Rabu, 28 Jul 2021
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Jual Lutung, Suami Istri Asal Pesantren Dituntut Hukuman Penjara

22 Juni 2021, 10: 00: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

jual satwa dilindungi

HADAPI TUNTUTAN: Vald Prediksi dan Nuril Khamida jalani sidang. (Ilmidza Amalia Nadzira – radar kediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri –  Vald Prediksi, 30, dan Nuril Khamida, 57, pasangan suami istri (pasutri) terdakwa jual beli satwa dilindungi, dituntut hukuman berbeda. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sigit Artantojati menuntut Vald, 1 tahun 6 bulan (1,5 tahun) penjara. Sedangkan istrinya dituntut delapan bulan bui.

Tak hanya itu, pasutri asal Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren tersebut juga dikenai denda Rp 5 juta subsider 3 bulan kurungan. JPU mendakwa keduanya melanggar pasal 40 ayat 2 juncto pasal 21 ayat 2a UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Menurut Sigit, kasus ini terkuak saat anggota Polda Jatim bernama Sigit Mujiyanto mengetahui akun media sosial Facebook (FB) atas nama ENNOAREKBONEK 1927 menawarkan penjualan satwa dilindungi berupa lutung. “Lalu saksi (Sigit Mujiyanto) bersama tim ditreskrimsus Polda Jatim menyelidiki dan diketahui akun tersebut milik terdakwa Vald yang tinggal bersama istrinya di Permata Biru Blok D, Kelurahan Pakunden,” ujarnya.

Baca juga: Komplotan Pencuri Baterai Tower Antarkota Diadili di PN Kediri

Dalam penggeledahan di rumah Vald, polisi mendapati seekor elang brontok dan delapan lutung budeng. Selain itu, barang bukti HP dan buku tabungan atas nama Nuril diamankan ke Polda Jatim.

“Hasil penyidikan, dua terdakwa membeli melalui akun FB KIMOCHI PET. Harganya Rp 850 ribu. Uang ditransfer ke rekening BCA atas nama Mohammad Agung Prasetyo yang saat ini masih berstatus DPO (buronan),” urai Sigit.

Dia menambahkan, hewan dilindungi yang dibeli ternyata dijual kembali. Indikasinya, dari jejak digital postingan akun terdakwa yang menawarkan satwa itu ke grup Pencinta Hewan Kediri, Forum Satwa dan Pecinta Hewan Tulungagung.

Menanggapi tuntutan JPU, majelis hakim yang diketuai Hendra Pramono memberi kesempatan terdakwa menanggapi. “Kami ajukan banding Yang Mulia,” ujar Danan Prambandaru, penasihat hukum (PH) terdakwa.

Dia keberatan dengan tuntutan. JPU dinilainya tidak adil. Menurut Danan, fakta-fakta di persidangan menunjukkan banyak alat bukti direkayasa penyidik Polda Jatim. “Mereka mengatakan penangkapan berawal dari bukti postingan di akun terdakwa. Namun ketika kami tantang untuk membuka akun FB terdakwa, mereka mengatakan akunnya telah dihapus,” papar Danan.

Padahal terdakwa merasa tidak pernah menghapus akun FB-nya. Saat ditangkap, HP-nya sudah disita polisi. Begitu juga buku tabungan. “Ketika dicek mutasi juga tidak ada bukti pembayaran. Ini artinya banyak alat bukti yang direkayasa,” ulasnya. (ica/ndr)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news