Rabu, 28 Jul 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Ini Sejumlah Faktor yang Bisa Picu Inflasi di Kediri

05 Juli 2021, 12: 26: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

cabai

KOMODITAS PEDAS: Yessica Octavia memasarkan dagangan cabai rawitnya di Pasar Setonobetek, Kota Kediri kemarin. Kenaikan harga komoditas ini berpotensi mengerek inflasi. (Dewi Ayu Ningtyas - radar kediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Meningkatnya tren kasus korona menimbulkan kekhawatiran terjadi inflasi pada Juli 2021 ini. Pasalnya, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di beberapa daerah dapat menghambat distribusi barang.

Termasuk komoditas cabai. Harganya diprediksi akan terus naik. Pantauan koran ini, kondisi tersebut terlihat di sejumlah pasar tradisional di Kota Tahu. Yessica Ovtavia, 22, pedagang cabai di Pasar Setonobetek, mengatakan, sudah sejak seminggu lalu (27/6) harga cabai terkerek naik.

“Dari semula Rp 42 ribu per kilogram (kg) menjadi Rp 52 ribu per kilogram. Cabai keriting juga sama,” tuturnya.

Baca juga: Anomali Cuaca, Petani Wajib Ekstrawaspada

Untuk cabai keriting kemarin tembus Rp 24 ribu per kilogram. Padahal, seminggu sebelumnya masih berada di kisaran angka Rp 15 ribu per kilogram. “Sekarang sudah naik harganya,” terang perempuan asal Kelurahan Manisrenggo, Kecamatan Kota Kediri itu.

Kasi Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Adi Wijaya pun memprediksi harga cabai merah dan cabai rawit mengalami kenaikan pada Juli ini. Kondisi tersebut dipengaruhi pergantian musim kemarau. Selain itu, beberapa daerah mengalami gagal panen. “Hal tersebut berimbas pada ketersediaan stok cabai bulan Juli ini,” terangnya.

Selain itu, lanjut Adi, ada dua hal yang mempengaruhi inflasi Juli di Kota Kediri. Yakni kenaikan cukai rokok dan kegagalan panen di beberapa tempat. Terlebih dalam situasi pandemi Covid-19 yang meningkat.

“Pengetatan keluar masuk kendaraan dari luar daerah otomatis menghambat distribusi barang yang bisa menyebabkan kelangkaan dan inflasi,” ulasnya.

PPKM darurat selama 3–20 Juli nanti pun dia prediksi akan berimbas pada inflasi dan daya beli. Sebab, masyarakat lebih fokus belanja bahan makanan pokok. Mereka cenderung tak berpikir membeli bahan-bahan yang tak penting.

Meningkatnya konsumsi terhadap kebutuhan bahan pangan pokok inilah yang berpotensi memicu inflasi. Apalagi bila terjadi ekspektasi terhadap ketakutan terjadi kelangkaan produk.

Kondisi itulah yang dikhawatirkan. Nantinya kalau terjadi inflasi Juli ada kekhawatiran lantaran pendapatan masyarakat berkurang selama pandemi. Dalam kondisi penghasilan minim, mereka justru harus menghadapi inflasi. “Saya malah khawatir ini akan menggerus daya beli masyarakat,” imbuh Adi.

Meski demikian, dia mengatakan, pihaknya akan terus memantau aktivitas pasar. Termasuk tingkat kesadaran masyarakat terhadap PPKM yang nanti juga akan berpengaruh. “Kita coba lihat besok mulai Senin (hari ini, Red),” ujarnya.

Dari rilis BPS (2/7) tentang inflasi Juni di Kota Kediri menyebut, ada tiga kewaspadaan untuk Juli ini. Yakni pertumbuhan penderita Covid-19 yang cukup mengkhawatirkan dan kemungkinan berimbas pada daya beli dan aktivitas pasar.

Selanjutnya, kenaikan cukai rokok per 1 Februari 2021 akan berimbas terhadap harga rokok setiap bulannya. Termasuk kewaspadaan gagal panen serta jalur distribusi barang kebutuhan pangan yang terpengaruh peralihan musim. (wi/ndr)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news