Rabu, 28 Jul 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Home Education: Solusi Degradasi Moral Bangsa

07 Juli 2021, 17: 39: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh: Lilian Netya Al Mabruroh, SPdI

Oleh: Lilian Netya Al Mabruroh, SPdI

Share this          

Dua pekan lalu, publik digemparkan dengan berita hubungan gelap yang melibatkan dua kakak beradik di Bekasi, Jawa Barat. Hubungan terlarang itu menjadikan sang kakak hamil. Yang kemudian menggelapkan mata dan membunuh bayi yang baru dilahirkannya. Peristiwa ini tentu mengusik benak masyarakat, bagaimana mungkin saudara kandung bisa terlibat perzinahan?

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), sejak 1 Januari hingga Maret 2021, terdapat 426 kasus kekerasan seksual. Dari total 1.008 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Jumlah kasus terus meningkat hingga 3 Juni 2021 kemarin, tercatat 1.902 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Fakta ini harusnya menyadarkan kita tentang kondisi moral bangsa yang sedang tidak baik-baik saja.

Degradasi moral yang terjadi dewasa ini, tidak serta merta datang tiba-tiba. Ada banyak faktor yang memicu munculnya permasalahan bangsa ini. Salah satu penyebabnya adalah minimnya ketahanan keluarga. Yang diawali dengan minimnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya.

Baca juga: Warga Penasaran Gelapnya Jalanan

Betapa banyak kita temukan, orang tua yang pasrah bongkokan ke lembaga-lembaga pendidikan. Dengan membayar sejumah uang, orang tua berharap saat anak pulang, mereka telah menjadi anak yang saleh. Padahal, baik sekolah maupun pesantren, hanya sebagai mitra dalam mendidik anak. Bukan penanggung jawab utama.

Permasalahan serius ini semakin runyam sejak pandemi Covid-19 melanda. Semua sekolah menerapkan sistem pembelajaran daring. Siswa belajar di rumah didampingi orang tua.

Hal ini menjadi balada tersendiri bagi orang tua. Kebiasaan menyerahkan pendidikan anak pada sekolah, menjadikan orang tua kelimpungan. Di satu sisi anak dituntut tetap belajar, tapi di sisi lain, orang tua habis akal bagaimana mengajari anak-anaknya. Tak ayal, tingkat stres pada orang tua yang meningkat, menjadikan mereka menyerahkan gawai pada anak agar mereka bisa mengerjakan sendiri dan tentu saja tidak lagi rewel.

Masalah baru muncul saat anak-anak semakin tergantung pada gadget. Tingkat kecanduan pada alat teknologi ini menjadikan anak enggan beraktivitas dan bersosial. Mereka terjebak pada game-game online. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang larut dengan berbagai suguhan lintas usia dan gender di layar handphone.

Karena menonton tayangan yang belum masanya, menjadikan anak-anak terdorong untuk mempraktikkan. Maka terjadilah kasus-kasus asusila di kalangan remaja dan anak-anak.

Berbagai kasus kemerosotan moral di Indonesia tidak bisa kita abaikan. Perlu langkah nyata bersama untuk memperbaiki keadaan. Semua bisa dimulai dari lingkup kecil, keluarga. Salah satunya dengan menerapkan home education atau home based education. Pendidikan berbasis rumah ini merupakan amanah dan kesejatian peran dari setiap orang tua yang tak tergantikan. Dan tidak bisa didelegasikan kepada siapapun.

Home education tidak serta merta memindahkan kurikulum sekolah ke rumah. Tidak pula menjejalkan berbagai hal kepada anak-anak. Namun, lebih pada bagaimana orang tua kembali mengambil peran pendidik yang pertama dan utama bagi putra-putrinya. Yakni membangkitkan dan menumbuhkan fitrah-fitrah dalam diri orang tua dan anak-anak, agar mencapai peran peradabannya dengan semulia-mulia akhlak.

Keluarga adalah miniatur peradaban. Peradaban akan gemilang manakala keluarga memiliki pondasi yang kokoh. Sebaliknya, peradaban akan mengalami kehancuran manakala keluarga porak-poranda.

Untuk membangun pondasi yang kokoh, setidaknya orang tua memahami dan berusaha menumbuh suburkan fitrah-fitrah yang telah diinstal Tuhan YME. Dalam Fitrah Based Education karya Harry Santosa, setidaknya ada empat fitrah pada manusia sejak dilahirkan.

Pertama, fitrah keimanan. Yakni setiap bayi yang terlahir telah mengambil persaksian akan keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan. Maka, setiap kita harusnya mengenal dan merindukan sosok Rabb atau Tuhan.

Kedua, fitrah belajar. Fitrah ini menjadikan setiap anak manusia adalah pembelajar sejati. Situasi dan kondisi yang menjadikan mereka mengalami kemandegan dan hilang gairah belajar.

Ketiga, fitrah bakat. Setiap bayi yang lahir adalah unik. Mereka memiliki sifat bawaan yang berbeda satu sama lain. Sekalipun itu saudara kembar identik. Sifat unik inilah yang kelak menjadi panggilan hidup dan peran spesifiknya di muka bumi.

Keempat, fitrah perkembangan. Setiap manusia dari bayi sampai akil balik dan sesudahnya, memiliki tahap-tahap perkembangan yang harus diikuti. Tidak berlaku kaidah lebih cepat lebih baik.

Akhirnya, mari kembalikan kesejatian peran kita sebagai orang tua. Jadikan pandemi ini sebagai momentum untuk kita menguatkan kembali pondasi keluarga. Demi tercipta peradaban yang mulia. (Penulis adalah seorang Pemerhati Pendidikan Keuarga)

(rk/jpr/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news