Rabu, 28 Jul 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Penjualan Kambing Kurban di Nganjuk merosot karena PPKM Darurat

Pemkab Tak Izinkan Salat Idul Adha di Masjid

19 Juli 2021, 12: 19: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Embek

SEPI: Petugas kambing kurban di Loceret sepi pembeli. Diduga PPKM darurat dan pandemi Covid-19 menjadi penyebabnya. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP RadarNganjuk- Pedagang hewan kurban yang biasanya sukses mendulang rupiah saat hari raya Idul Adha harus gigit jari. Pasalnya, dalam Idul Adha tahun ini, pemerintah menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat 3-20 Juli. Akibatnya, omzet penjualan kambing kurban menurun. “Penurunan omzet itu pasti,” keluh Suyitno, 50, salah seorang pedagang kambing kurban di jalan raya Nganjuk-Kediri, Desa Godean, Kecamatan Loceret saat ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.

Pria yang akrab disapa Yitno tersebut mengaku bahwa sebelum adanya pandemi, dia bisa menjual ratusan ekor kambing kurban setiap Idul Adha. Namun, hal tersebut berbeda 180 derajat. Hingga kemarin, kambing yang berhasil dijual masih puluhan. Bahkan jika dibandingkan tahun lalu, penjualan tahun ini lebih parah. Tahun 2019, Yitno bisa menjual 150 ekor kambing kurban. Kemudian, pada 2020 turun menjadi 65 ekor kambing yang berhasil dijual.

Tahun ini diperkirakan akan merosot lagi penjualannya. "Hingga hari ini (kemarin, Red) baru terjual 40 ekor kambing," ujarnya. Sebenarnya, harga kambing kurban tidak mengalami kenaikan. Harga kambing berukuran besar sekitar Rp 3 juta-Rp 4 juta. Namun, masyarakat yang mau membeli justru mengalami penurunan. "Mungkin musim korona dan PPKM darurat," ujarnya.

Baca juga: Terobos Trotoar hingga Lawan Arus Lalin

Kambing

HANYA DALAM KOTA: Pedagang Kambing mengikat kambing di pikap. Permintaan kambing luar nganjuk. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Hal senada diutarakan pedagang kambing di jalan Warujayeng-Kediri, tepatnya di Desa Kurungrejo, Kecamatan Prambon. Candra Wicahyono, 29, salah  seorang pedagang di sana mengaku bahwa penjualan kambing kurban tahun ini anjlok dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dulunya, penjualan kambing kurban di empatnya bisa mencapai 300 ekor setiap Idul Adha.

Pasalnya, banyak pasar luar kota yang juga mengambil dagangannya. Namun semenjak adanya pandemi Covid-19 dan PPKM darurat, penjualan kambing menurun. “Sekarang ya mayoritas melayani dalam kota saja,” ujarnya. Terpisah, Plt Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menegaskan PPKM darurat  untuk menekan penyebaran Covid-19 di Jawa dan Bali. Karena saat ini penderita Covid-19 terus melonjak.

Untuk salat Idul Adha, pemkab memutuskan untuk tidak mengizinkan masyarakat melaksanakan salat Idul Adha di masjid atau musala. Karena akan menimbulkan kerumunan. “Kebijakan ini diambil untuk mencegah dan memutus rantai penyebaran Covid-19,” tegasnya.

Namun begitu, Marhaen mengatakan bahwa penyembelihan hewan kurban tetap boleh dilaksanakan. Hanya saja, harus mematuhi protokol kesehatan (prokes) secara ketat 5M. "Wajib memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan saat penyembelihan hewan kurban," pintanya.

(rk/tar/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news