Rabu, 28 Jul 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Ketahanan Pangan dan Bertani di Pekarangan

14 Juli 2021, 15: 12: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

Ketahanan Pangan dan Bertani di Pekarangan

Share this          

Kepadatan penduduk di wilayah perkotaan tentu menjadikan lahan persawahan mengalah untuk digunakan pemukiman dan industri. Inilah penyebab utama pemenuhan kebutuhan pangan orang kota tergantung pasar yang seringkali berdampak merugikan. Masyarakat sebagai konsumen sering menyerah pada perilaku pasar yang kadang melambungkan harga tanpa bisa dikendalikan. Pemenuhan kebutuhan pangan orang kota akhirnya bertumpu pada tata niaga.

Di saat semakin menyempitnya lahan pertanian tersebab pertambahan penduduk perkotaan, tentu diperlukan strategi yang memungkinkan masyarakat kota tidak semakin tergantung pada perilaku pasar kebutuhan pokok. Apalagi saat ini sedang terjadi anomali musim yang tentu berakibat tidak menguntungkan petani.

Baca juga: Berdalih Kesepian karena Istri Jadi TKW

Ketika hasil panen tidak memadai dengan sendirinya terjadi penurunan penawaran sementara permintaan merangkak naik. Akibatnya, terjadi kenaikan harga kebutuhan bahan pangan.

Dalam proses produksi pangan yang terpenting adalah adanya media tanam di samping pengetahuan dan keterampilan bertani. Pengetahuan dan keterampilan ini memang tidak dimiliki setiap orang. Tetapi dapat dipelajari dengan hanya mengetahui dari melihat maupun bertanya dan berlatih.

Jika yang terpenting adalah media tanam, kita tidak boleh melalaikan pekarangan. Pekarangan adalah lahan yang berada tidak jauh dari rumah bahkan menempel di seputar bangunan rumah. Pada umumnya pekarangan merupakan lahan berpagar yang dibangun pemilik rumah sebagai pembatas dari tanah milik orang lain. 

Luas  pekarangan secara statistik memang sulit untuk dilakukan pendataan. Namun setidaknya di setiap  rumah terdapat pekarangan. Paling tidak, pekarangan itu berupa halaman rumah (home yard).

Namun tidak semua orang memanfaatkan pekarangan untuk bertani karena tidak setiap orang mempunyai keterampilan bertani apalagi untuk tanaman pangan. Padahal sebenarnya teknologi bertani itu tidaklah sulit. Hanya perlu sedikit pengetahuan, tetapi kuat  kemauan dan ketelatenan. Karena sebenarnya, setelah mengetahui dan mencoba melakukannya bisa jadi tanam menanam itu akan  berkembang menjadi kesenangan (hobi).

Setiap orang mempunyai motivasi dalam memilih kegiatan bertani terutama di lahan pekarangan. Ada sedikit perbedaan motivasi bertani di sawah dengan motivasi di lahan pekarangan. Rerata motivasi bertani di sawah adalah untuk tujuan komersial meski bersifat subsisten (memenuhi kebutuhan sendiri).

Lain halnya dengan motivasi bertani di lahan pekarangan, yang hanya bersifat pemenuhan kebutuhan. Baik kebutuhan fisiologis (kebutuhan pangan) maupun psikologis  yaitu terkait dengan kesenangan.

Pendayagunaan pekarangan itu intinya adalah memanfaatkan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan bagi rumah tangga sesuai kebutuhan pangan yang beragam bergizi dan seimbang aman. Syukur-syukur bisa meningkatkan pendapatan rumah tangga.  

Tetapi harus diakui, bahwa pembiasaan memanfaatkan lahan pekarangan ini belum menggembirakan. Padahal, seperti layaknya bertani di sawah, yang diperlukan adalah kesadaran mengawali dengan kesungguhan. Persepsi yang baik terhadap  kegiatan bertani di pekarangan merupakan modal awal  untuk tertarik dan memulai mendayagunakan lahan pekarangan.

Terkait dengan pembiasaan mendayagunakan pekarangan, sosiolog Perancis Felix Pierre Bourdeau mengedarkan Teori Habitus. Menjelaskan kebiasaan yang tidak dapat ditinggalkan untuk digunakan sebagai pendorong pembiasaan dalam hal tertentu. Dalam hal ini adalah mendayagunakan lahan pekarangan.

Masalah dalam pengembangan pemanfaatan pekarangan di perkotaan adalah terkait membangun kebiasaan masyarakat untuk bertani di pekarangan. Menurut konsep Bourdeau kebiasaan melekat (habitus) seseorang dapat terbentuk dari sejarah hidupnya. Setidaknya unsur yang membentuk habitus adalah persepsi dan rasa. Dari persepsi yang baik, orang akan mempunyai rasa senang.

Sesungguhnya setiap orang telah kenal pertanian bahkan sebagaian besar menyukai. Meskipun mungkin ada yang sekadar menikmati indahnya tanaman jika tumbuh baik. Modal rasa senang ini tentu dapat dikembangkan sebagai salah satu model penyuluhan. Sehingga mampu menarik perhatian untuk mengembangkan praktik yang mengarah pada terbentuknya keterampilan. Sekaligus modal melakukan pendayagunaan pekarangan yang berkelanjutan.

Pertanyaan selanjutnya adalah, mampukan sektor pendidikan  mencetak penyuluh lapang  yang dapat berkomunikasi dan memahami psikologi peserta didik? Mengingat bahwa timbulnya persepsi dan rasa senang pada kegiatan bertani sangat terkait dengan masalah kognitif.

Jadi, apabila kita sepakat bahwa menghadapi menyempitnya lahan persawahan diperlukan pendayagunaan lahan pekarangan mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan maka mengikuti arahan Bourdeau, seharusnya pendidikan bertani sudah dimulai pada anak usia sekolah. Jika mungkin mulai diperkenalkan pada jenjang pendidikan usia dini (PAUD). Kemudian ke tingkat Sekolah Dasar (SD/MI) hingga SMP/MTs.  Karena pada rentang usia pendidikan dasar, anak tergolong early adopter. Mudah menerima gagasan, mudah mengingat, dan meniru. Keadaan inilah yang kelak akan menjadi bagian sejarah hidup dan menjadi habitus-nya. (Dr Ir Widi Artini adalah Dekan Fakultas Pertanian Universitas Kadiri)

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news