Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Dikejar Satpol, Risiko Tertabrak, Ini Alasan PKL SLG Kediri Bertahan

10 Juni 2021, 12: 50: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

pedagang simpang lima gumul

PENERTIBAN: Petugas satpol PP mengusir para pedagang kaki lima yang nekat berjualan di tepi jalan kawasan Monumen SLG (6/6). (Iqbal Syahroni - radar kediri)

Share this          

Kenekatan pedagang kaki lima ini berbuah risiko besar. Nyawanya terancam tertabrak kendaraan yang melaju  kencang, juga selalu dikejar-kejar satpol PP. Risiko itu mereka terjang demi sesuap nasi.

Sepeda motor Yamaha Mio warna merah lengkap dengan obrok-tempat berjualan-dari kayu itu terparkir di tepi jalan di dekat Monumen Simpang Lima Gumul (SLG). Jagrak – standar tengahnya – yang menopang kendaraan penjaja makanan dan minuman itu. Si pemilik, perempuan bernama Umi, berdiri di dekatnya. Menunggu pembeli datang.

Melihat posisi berjualannya, Umi tergolong menantang bahaya. Kendaraannya itu ditempatkan tak jauh dari tikungan yang menuju arah Pamenang. Padahal semua kendaraan yang melintas selalu berkecepatan tinggi.

Baca juga: Permainan Meningkat, Persik Masih Butuh Tambahan Pemain di Posisi Ini

“Kendaraan (melaju) kencang-kencang, takut sebenarnya. Tapi bagaimana lagi,” aku perempuan berkacamata ini.

Umi tidak sendirian dalam menantang bahaya ini. Ada sekitar lima pedagang lagi di tempat itu. Posisi mereka berderet sepanjang sisi barat jalan. Bila hari libur, jumlahnya akan kian banyak. Mencapai belasan PKL.

Terlanggar kendaraan bukan satu-satunya risiko bagi para PKL itu. Ada lagi yang justru rutin mereka hadapi. Selalu diobrak petugas satpol PP. Wajar, selain berbahaya lokasi itu memang area terlarang bagi mereka.

“Saya menyadari kalau memang tidak boleh (berjualan),” aku perempuan 58 tahun ini.

Meskipun demikian Umi, dan sejawatnya sesama PKL, tetap saja nekat. Dikejar-kejar satpol PP bukan masalah bagi mereka. Pemicunya adalah pendapatan berjualan di situ termasuk lumayan. Apalagi ketika Pasar Tugu –lokasi PKL di area Monumen SLG – ditutup sejak masa pandemi.

Sebab lain Umi nekat berjualan di tempat berbahaya itu karena situasinya yang ramai. Meskipun kawasan ini masih tutup, banyak wisatawan yang tetap nekat datang. Mereka rata-rata memarkir kendaraannya juga di area tersebut. “Banyak pengunjung yang berhenti, bahkan sampai istirahat, tidak ditertibkan,” dalihnya.

Selain sebagai dalih, banyaknya wisatawan nekat itu juga menjadi berkah bagi para pedagang. Mereka merupakan konsumen yang melariskan dagangannya. Itulah mengapa mereka tak kapok meskipun selalu dikejar-kejar petugas trantib.

Umi berkilah, kalau saja pengunjung dadakan itu dilarang, dia bersama pedagang lainnya tak akan berjualan di lokasi tersebut. Tapi, bila sebaliknya, bila tetap seperti itu mereka akan tetap berdagang. Bahkan, semakin lama semakin banyak saja jumlahnya.

Baginya, para pedagang tak boleh selalu disalahkan. Petugas harus tegas pada pengunjung. Kalau perlu tempat itu diberi portal agar kendaraan wisatawan tak bisa parkir.

“Kalau parkir sampai mengular. Semakin sore semakin banyak. Demikian pula pedagangnya. Ini persis pasar malam,” terangnya.

Bila sudah seperti itu, satpol PP akan berdatangan. “Mereka foto dulu beberapa menit, kemudian kami diusir,” tambahnya.

Umi adalah salah satu pedagang di Pasar Tugu yang terpaksa menjadi pedagang keliling sejak penutupan kawasan ini. Meskipun harus menantang maut itu, pendapatannya jauh berkurang bila dibandingkan saat di Pasar Tugu. Misalnya hingga siang itu, di kantongnya baru ada Rp 30 ribu. Padahal waktu di Pasar Tugu dalam sehari dia bisa mendapatkan Rp 300 ribu.

Para pedagang menyukai berjualan di tepi jalan itu karena tergolong cepat mendatangkan pembeli. Pengunjung yang turun dan melihat-lihat kemungkinan besar akan membeli dagangannya. Berbeda ketika di Pasar Tugu, banyak yang hanya sekadar lihat-lihat. Apalagi jumlah pedagannya juga banyak saat itu.

Alasan itulah yang membuat Umi tetap bertahan berjualan di lokasi terlarang. Meskipun satpol PP nyaris tiap hari melakukan razia para pedagang ini tak juga kapok. Apalagi dia bisa mengawasi kedatangan petugas penegak perda itu.

“Saat satpol PP memutar saya langsung bergegas pergi,” akunya.

Munculnya sikap seperti yang ditunjukkan Umi itu terjadi sejak Maret tahun lalu. Setelah kawasan Monumen SLG ditutup untuk wisatawan. Penutupan itu tentu berimbas pada Pasar Tugu, tempat PKL berjualan selama ini. Mereka pun tak memiliki tempat berjualan. Padahal jumlahnya ratusan pedagang.

Pedagang yang terimbas itu akhirnya mencari lokasi berjualan sendiri-sendiri. Seperti di jalur menuju Pamenang itu, setiap hari ada belasan yang mangkal. Jumlah itu akan semakin banyak ketika hari libur, Sabtu dan Minggu. (wi/fud)

(rk/syi/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news