Rabu, 28 Jul 2021
radarkediri
Home > PERSIK KEDIRI
icon featured
PERSIK KEDIRI

Kisah Para Legenda Persik Kediri Menjalani Masa Pensiun Main Bola

Bikin Sambal Tumpang

13 Juni 2021, 20: 44: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

Wahyudi persik

PERAN GANDA: Wahyudi mengaduk adonan bahan sambal tumpang di warungnya. (Anwar Bahar Basalamah - Radar Kediri)

Share this          

Wahyudi, Johan Prasetyo, dan Musikan tak bisa jauh dari dunia yang membesarkannya itu. Sembari bekerja di bidang lain, ketiganya tetap aktif sebagai pelatih.

Wahyudi dan Johan Prasetyo pernah membawa kejayaan Persik Kediri di musim 2003 dan 2006. Keduanya masuk generasi emas Macan Putih. Di era kepelatihan Jaya Hartono dan Daniel Rukito. Momen istimewa itulah yang menjadikan keduanya dikenang hingga sekarang.

Johan sebenarnya lebih muda empat tahun dari Wahyudi. Akan tetapi karirnya di lapangan hijau justru berakhir lebih cepat. Cedera yang membekapnya pada 2006 membuat pria kelahiran Semarang, 7 Juni 1982 itu terpaksa gantung sepatu setahun berikutnya. Padahal, saat itu usianya masih tergolong muda, 25 tahun.

Baca juga: Siapa pun Bisa Pergi, Kecuali...

Johan prasetyo

SERIUS: Johan Prasetyo menjalani rutinitas sebagai ASN di pagi hari. (Anwar Bahar Basalamah - Radar Kediri)

Cerita perjalanan karir Wahyudi berbeda lagi. Sejak 1999, dia sudah berseragam Persik Kediri. Sebelum akhirnya pensiun pada 2016. Di ujung karirnya, pria kelahiran 4 April 1978 itu sempat merangkap menjadi pemain dan pelatih. Dia kemudian menutup karir di klub kebanggaan warga Kediri ini.

Kini, keduanya dipertemukan lagi di Persik.  Hanya tugasnya yang berbeda. Johan bertugas sebagai asisten pelatih kepala, sementara Wahyudi ditunjuk jadi asisten pelatih kiper. Mereka bersama sejak 2018. Saat Persik mentas dari Liga 3 sampai promosi ke Liga 1 2020. 

Di luar aktivitas di Persik, keduanya punya kesibukan lain. Sejak 2004, Johan sudah diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Kediri. Adapun Wahyudi membuka warung nasi pecel tumpang bersama sang istri di rumahnya, Jalan Botolengket, Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto. 

"Saya sendiri yang meracik sambal tumpangnya," suluk Wahyudi tersenyum.

Wahyudi berbagi tugas dengan Ifa Ekti Wahyuni, istrinya. Di saat sang istri berdinas di kantor Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kota Kediri pagi hari, Wahyudi sibuk di dapur. “Pagi belanja. Siang jam 12.00 mulai meracik sambal tumpang,” ungkap bapak dua anak ini.

Dia harus berkejaran dengan waktu. Sebab, sekitar pukul 16.00, warung harus segera dibuka. Sementara pukul 15.30, Wahyudi sudah harus bersiap latihan bersama Persik di Stadion Brawijaya. Makanya, sebelum sang istri pulang, semua masakan sudah tertata di warung. 

“Pokoknya sebelum saya berangkat latihan, semua harus beres. Nanti istri yang menjaga warung setelah pulang kantor,” ucapnya.

Selain melatih Persik Kediri, Wahyudi juga berbagi ilmu dengan anak-anak sekolah sepak bola (SSB) di Kelurahan Dermo, Kecamatan Mojoroto. Jadwalnya Selasa, Kamis, dan Sabtu. Agar tidak bentrok dengan Persik, latihan di SSB dimulai pukul 14.00 sampai 15.00.

Sementara Johan yang bekerja sebagai ASN, pagi harinya disibukkan di seksi keuangan kantor DPKAD Kota Kediri. Sore hari, setelah pulang kantor, bapak satu putra ini langsung menuju stadion untuk berlatih. 

“Itu rutinitas saya hampir setiap hari,” ujarnya.

Sebenarnya, setelah memutuskan gantung sepatu, pelatih yang kini memiliki lisensi B AFC ini juga melatih SSB. Bahkan, dia sempat mendirikan SSB yang diberi nama JP Football Academy. Namun, karena kesibukannya di pemkot dan Persik, SSB-nya tak terurus.

Saat ini Johan memilih fokus menjadi asisten pelatih Persik terlebih dulu. Ke depan, dia ingin meningkatkan lisensinya menjadi A AFC. 

“Pasti ada keinginan ke sana. Apalagi standar kepelatihan setiap tahun semakin tinggi,” ungkap Johan. (baz/fud) 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news