking seringnya, nama Kang Son tidak lagi asing di kalangan komunitas sepeda ontel di Jawa Timur.

Nama Kang Son yang familiar itu bukan saja karena dia sering mengikuti pameran. Melainkan karena dandanannya yang unik. Sehari-hari, dia selalu memakai memakai blangkon. 

Penutup kepala tersebut tak pernah lepas saat dia bersepeda. Pakaiannya akan semakin lengkap saat mengikuti pameran. Dia selalu menyesuaikan kostum yang dipakai dengan tema pameran.

Misalnya, saat mengikuti event sepeda tua Mojokerto-Surabaya pada 2015 dan 2016 silam, Kang Son juga tampil penuh totalitas. “Saya menghayati tema. Ketika memakai kostum, saya harus benar-benar menjiwainya. Waktu itu saya memakai kostum pahlawan,” kenangnya. 

Keberaniannya untuk tampil beda di event tingkat Jatim itu membuat Kang Son didapuk menjadi juara. Kemenangan yang diukir dua tahun berturut-turut itu pun lekat dalam ingatannya hingga kini. 

Sebagai ontelis, Kang Son sudah menjelajahi berbagai daerah di Jawa timur. Termasuk melawat ke Jember pada 2016 silam. Untuk mencapai pesisir timur Jatim itu, dia harus menempuh perjalanan selama lima hari. 

Perjalanannya menjadi jauh lebih lama karena dia harus mampir ke komunitas sepeda tua yang ada di tiap daerah. “Saya sempatkan silaturahmi ke sesama komunitas,” beber pria kelahiran 1981 tersebut sembari mengatakan para penghobi sepeda tua memang memiliki ikatan yang kuat.

Karenanya, jika mereka kedapatan tak mampir ke rumah sesama komunitas saat melewati daerah mereka, Kang Son akan kena marah. Berdalih tak mau merepotkan, pria lajang ini kerap melakukan perjalanan jauh secara diam-diam. 

Dia sama sekali tak mem-posting perjalanannya di media sosial. “Lebih baik diam-diam saja. Terkadang saya melakukan perjalanan untuk refreshing atau menikmati keindahan alam,” papar pria berambut gondrong tersebut.

Belasan tahun bergelut dengan sepeda tua, belakangan Kang Son tidak hanya menjadikannya sebagai hobi. Melainkan sekaligus untuk investasi. Dia semakin bersemangat karena sepeda koleksinya sering terjual dengan keuntungan lebih dari 100 persen. 

Dia mencontohkan salah satu sepeda tuanya yang saat itu dibeli Rp 750 ribu. Beberapa tahun kemudian laku dijual Rp 1,5 juta. “Tergantung seberapa keaslian sepedanya,” jelas Kang Son. 

Semakin tua umur sepeda, semakin mahal harganya. Apalagi, jika bodi sepeda belum berubah alias masih asli onderdilnya. Selain sepeda tersebut, ada beberapa koleksi Kang Son yang sebenarnya diminati pembeli. Tetapi, dia enggan melepas karena masih sangat menyukainya.

Selain sepeda tua, Kang Son juga memiliki sepeda goyang. Untuk mengendarai sepeda satu ini, diperlukan keahlian khusus karena rodanya akan bergoyang-goyang. “Ini kan unik ya. Jarang sekali yang punya dan yang bisa, jadi saya tertarik,” beber pria berusia 40 tahun ini. (ut)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news