Minggu, 20 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Cici Tricahya R.A, Dai Cilik Ngadiluwih Sukses di Tingkat Nasional

Selipkan Lagu dan Guyonan saat Ceramah

11 Juni 2021, 15: 36: 28 WIB | editor : Adi Nugroho

cici dai cilik

MEMBANGGAKAN: Cici Tricahya menunjukkan piagam penghargaan dai cilik tingkat nasional yang diraihnya. Total ada puluhan piala yang diraihnya selama tiga tahun terakhir. (Ilmidza Amalia Nadzira – radar kediri)

Share this          

Pandemi Covid-19 tak menghalangi Cici Tricahya Ratu Anggraini melakukan ceramah. Jika sebelumnya dia bisa langsung bertemu jamaah, dai cilik asal Dusun Setono, Desa Tales, Ngadiluwih itu kini memberikan tausiyah lewat kanal Youtube-nya.


ILMIDZA AMALIA NADZIRA, NGADILUWIH.  JP Radar Kediri

Baca juga: Kasus Korupsi Jembatan Brawijaya: Saksi Sebut Ada Aliran Uang ke Dewan

“Awalnya grogi juga. Mengucap salam saja keliru sampai tiga kali. Assalam…Assalam…Assalam,” kenang Cici Tricahya Ratu Anggraini akan penampilan perdananya di lomba pidato cilik tiga tahun silam.

          Gadis berusia 12 tahun itu mulai akrab dengan lomba pidato agama atau tausiyah sejak berusia sembilan tahun. Adalah Siti Sholikah, sang ibu, yang terus memberi dukungan agar Cici, sapaan akran Cici Tricahya Ratu Anggraini, menekuni dunia dakwah itu.

          Belajar pada kesalahan di penampilan perdananya, bocah yang memakai baju merah marun tersebut berusaha memperbaikinya. Selain berlatih, dia selalu berdoa untuk mengusir grogi di awal tampil.

          Hasilnya, jika saat mengikuti lomba di tingkat kecamatan itu dia masih kurang lancar, di puluhan lomba lainnya Cici bisa tampil memukau. Puluhan penghargaan mulai tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional pun berhasil diraihnya.

          Hingga saat ini total ada 20 penghargaan yang berhasil diraih Cici. Lima di antaranya lomba tingkat nasional. Dari puluhan ajang yang diikuti, Festival Anak Sholeh Nusantara yang diikutinya pada 2020 lalu adalah yang paling berkesan. Dengan tema Anak yang Patuh kepada Orang Tua, Cici harus menghadapi peserta perwakilan dari puluhan provinsi di Indonesia.

          Kepercayaan dirinya dan kepiawaiannya dalam berceramah membuahkan prestasi membanggakan. Dia dinobatkan sebagai juara I dengan nilai 88,88. “Saya harus menghafal naskah sekitar satu minggu,” urai Cici tentang persiapannya kala itu.

Jam terbangnya dalam berbagai lomba memang benar-benar mengasah keterampilannya. Dari beberapa video yang diunggah di akun Youtube-nya, kini Cici bisa melakukan ceramah layaknya dai profesional.

          Dalam setiap penampilannya, Cici tak melulu ceramah. Melainkan, menyelipkan nyayian hingga guyonan untuk menghibur jamaah. “Biar jamaah tidak bosan. Suasanya biar hidup,” lanjut gadis yang sekarang duduk di bangku kelas VI, SDN Tales 2, Ngadiluwih itu, saat ditemui di rumahnya Rabu (9/6) lalu.

          Bagaimana Cici bisa menyukai dunia dakwah? Meski awalnya dikenalkan oleh sang ibu, Cici mengaku tidak mendapat paksaan dari orang tuanya. Jika awalnya masih belajar, belakangan dia suka berceramah. Bahkan kini menjadi hobi putri pasangan Siti Sholikah dan Syaifudin itu.

          Menanggapi prestasi yang berhasil diraih Cici, Sholikah yang Rabu lalu mendampingi gadis manis itu mengaku bangga. Apalagi, Cici tidak hanya mengikuti lomba ceramah yang khusus anak-anak. “Beberapa lomba, diikuti oleh usia remaja mulai dari umur 17 – 25 tahun,” sambung Sholikah.

Bukannya keder, Cici tetap saja tampil percaya diri. Hasilnya, dia tetap bisa mengukir prestasi melawan peserta yang usianya jauh diatas dirinya. Keterampilan yang dimiliki bungsu dari tiga bersaudara itu tak lepas dari tempaan Sholikah.

Begitu melihat bakat putrinya sejak kecil, dia bertekad untuk mengasahnya. Salah satunya, mengajarkan retorika saat Cici duduk di bangku kelas 3 SD. Selebihnya, Cici menjadikan lomba sebagai ajang belajar.   

Setiap mendapat komentar juri, dia selalu memperbaikinya. Tak hanya komentar untuk dirinya, komentar juri untuk peserta lain juga jadi pelajaran. Pun demikian kekurangan peserta lain saat tampil. “Jadi saya bisa tahu harus begini ketika tampil. Yang sekiranya beda dengan peserta dai yang lain,” sahut Cici lagi.

Menyelipkan lagu di tengah-tengah ceramah hingga guyonan di akhir ceramah itu juga hasil ‘belajar’ dari beberapa lomba. Hasilnya tak mengecewakan, juri dan penonton bisa tertawa. Hal tersebut juga jadi nilai plus saat dirinya mengikuti lomba. 

 Selain terus berlatih ceramah, saat ini Cici juga belajar menyanyi. Dengan suara yang merdu, dia pernah diajak rekaman lagu islami oleh rumah produksi Happy Asmara. Lengkap dengan video klipnya.

Di luar lomba dai cilik, Cici juga sukses menorehkan prestasi di beberapa bidang lain. Mulai menyanyi, membaca puisi, dan geguritan. “Yang paling saya sukai tetap lomba ceramah agama,” bebernya.

Apakah sampai dewasa nanti Cici tetap ingin menjadi dai? Rupanya dia masih memiliki impian lain yang akan terus dikejar. Yakni, ingin menjadi guru. Profesi itu menurutnya bisa dilakoni bebarengan dengan menjadi penceramah agama. “Ya bisa mengajar, ya tetap bisa ceramah,” alasannya sederhana. (ut)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news